![]() |
| Ilustrasi AI |
Sabah – Hubungan akademik lintas negara di kawasan
Asia Tenggara kian erat melalui inisiatif kolaborasi strategis dalam dunia
pendidikan tinggi. Langkah nyata ini ditunjukkan oleh delegasi dari rumpun ilmu
sosial salah satu universitas terkemuka di Negeri Jiran, Universitas Malaysia
Sabah (UMS). Melalui Fakultas Ilmu Sosial dan Kemanusiaan, instansi tersebut
melakukan kunjungan resmi ke Program Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
(PIPS) Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Universitas Pendidikan
Indonesia (UPI) di Bandung, Jawa Barat.
Pertemuan bilateral yang berlangsung di Gedung Nu'man
Soemantri ini mengusung misi besar bertajuk “Tentatif Program Pengukuhan
Kompetensi Pengantar Kebangsaan Staf Pentadbiran”. Agenda utama dari
kunjungan kerja ini adalah penandatanganan kesepakatan kemitraan internasional
(Letter of Intent) yang diproyeksikan mampu mendongkrak capaian
indikator kinerja utama serta memperkokoh rekognisi global bagi kedua belah
pihak di kancah pendidikan tinggi internasional.
Fokus pada Integritas, Tata Kelola, dan Komparasi Kurikulum
Salah satu poin dialog yang menarik perhatian dalam
pertemuan ini adalah pembahasan mengenai penguatan karakter dan tata kelola
yang bersih pada ekosistem kampus. Pihak delegasi Malaysia memaparkan penerapan
materi khusus bertajuk “Kursus Integrity dan Anti-Rasuah” yang
diintegrasikan ke dalam sistem perkuliahan wajib bagi mahasiswa di sana.
Kurikulum penanaman nilai antikorupsi tersebut turut melibatkan langsung pakar
kepakaran dari Suruhanjaya Pencegahan Rasuah Malaysia (SPRM).
Melalui penjajakan kerja sama ini, ke depan kedua institusi
berpeluang besar saling bertukar perspektif mengenai bagaimana pendidikan
nilai, hukum, dan kebangsaan diimplementasikan dalam struktur kurikulum IPS di
Indonesia. Pengalaman empiris Indonesia dalam mengintegrasikan nilai-nilai
Pancasila dan antikorupsi ke dalam studi sosial di tingkat sekolah maupun
perguruan tinggi diyakini menjadi modalitas yang kaya untuk didiskusikan
bersama secara akademis.
Jajaran pimpinan fakultas tuan rumah menyambut hangat
inisiatif kemitraan komprehensif ini. Kesiapan infrastruktur akademik
ditekankan melalui ketersediaan kluster program studi yang variatif di
lingkungan FPIPS, mulai dari jenjang diploma, belasan program sarjana, hingga
program magister dan doktor. Kerja sama ini dinilai membuka peluang pencapaian
prestasi baru yang lebih akseleratif bagi tata pamong, dosen, maupun para
mahasiswa.
Mengoptimalkan Indikator Kinerja Utama Perguruan Tinggi
Kerja sama internasional jangka panjang ini dirancang tidak
hanya sebagai seremonial di atas kertas, melainkan menyasar pada pemenuhan
target-target kinerja institusi yang terukur. Setidaknya ada 24 Indikator
Kinerja Utama (IKU/KPI) yang menjadi parameter mutu universitas tuan rumah.
Dari puluhan indikator tersebut, fokus kemitraan ini akan dititikberatkan pada
luaran hasil kerja sama antarperguruan tinggi bereputasi, peningkatan kuantitas
jurnal dan publikasi ilmiah bereputasi global, serta program pengembangan
kapasitas dosen agar mendapatkan pengakuan atau rekognisi di level
internasional.
Sebagai instrumen langkah awal (starting point),
penyusunan dokumen kesepakatan tertulis dilakukan guna memetakan prioritas aksi
nyata yang akan segera dieksekusi bersama. Beberapa rencana aksi yang sudah
masuk dalam radar agenda terdekat di antaranya mencakup penyelenggaraan seminar
internasional berskala besar yang melibatkan kemitraan dengan institusi dari
Korea Selatan, serta pelaksanaan kuliah dosen tamu (guest lecture)
secara daring untuk mengajar mahasiswa di kampus Sabah.
Tantangan bagi para akademisi, khususnya dosen yang tengah
memproyeksikan diri menuju gelar profesor, adalah tuntutan publikasi riset
ilmiah tingkat dunia. Melalui wadah kolaborasi ini, peluang melakukan
penelitian bersama (joint research) lintas batas wilayah menjadi terbuka
lebar, sekaligus mempermudah akses pengumpulan data komparatif sosiologis
antar-negara serumpun.
Pengembangan Program Mobility dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
Dari perspektif pengembangan kompetensi mahasiswa, komitmen
perluasan jejaring akademik luar negeri ini secara bertahap menyasar kawasan
Asia, termasuk Filipina, Thailand, Malaysia, hingga Jepang. Pengembangan skema
mobilitas dosen (lecturer mobility) dan mobilitas mahasiswa (student
mobility) menjadi program unggulan yang dinilai sangat prospektif.
Kawasan Sabah di Malaysia Timur dinilai memiliki
karakteristik geografis dan sosio-kultural unik yang belum banyak dieksplorasi
secara mendalam oleh mahasiswa maupun peneliti studi sosial dari Indonesia.
Melalui program pertukaran ini, diharapkan mahasiswa dari kedua negara dapat
saling bertukar tempat untuk menimba ilmu, memahami keberagaman budaya lokal,
serta memperluas cakrawala berpikir global. Skema ini didukung oleh
fleksibilitas sistem perkuliahan di program magister maupun doktor yang
menyediakan jalur kombinasi berbasis perkuliahan (coursework) maupun
riset murni.
Di sisi lain, implementasi kemitraan lintas batas ini
sejalan dengan komitmen global dalam mewujudkan Tujuan Pembangunan
Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya pada
pilar ke-4 mengenai Pendidikan Berkualitas (Quality Education) dan pilar
ke-17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (Partnerships for the Goals).
Kolaborasi ini membuktikan bahwa peningkatan mutu pengajaran, riset berskala
global, dan pemenuhan standar tata kelola pendidikan modern hanya dapat dicapai
secara optimal melalui sinergi, keterbukaan, serta komitmen kerja sama yang
nyata dan konsisten antara institusi pendidikan tinggi global.







