Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Kalbar Dorong Ekonomi Hijau Berkelanjutan Lewat Kolaborasi Multipihak

 

Ilustrasi AI

Pontianak – Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) semakin serius mendorong ekonomi hijau sebagai fondasi pembangunan daerah yang berkelanjutan. Melalui kolaborasi multipihak, pemerintah provinsi berupaya mempercepat pencapaian target nasional Indonesia’s FOLU Net Sink 2030, yaitu penurunan emisi karbon dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya hingga mencapai net sink pada 2030.

Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, menegaskan komitmen kuat daerahnya dalam forum nasional. “Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat berkomitmen mendorong kepemimpinan kolaboratif dalam ekonomi hijau berkelanjutan untuk mempercepat pencapaian target FOLU Net Sink 2030,” ujarnya, seperti dikutip dalam webinar nasional yang digelar Dewan Kehutanan Nasional (DKN) pada awal April 2026.

Webinar bertajuk “Penguatan Kolaborasi Multipihak dalam Ekonomi Hijau” tersebut berlangsung secara hybrid dan menjadikan Kalbar sebagai studi kasus. Acara ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, pelaku usaha, akademisi, hingga masyarakat sipil. Tujuannya jelas: membangun ekosistem kepemimpinan inklusif untuk pengelolaan hutan lestari di Kalimantan Barat.

Kalbar memang memiliki modal alam yang sangat besar. Provinsi ini memiliki kawasan hutan seluas 8,4 juta hektare, mencakup sekitar 57 persen dari total wilayahnya. Selain itu, 59 persen desa di Kalbar berada di dalam dan sekitar kawasan hutan. Kondisi ini menjadikan kelestarian hutan bukan hanya tanggung jawab lingkungan, melainkan juga fondasi utama pembangunan ekonomi daerah sekaligus kontribusi terhadap stabilitas iklim global.

Ria Norsan menekankan pentingnya sinergi antarpihak. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci untuk menciptakan kebijakan ekonomi hijau yang inklusif. Pendekatan ini diharapkan mampu menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi, peningkatan kesejahteraan masyarakat, dan pelestarian lingkungan hidup.

Sektor kehutanan menjadi tulang punggung utama dalam strategi ini. Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari Kementerian Kehutanan, Erwan Sudaryanto, menjelaskan bahwa target FOLU Net Sink 2030 memberikan ruang optimalisasi pengelolaan hutan. “Termasuk melalui peluang ekonomi dari pasar karbon dan hilirisasi,” tambahnya.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), Soewarso, juga memberikan perspektif dari sisi pelaku usaha. Ia menyatakan bahwa pendekatan berbasis lanskap melalui multiusaha kehutanan dapat memperkuat kontribusi sektor ini terhadap perekonomian nasional sekaligus mendukung target FOLU Net Sink 2030. Multiusaha kehutanan mencakup pemanfaatan hasil hutan kayu, non-kayu, serta jasa lingkungan dalam satu sistem terintegrasi yang efisien dan diversifikasi usaha.

Berbagai program konkret telah dirancang di Kalbar untuk mewujudkan visi ekonomi hijau ini. Di antaranya pencegahan deforestasi, pembangunan hutan tanaman industri, peningkatan cadangan karbon, restorasi gambut, pengelolaan mangrove, pemanfaatan pasar karbon, hingga hilirisasi produk kehutanan. Hilirisasi diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri dan membuka peluang ekonomi baru berbasis bioekonomi.

Arah kebijakan Kalbar ini sejalan dengan misi pembangunan daerah, yaitu meningkatkan kualitas lingkungan hidup melalui pendekatan ekonomi hijau. Fokus utamanya adalah memperkuat kemampuan sektor kehutanan dan penggunaan lahan dalam menyerap emisi karbon, menarik investasi rendah karbon, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan.

