Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Warga Pontianak Keluhkan Tekanan Air PDAM Lemah, DPRD Kalbar Minta Perbaikan Layanan Distribusi

 

Ilustrasi AI

PONTIANAK — Warga Kota Pontianak semakin vokal menyampaikan keluhan terkait tekanan air PDAM Tirta Khatulistiwa Pontianak yang dinilai masih lemah dan belum memenuhi harapan masyarakat di sejumlah wilayah. Keluhan ini muncul saat anggota Zulfydar Zaidar Mochtar melakukan reses bersama masyarakat pada Sabtu malam (14/2), dan menjadi sorotan serius oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kalimantan Barat yang menekankan pentingnya peningkatan layanan distribusi air bersih oleh PDAM setempat.

Keluhan masyarakat Pontianak mencakup sejumlah kawasan, termasuk di Perum, daerah Kesultanan, hingga Tanjung Hulu, dimana tekanan air dari keran pelanggan sering terasa kurang kuat. Hal ini menyebabkan warga kesulitan memenuhi kebutuhan harian seperti mandi, mencuci, dan memasak, terutama di jam-jam sibuk.

Menurut para warga yang menyampaikan aspirasi, kondisi tekanan air yang lemah sudah berlangsung sejak beberapa waktu belakangan. Tidak jarang, air hanya mengalir sembari menunggu waktu lama, atau bahkan tidak cukup deras untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Situasi ini terutama dirasakan oleh penghuni rumah susun atau hunian bertingkat, yang secara alami membutuhkan distribusi air lebih stabil.


Keluhan Warga dan Tuntutan DPRD

Dalam agenda reses tersebut, Zulfydar menyampaikan bahwa keluhan soal layanan PDAM merupakan salah satu yang paling banyak diterima selain persoalan infrastruktur dan sosial lainnya. Menanggapi aspirasi tersebut, DPRD Kalbar meminta PDAM Tirta Khatulistiwa Pontianak untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap distribusi air bersih dan memperbaiki sistem yang selama ini belum optimal.

Zulfydar mengatakan bahwa warga membutuhkan pelayanan yang lebih baik dan stabil, mengingat air bersih merupakan kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi secara konsisten oleh lembaga penyedia layanan. Ia menambahkan bahwa DPRD akan mendorong kajian teknis yang mendalam agar persoalan tekanan air ini bisa diatasi dengan rencana jangka panjang, bukan sekadar perbaikan sementara.

Permasalahan serupa bukan satu-dua kali terjadi di Kalbar maupun wilayah lainnya. Di masa lalu, gangguan distribusi air juga menimbulkan keluhan dari warga ketika air PDAM di wilayah lain berhenti mengalir tanpa pemberitahuan, mendorong masyarakat yang sangat bergantung pada layanan ini mengalami kesulitan signifikan dalam aktivitas sehari-hari.


Tantangan Layanan Air PDAM di Pontianak

Permasalahan tekanan air rendah di Pontianak muncul meskipun Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa telah lama beroperasi untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga. Sebelumnya, catatan pemerintah daerah menunjukkan bahwa layanan air bersih kota telah mencapai puluhan ribu sambungan pelanggan, namun tantangan distribusi tetap ada terutama di area yang padat penduduk atau jaringan pipa yang sudah tua dan perlu pembaruan.

Distribusi air bersih menjadi tantangan tersendiri di sejumlah daerah di Indonesia, karena infrastruktur perpipaan sering kali tak mampu mengakomodasi pertumbuhan penduduk dan tekanan permintaan yang meningkat. Kondisi ini memerlukan investasi infrastruktur yang cukup besar dan perencanaan teknis yang matang agar air yang sampai ke rumah pelanggan memiliki tekanan dan kualitas yang sesuai standar layanan air minum.

Dalam konteks Pontianak, jumlah sambungan layanan air bersih yang sudah mencapai ratusan ribu seharusnya menjadi modal kuat dalam penyediaan kebutuhan dasar tersebut. Namun, keberhasilan dalam jumlah sambungan tak serta-merta menjamin stabilitas tekanan air di seluruh titik distribusi. Ini menunjukkan bahwa perlu ada peningkatan jaringan distribusi, sistem pemompaan, serta monitoring tekanan secara real-time yang memadai.


Harapan Masyarakat dan Respons Pemerintah

Warga Pontianak sendiri berharap agar pemerintah daerah melalui DPRD dan pihak PDAM segera merespons kebutuhan ini dengan langkah konkret. Tidak hanya sekadar perbaikan infrastruktur pipe network atau pemompaan saja, tetapi juga transparansi informasi kepada pelanggan mengenai jadwal gangguan, rencana perbaikan sistem, serta strategi jangka panjang untuk menjamin distribusi air yang merata dan berkualitas.

DPRD Kalbar melalui Zulfydar menyatakan bahwa pihaknya akan menyampaikan aspirasi tersebut kepada pemerintah terkait dan meminta adanya perbaikan layanan distribusi air dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) serta anggaran yang dibahas dalam APBD 2026. Penekanan diberikan agar isu ketahanan air bersih mendapat prioritas dalam pemetaan kebutuhan masyarakat Kota Pontianak.

Kebutuhan perbaikan layanan air bersih juga sejalan dengan upaya pemerintah Kota Pontianak dan Provinsi Kalbar yang dalam beberapa tahun terakhir berupaya memperluas jaringan distribusi serta memperbaiki infrastruktur air minum. Walaupun sudah banyak sambungan yang terpasang, kualitas layanan dalam hal tekanan dan distribusi masih menjadi pekerjaan rumah yang harus dituntaskan.

Dengan latar belakang tersebut, DPRD Kalbar berharap perbaikan layanan distribusi air PDAM Tirta Khatulistiwa Pontianak dapat menjadi fokus prioritas dalam perencanaan pembangunan kota, sehingga aspirasi warga yang selama ini mengeluhkan lemahnya tekanan air bisa terjawab melalui kebijakan dan tindakan nyata.

 

Also Read
Tag:
Latest News
  • Warga Pontianak Keluhkan Tekanan Air PDAM Lemah, DPRD Kalbar Minta Perbaikan Layanan Distribusi
  • Warga Pontianak Keluhkan Tekanan Air PDAM Lemah, DPRD Kalbar Minta Perbaikan Layanan Distribusi
  • Warga Pontianak Keluhkan Tekanan Air PDAM Lemah, DPRD Kalbar Minta Perbaikan Layanan Distribusi
  • Warga Pontianak Keluhkan Tekanan Air PDAM Lemah, DPRD Kalbar Minta Perbaikan Layanan Distribusi
  • Warga Pontianak Keluhkan Tekanan Air PDAM Lemah, DPRD Kalbar Minta Perbaikan Layanan Distribusi
  • Warga Pontianak Keluhkan Tekanan Air PDAM Lemah, DPRD Kalbar Minta Perbaikan Layanan Distribusi
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad