![]() |
| Ilustrasi AI |
Pontianak, 9 Januari 2026 – Awal tahun 2026 langsung
diwarnai bencana alam di Kalimantan Barat. Banjir akibat curah hujan tinggi
melanda sejumlah wilayah, dengan Kabupaten Sekadau dan Sintang menjadi yang
paling parah. Ribuan kepala keluarga (KK) terdampak, rumah terendam, dan
aktivitas masyarakat terganggu. Meski tidak ada korban jiwa, kerugian material
masih dalam pendataan, dan pemerintah daerah langsung gerak cepat melakukan
penanganan darurat.
Sebagai jurnalis yang sering meliput bencana di Kalimantan,
saya melihat pola ini sudah menjadi musim tahunan di wilayah hulu Sungai Kapuas
ini. Hujan deras beberapa hari terakhir membuat debit air sungai melonjak,
meluap ke permukiman. Banjir di Kalbar kali ini mengingatkan kita pada
pentingnya mitigasi dini, apalagi di tengah perubahan iklim yang membuat curah
hujan semakin ekstrem. Tapi, apa sebenarnya yang terjadi di lapangan, dan
bagaimana respons pemerintah?
Penyebab Banjir di Kalbar: Hujan Intensitas Tinggi dan Luapan Sungai
Banjir ini dipicu oleh curah hujan dengan intensitas tinggi
yang mengguyur Kalimantan Barat dalam beberapa hari belakangan. Debit air
sungai meningkat drastis, menyebabkan luapan ke pemukiman warga. Kepala Badan
Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sintang, Kusnidar, menjelaskan,
“Banjir disebabkan oleh curah hujan yang cukup tinggi sehingga debit air sungai
meningkat dan meluap ke permukiman warga.”
Di Sekadau, banjir mulai terjadi sejak Rabu malam, 7 Januari
2026, dan berlanjut hingga Kamis, 8 Januari. Sementara di Sintang, banjir lebih
singkat, hanya sekitar empat jam di beberapa titik sebelum surut. Tidak ada
faktor lain seperti bendungan jebol yang disebutkan, tapi kondisi topografi
hulu sungai yang landai membuat air mudah menggenang. Ini bukan pertama
kalinya; wilayah ini sering menjadi langganan banjir musiman, terutama saat
musim hujan puncak.
Saya ingat saat meliput banjir serupa tahun lalu di Kapuas
Hulu, pola yang sama: hujan deras di hulu menyebabkan efek domino ke kabupaten
hilir. Kali ini, Sekadau dan Sintang yang paling kena imbasnya.
Dampak Banjir Terparah di Sekadau dan Sintang
Kabupaten Sekadau menjadi yang paling parah. Banjir melanda
dua kecamatan: Nanga Taman dan Nanga Mahap, dengan tiga desa terdampak utama.
Data dari Koordinator Harian Pusdalops PB Kalimantan Barat, Daniel, merinci:
- Desa
Meranti (Kecamatan Nanga Taman): 459 KK atau 902 jiwa terdampak.
- Desa
Mongko: 537 KK atau 1.921 jiwa terdampak.
- Desa
Lembah Beringin: 417 KK terdampak, dengan sekitar 902 jiwa.
Air merendam rumah-rumah warga, membuat penghuni harus
meninggikan barang berharga atau mengungsi sementara ke tempat lebih aman.
Genangan membuat akses jalan sulit, aktivitas sekolah terganggu, dan petani
khawatir tanaman rusak.
Di Sintang, banjir menyasar Kecamatan Sepauk dan Tempunak:
- Kecamatan
Sepauk, Desa Nanga Pari: Dusun Tuntun Palah (6 rumah terendam), Dusun Kuai
(20 rumah), Dusun Tanjung Kepayang (48 rumah). Ketinggian air bervariasi,
dari genangi halaman hingga masuk ke bangunan.
- Kecamatan
Tempunak, Desa Benua Kencana, Dusun Layang Mentari: 60 KK terdampak,
merendam rumah dan kandang ternak.
Kepala Desa Nanga Pari, Yohanes Muludi, mengatakan,
“Banjirnya tidak lama, kurang lebih empat jam sudah surut kembali seperti
biasa.” Ini memberikan sedikit lega, tapi warga tetap wasiada karena hujan
masih mengancam.
Secara keseluruhan, ribuan KK di Kalbar terdampak, dengan
total jiwa mencapai ribuan pula. Dampak lain termasuk kerusakan infrastruktur
kecil seperti jalan tergenang dan kandang ternak basah, yang berpotensi
menimbulkan kerugian ekonomi bagi peternak. Yang menggembirakan, Kusnidar
menegaskan, “Untuk korban jiwa nihil.” Namun, pendataan kerugian material masih
berlangsung.
Respons Pemerintah: Penanganan Darurat dan Pendataan Lapangan
Pemerintah daerah tidak tinggal diam. Sejak Kamis, 8
Januari, penanganan darurat dilakukan oleh aparat setempat. BPBD Kabupaten
Sintang langsung turun ke lapangan untuk verifikasi dampak dan kebutuhan
mendesak. Tim Pusdalops PB Kalbar juga aktif memantau dan mengumpul data
real-time.
Di Sekadau, camat dan kepala desa berkoordinasi dengan warga
untuk evakuasi mandiri jika diperlukan. Meski belum ada detail bantuan logistik
seperti makanan atau selimut, pendataan ini menjadi dasar untuk distribusi
bantuan dari provinsi atau pusat. Daniel dari Pusdalops PB menekankan
pentingnya data akurat untuk respons cepat.
Dari pengalaman saya, respons seperti ini cukup efektif jika
diikuti dengan bantuan cepat. Di banjir sebelumnya, BPBD sering mendirikan
posko dan mendistribusikan sembako dalam hitungan hari.
Tantangan utama adalah prediksi cuaca yang sulit dan infrastruktur drainase yang masih terbatas di pedesaan. Banyak sungai di Kalbar butuh normalisasi rutin agar tidak mudah meluap. Selain itu, deforestasi di hulu turut mempercepat aliran air hujan.
Harapannya, banjir Kalbar 2026 ini menjadi momentum untuk
program jangka panjang. Pemerintah provinsi bisa tingkatkan sistem peringatan
dini BMKG dan bangun tanggul di titik rawan. Kerja sama dengan masyarakat,
seperti membersihkan sungai dari sampah, juga krusial. Di Sekadau dan Sintang,
warga sudah terbiasa tangguh menghadapi banjir musiman, tapi dukungan penuh
dari pemerintah akan membuat mereka lebih siap.
Saya optimistis, dengan koordinasi yang baik antara BPBD
kabupaten, provinsi, dan pusat, dampak bisa diminimalisir. Banjir ini juga
pengingat bagi kita semua: pelestarian hutan dan pengelolaan sungai adalah
kunci untuk Kalbar yang lebih resilien terhadap bencana.
Akhir kata, banjir di Kalbar, khususnya Sekadau dan Sintang,
menunjukkan betapa rentannya wilayah kita terhadap alam. Untungnya, tidak ada
korban jiwa, dan respons darurat sudah berjalan. Mari kita doakan hujan segera
reda dan warga segera pulih. Pantau terus update dari BPBD untuk informasi
terkini.





.webp)