Para peserta webinar menyepakati bahwa kolaborasi multipihak menjadi sangat krusial. Tanpa sinergi yang solid, sulit bagi daerah untuk mencapai keseimbangan antara eksploitasi sumber daya alam dan keberlanjutan jangka panjang. Kepemimpinan kolaboratif diharapkan dapat menghasilkan kebijakan yang lebih adaptif dan berdampak luas.

Dalam konteks nasional, Kalbar kini menjadi salah satu daerah yang dijadikan contoh dalam penguatan ekonomi hijau. Dengan luas hutan yang signifikan dan ketergantungan masyarakat terhadap kawasan hutan, provinsi ini memiliki posisi strategis untuk berkontribusi besar terhadap target nasional penurunan emisi.

Erwan Sudaryanto menambahkan bahwa optimalisasi pengelolaan hutan dan lahan secara berkelanjutan akan memberikan manfaat ganda: menjaga kelestarian alam sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru. Pasar karbon, misalnya, menjadi salah satu instrumen yang potensial untuk mendatangkan pendapatan bagi daerah dan masyarakat.

Sementara itu, Soewarso dari APHI menyoroti pentingnya transformasi sektor kehutanan. Menurutnya, pendekatan multiusaha tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga membuka diversifikasi pendapatan bagi perusahaan hutan dan masyarakat sekitar. Hal ini sekaligus mendukung upaya pengurangan emisi tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi.

Bagi masyarakat Kalbar, khususnya yang tinggal di sekitar kawasan hutan, ekonomi hijau diharapkan membawa dampak nyata. Mulai dari peningkatan pendapatan melalui usaha berbasis hasil hutan non-kayu, partisipasi dalam program restorasi, hingga manfaat jangka panjang dari lingkungan yang lebih sehat dan produktif.

Pemerintah Provinsi Kalbar terus mendorong agar kolaborasi ini tidak berhenti pada diskusi semata. Implementasi di lapangan menjadi prioritas, termasuk melibatkan desa-desa hutan secara aktif dalam pengelolaan berkelanjutan. Dengan demikian, pembangunan di Kalbar tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi juga ramah lingkungan dan berkeadilan sosial.

Komitmen ini semakin relevan di tengah tantangan perubahan iklim global. Kalimantan Barat, dengan hutan tropisnya yang luas, memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan karbon dunia. Melalui ekonomi hijau, provinsi ini berupaya mengubah potensi alam menjadi kekuatan ekonomi masa depan tanpa merusak ekosistem.

Webinar DKN ini menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen bersama. Berbagai pihak kini diharapkan dapat melanjutkan kolaborasi ini ke tahap yang lebih konkret, mulai dari perumusan kebijakan hingga pelaksanaan program di lapangan.

Dengan semangat kepemimpinan kolaboratif yang digaungkan Gubernur Ria Norsan, Kalimantan Barat optimistis dapat menjadi salah satu provinsi pionir dalam mewujudkan ekonomi hijau berkelanjutan di Indonesia. Langkah ini tidak hanya mendukung target nasional FOLU Net Sink 2030, tetapi juga membuka jalan bagi pembangunan daerah yang lebih inklusif, hijau, dan tangguh menghadapi masa depan.

 

Also Read
Latest News
  • Kalbar Dorong Ekonomi Hijau Berkelanjutan Lewat Kolaborasi Multipihak
  • Kalbar Dorong Ekonomi Hijau Berkelanjutan Lewat Kolaborasi Multipihak
  • Kalbar Dorong Ekonomi Hijau Berkelanjutan Lewat Kolaborasi Multipihak
  • Kalbar Dorong Ekonomi Hijau Berkelanjutan Lewat Kolaborasi Multipihak
  • Kalbar Dorong Ekonomi Hijau Berkelanjutan Lewat Kolaborasi Multipihak
  • Kalbar Dorong Ekonomi Hijau Berkelanjutan Lewat Kolaborasi Multipihak
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad