Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Canggih, TPST-1 IKN Gunakan Teknologi Waste-to-Energy, Olah Sampah Jadi Energi Hingga 74 Ton per Hari

 

Ilustrasi AI

IKN 2 Januari 2026 – Di tengah ambisi membangun ibu kota baru yang hijau dan berkelanjutan, Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) telah mengoperasikan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) 1 di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP). Fasilitas ini menjadi salah satu tonggak penting dalam mewujudkan visi IKN sebagai kota hutan berkelanjutan (forest city) dengan pendekatan zero waste to landfill.

TPST-1 tidak sekadar tempat pembuangan sampah biasa. Fasilitas ini mengadopsi teknologi modern waste-to-energy (WTE) yang mengubah sampah menjadi sumber energi baru terbarukan. Dengan kapasitas pengolahan mencapai hingga 74 ton sampah per hari, TPST-1 siap mendukung kebutuhan pengelolaan sampah seiring bertambahnya populasi dan aktivitas di ibu kota baru.

“TPST 1 dirancang untuk menampung dan mengolah sampah yang berasal dari KIPP serta wilayah sekitarnya. Harapannya, sistem pengelolaan ini bisa menjadi contoh bagi kota-kota besar di Indonesia dalam mengelola sampah secara ramah lingkungan,” ujar Harun, Manajer PT Bina Karya yang bertanggung jawab atas operasional dan pemeliharaan (Operation & Maintenance) TPST-1, seperti dikutip pada Rabu (31/12/2025).


Struktur dan Teknologi Utama TPST-1

TPST-1 terdiri dari dua bangunan utama yang saling terintegrasi:

  1. Bangunan Pengolahan Fisika Di tahap ini, sampah yang masuk akan melalui proses pemilahan awal, pemisahan bahan yang dapat didaur ulang, serta pengurangan kadar air. Proses mekanis ini bertujuan memaksimalkan nilai material yang masih bisa dimanfaatkan kembali.
  2. Bangunan Pengolahan Termal Inilah inti dari teknologi waste-to-energy. Sampah yang tidak dapat didaur ulang diolah menggunakan proses termal terkendali dengan suhu tinggi. Hasilnya adalah produksi energi listrik atau panas yang dapat dimanfaatkan kembali, sementara residu yang tersisa jauh lebih kecil volumenya dan lebih aman secara lingkungan.

Kapasitas pengolahan termal fasilitas ini mencapai 2 x 30 ton sampah per hari, sehingga total kapasitas harian mencapai 74 ton jika ditambah proses fisika dan pendukung lainnya. Sistem ini dilengkapi dengan teknologi pengendalian emisi mutakhir untuk memastikan tidak ada polusi udara yang signifikan.

“Teknologi daur ulang sampah menjadi energi ini adalah komitmen nyata IKN untuk mendukung keberlanjutan lingkungan. Sampah yang selama ini dianggap limbah kini bisa menjadi sumber energi bagi kehidupan masyarakat, sekaligus menghadirkan layanan dasar yang andal, ramah lingkungan, dan berkelanjutan,” jelas Alifriyanto, Project Officer Direktorat Pengelolaan Gedung, Kawasan, dan Perkotaan (PGKP) Otorita IKN.


Manfaat Lingkungan, Ekonomi, dan Sosial

Penggunaan teknologi waste-to-energy di TPST-1 memberikan sejumlah manfaat nyata:

  • Pengurangan volume sampah yang berakhir di TPA hingga lebih dari 90 persen
  • Produksi energi alternatif yang mendukung kemandirian energi IKN
  • Pengendalian emisi gas rumah kaca melalui proses pembakaran terkendali dan sistem filterasi canggih
  • Penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat lokal sebagai tenaga operasional dan pendukung
  • Perubahan perilaku masyarakat melalui edukasi pemilahan sampah dari sumber

Direktorat PGKP Otorita IKN bertanggung jawab penuh atas pengawasan dan pengembangan sistem ini, sementara PT Bina Karya ditunjuk sebagai pelaksana teknis operasional harian. Pendekatan ini memastikan fasilitas berjalan dengan standar tinggi sesuai visi pembangunan IKN.


Menuju IKN Bebas Sampah dan Net Zero Emission

Pengoperasian TPST-1 menjadi bukti konkret bahwa IKN bukan hanya soal memindahkan pusat pemerintahan, tetapi juga mentransformasi cara Indonesia mengelola limbah perkotaan. Dengan teknologi WTE, sampah yang selama ini menjadi masalah di banyak kota besar kini berubah menjadi aset berharga.

Fasilitas ini juga mendukung target nasional transisi energi menuju energi baru terbarukan (EBT) serta komitmen Indonesia dalam mencapai net zero emission pada 2060 atau lebih cepat. Seiring bertambahnya hunian ASN, pegawai, dan penduduk pendukung di IKN, kapasitas dan efisiensi TPST-1 akan terus ditingkatkan.

Keberhasilan TPST-1 diharapkan menjadi model nasional. Banyak kota besar di Indonesia masih bergantung pada sistem TPA konvensional yang sering kali menimbulkan masalah lingkungan dan kesehatan masyarakat. Kehadiran fasilitas seperti ini di IKN bisa menjadi inspirasi bagi pemerintah daerah lain untuk beralih ke pengelolaan sampah modern berbasis energi.

Di penghujung 2025, pengoperasian TPST-1 menjadi penutup tahun yang membanggakan bagi Otorita IKN. Langkah ini tidak hanya memperkuat komitmen terhadap lingkungan, tetapi juga menunjukkan bahwa pembangunan ibu kota baru benar-benar berorientasi pada masa depan yang lebih hijau, bersih, dan berkelanjutan bagi seluruh rakyat Indonesia.

 

Also Read
Tag:
Latest News
  • Canggih, TPST-1 IKN Gunakan Teknologi Waste-to-Energy, Olah Sampah Jadi Energi Hingga 74 Ton per Hari
  • Canggih, TPST-1 IKN Gunakan Teknologi Waste-to-Energy, Olah Sampah Jadi Energi Hingga 74 Ton per Hari
  • Canggih, TPST-1 IKN Gunakan Teknologi Waste-to-Energy, Olah Sampah Jadi Energi Hingga 74 Ton per Hari
  • Canggih, TPST-1 IKN Gunakan Teknologi Waste-to-Energy, Olah Sampah Jadi Energi Hingga 74 Ton per Hari
  • Canggih, TPST-1 IKN Gunakan Teknologi Waste-to-Energy, Olah Sampah Jadi Energi Hingga 74 Ton per Hari
  • Canggih, TPST-1 IKN Gunakan Teknologi Waste-to-Energy, Olah Sampah Jadi Energi Hingga 74 Ton per Hari
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad