Brunei Darussalam, negara kecil di Asia Tenggara yang
dikenal dengan kekayaan sumber daya alamnya, kembali menjadi sorotan dunia
energi. Hengyi Petrochemical Co., perusahaan petrokimia asal China, baru saja
mengumumkan kelanjutan proyek ekspansi kilang minyak mereka di Pulau Muara
Besar. Langkah ini tidak hanya akan menggandakan kapasitas produksi kilang
tersebut, tetapi juga memperkuat posisi Brunei dalam rantai pasok global bahan
bakar dan plastik. Pengumuman ini datang pada Selasa, 6 Januari 2026, menandai
babak baru dalam kerjasama ekonomi antara China dan Brunei.
Sebagai jurnalis yang telah mengikuti perkembangan sektor
energi selama bertahun-tahun, saya melihat proyek ini sebagai contoh nyata
bagaimana investasi asing bisa menjadi katalisator diversifikasi ekonomi di
negara-negara penghasil minyak. Brunei, yang selama ini bergantung pada ekspor
minyak mentah dan gas alam, kini berupaya mengembangkan industri hilir untuk
menciptakan nilai tambah. Ekspansi Hengyi ini diharapkan selesai pada akhir
2028, dengan target meningkatkan kapasitas pengolahan minyak dari sekitar 8
juta ton per tahun menjadi 20 juta ton per tahun. Ini berarti peningkatan
signifikan yang bisa mengubah lanskap energi regional.
Latar Belakang Proyek Hengyi di Brunei
Untuk memahami pentingnya pengumuman ini, mari kita mundur
sedikit ke belakang. Hengyi Petrochemical, yang berbasis di Zhejiang, China,
adalah salah satu pemain utama di industri petrokimia global. Perusahaan ini
dikenal dengan fokusnya pada produksi serat poliester dan bahan kimia dasar.
Pada 2011, Hengyi menandatangani kesepakatan joint venture dengan pemerintah
Brunei untuk membangun kompleks kilang dan petrokimia di Pulau Muara Besar.
Joint venture ini dikenal sebagai Hengyi Industries Sdn Bhd, di mana Hengyi
memegang saham mayoritas 70%, sementara Brunei memiliki 30% melalui Brunei
Economic Development Board (BEDB).
Fase pertama proyek ini mulai beroperasi pada akhir 2019,
setelah investasi sekitar US$3,45 miliar. Kilang ini awalnya dirancang untuk
mengolah 160.000 barel minyak per hari, menghasilkan produk seperti bensin,
diesel, jet fuel, dan bahan petrokimia seperti paraxylene dan benzene.
Keberhasilan fase pertama telah membawa manfaat ekonomi bagi Brunei, termasuk
penciptaan ribuan lapangan kerja dan peningkatan ekspor produk olahan. Menurut
data resmi, kilang ini telah berkontribusi pada diversifikasi ekonomi Brunei
sesuai dengan visi Wawasan Brunei 2035, yang bertujuan mengurangi
ketergantungan pada minyak mentah.
Saya ingat saat meliput peluncuran fase pertama, banyak
pihak yang skeptis karena tantangan logistik di pulau kecil seperti Muara
Besar. Namun, dengan dukungan infrastruktur seperti pelabuhan khusus dan
jaringan pipa, proyek ini berjalan lancar. Kini, dengan fase kedua, Hengyi
berencana menginvestasikan tambahan hingga US$9 miliar hingga US$13,65 miliar,
tergantung pada skala akhir. Ini adalah angka yang masif, menunjukkan komitmen
jangka panjang dari investor China di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Detail Ekspansi Fase Kedua: Apa yang Akan Dibangun?
Pengumuman terbaru dari Hengyi menyatakan bahwa fase kedua
akan difokuskan pada peningkatan kapasitas pengolahan minyak menjadi 280.000
barel per hari, atau setara dengan 11 juta ton minyak mentah tambahan per
tahun. Kompleks ini akan mencakup unit baru seperti ethylene cracker
berkapasitas 1,65 juta ton per tahun, fasilitas produksi purified terephthalic
acid (PTA) sebesar 2,5 juta ton, dan polyethylene terephthalate (PET) sebesar
2,2 juta ton. Produk utama yang dihasilkan termasuk diesel, paraxylene, benzene,
polypropylene, dan bahan kimia lainnya yang esensial untuk industri otomotif,
tekstil, dan plastik.
Menurut pernyataan resmi perusahaan, konstruksi akan dimulai
segera setelah persetujuan akhir dari otoritas Brunei. Target penyelesaian pada
akhir 2028 tampak realistis, mengingat pengalaman dari fase pertama. Yang
menarik, unit Hengyi di Brunei telah menerima insentif pajak dari pemerintah
setempat, termasuk pembebasan pajak selama periode tertentu untuk mendorong
investasi. Selain itu, pembiayaan datang dari berbagai lender internasional,
termasuk bank-bank China yang mendukung inisiatif Belt and Road Initiative
(BRI).
Dari perspektif teknis, ekspansi ini akan menggunakan
teknologi canggih untuk memastikan efisiensi dan keberlanjutan. Misalnya,
integrasi antara kilang minyak dan pabrik petrokimia memungkinkan konversi
minyak mentah menjadi produk bernilai tinggi dengan minim limbah. Ini juga akan
membantu Brunei memanfaatkan cadangan minyaknya sendiri, yang diperkirakan
mencapai 1,1 miliar barel, untuk produksi domestik daripada hanya mengekspor
mentah.
Dampak Ekonomi dan Sosial bagi Brunei
Ekspansi kilang minyak Hengyi di Brunei bukan hanya soal
angka produksi; ini tentang transformasi ekonomi. Menurut laporan dari BEDB,
fase kedua diharapkan menciptakan lebih dari 2.000 lapangan kerja baru,
terutama bagi warga lokal. Ini krusial bagi Brunei, yang memiliki populasi
sekitar 450.000 jiwa dan tingkat pengangguran muda yang perlu diatasi. Proyek
ini juga akan mendorong pengembangan bisnis lokal, seperti kontraktor, pemasok,
dan layanan pendukung, sesuai dengan Economic Blueprint Brunei.
Secara ekonomi, peningkatan produksi hingga 2 juta ton per
tahun untuk produk petrokimia tertentu akan meningkatkan ekspor Brunei. Saat
ini, negara ini mengimpor sebagian besar bahan bakar olahannya, tapi dengan
kilang yang lebih besar, Brunei bisa menjadi eksportir neto. Ini juga akan
memperkuat ketahanan energi regional, terutama di tengah fluktuasi harga minyak
global akibat konflik geopolitik.
Saya pernah berbicara dengan seorang ekonom lokal di Brunei,
yang menyatakan bahwa proyek seperti ini bisa menambah kontribusi sektor
non-minyak hingga 10-15% dari PDB. Wawasan Brunei 2035 menargetkan
diversifikasi, dan Hengyi menjadi pilar utama. Namun, ada juga tantangan,
seperti dampak lingkungan. Kilang besar berpotensi meningkatkan emisi karbon,
meskipun Hengyi mengklaim akan menerapkan standar ramah lingkungan sesuai
regulasi internasional.
Konteks Global: Persaingan di Pasar Bahan Bakar dan Plastik
Di level global, ekspansi Hengyi di Brunei akan memperketat
persaingan di pasar bahan bakar dan plastik. China, sebagai produsen petrokimia
terbesar dunia, sedang ekspansi ke luar negeri untuk mengamankan rantai pasok.
Proyek ini bagian dari BRI, yang telah menginvestasikan miliaran dolar di Asia
Tenggara. Pesaing seperti kilang di Singapura atau Malaysia harus waspada,
karena produk Hengyi yang lebih murah bisa membanjiri pasar.
Harga minyak yang stabil sekitar US$70-80 per barel
belakangan ini membuat proyek seperti ini layak. Selain itu, permintaan plastik
global diproyeksikan tumbuh 3-4% per tahun, didorong oleh e-commerce dan
kemasan. Hengyi, dengan kapasitas baru, siap memenuhi itu. Tapi, ada risiko:
transisi energi ke hijau bisa mengurangi permintaan minyak jangka panjang.
Dalam wawancara dengan analis energi, mereka menekankan
bahwa keberhasilan proyek ini tergantung pada stabilitas politik dan harga
komoditas. Brunei, dengan monarki stabil, menawarkan lingkungan yang aman bagi
investor.
Masa Depan Cerah untuk Kerjasama China-Brunei
Pengumuman Hengyi untuk melanjutkan ekspansi kilang minyak
di Brunei adalah berita positif di tengah ketidakpastian global. Dengan target
selesai 2028, proyek ini akan menggandakan kapasitas, menciptakan jobs, dan
mendorong diversifikasi ekonomi. Bagi China, ini memperkuat pengaruhnya di Asia
Tenggara; bagi Brunei, ini langkah menuju kemandirian energi.
Sebagai jurnalis, saya optimis tapi tetap kritis.
Keberhasilan tergantung pada pelaksanaan yang transparan dan berkelanjutan.
Kita tunggu perkembangan selanjutnya, tapi satu hal pasti: ekspansi Hengyi di
Brunei sedang membentuk ulang peta energi regional.







