![]() |
| Ilustrasi AI |
IKN — Kehadiran Masjid Negara di kawasan Ibu Kota
Nusantara menandai babak baru pembangunan infrastruktur keagamaan di pusat
pemerintahan masa depan Indonesia. Menjelang Ramadan 1447 Hijriah atau tahun
2026 Masehi, rumah ibadah megah yang berdiri di wilayah Penajam Paser Utara, Kalimantan
Timur, tersebut dipastikan siap digunakan secara fungsional untuk berbagai
rangkaian ibadah umat Islam, mulai dari salat lima waktu, salat tarawih, hingga
pelaksanaan Salat Idul Fitri.
Kesiapan ini disampaikan oleh pihak Otorita IKN bersama
Kementerian Agama setelah melakukan peninjauan langsung terhadap progres
pembangunan masjid yang menjadi salah satu ikon spiritual di ibu kota baru.
Secara fisik, pembangunan telah mendekati tahap akhir dengan struktur utama
bangunan rampung dan sejumlah fasilitas penunjang memasuki tahap penyempurnaan
interior. Kondisi tersebut memungkinkan masjid difungsikan untuk kegiatan
ibadah Ramadan meskipun pekerjaan detail masih berjalan secara bertahap.
Masjid Negara IKN dirancang sebagai kompleks ibadah berskala
besar yang mampu menampung puluhan ribu jamaah dalam satu waktu. Bangunan utama
berdiri di atas lahan luas dengan area salat yang lapang, ruang terbuka, serta
fasilitas pendukung yang terintegrasi. Desain arsitekturnya memadukan
pendekatan modern dengan simbolisme Islam, terlihat dari bentuk kubah
menyerupai lilitan sorban dan menara tinggi yang merepresentasikan nilai
spiritual Asmaul Husna. Konsep tersebut sekaligus menegaskan posisi masjid sebagai
landmark religius sekaligus ruang publik yang inklusif.
Selain fungsi utama sebagai tempat ibadah, kompleks masjid
juga dilengkapi berbagai sarana sosial keagamaan. Tersedia ruang pertemuan,
perpustakaan berbasis digital, area edukasi, serta zona kegiatan ekonomi umat
yang memberi ruang bagi pelaku usaha mikro dan kecil. Kehadiran fasilitas ini
dirancang untuk menjadikan masjid bukan sekadar lokasi ritual, tetapi juga
pusat interaksi sosial, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat di lingkungan
IKN yang terus berkembang.
Dalam rangka menyambut Ramadan 2026, sejumlah agenda
keagamaan telah dipersiapkan. Kegiatan salat tarawih berjamaah akan menjadi
program utama yang terbuka bagi masyarakat umum, aparatur sipil negara, pekerja
pembangunan, hingga warga yang telah menetap di kawasan ibu kota baru. Selain
itu, akan digelar kajian keislaman, ceramah tematik, serta rangkaian peringatan
Nuzulul Quran yang menjadi tradisi tahunan umat Islam selama bulan suci.
Momentum Ramadan juga diwarnai kegiatan sosial seperti buka
puasa bersama dan bazar makanan berbuka yang melibatkan pelaku UMKM lokal.
Aktivitas tersebut tidak hanya menghadirkan suasana kebersamaan, tetapi juga
menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar kawasan pembangunan IKN. Dengan
demikian, fungsi masjid berkembang sebagai simpul spiritual sekaligus penggerak
kehidupan sosial ekonomi komunitas.
Kementerian Agama memastikan kesiapan operasional masjid
melalui serangkaian pemeriksaan fasilitas, termasuk area wudu, sanitasi, sistem
tata suara, pencahayaan, hingga pengaturan arus jamaah. Langkah ini dilakukan
agar seluruh rangkaian ibadah Ramadan dapat berlangsung dengan aman dan nyaman.
Wakil Menteri Agama Muhammad Syafi’i menegaskan bahwa secara fungsional masjid
sudah dapat dimanfaatkan untuk kegiatan ibadah berjamaah selama Ramadan.
Rencana kegiatan Ramadan di Masjid Negara IKN juga mencakup
kehadiran tokoh nasional dalam agenda tausiah. Menteri Agama Nasaruddin Umar
dijadwalkan mengisi ceramah tarawih pada salah satu malam awal Ramadan sebagai
bagian dari penguatan syiar keagamaan di ibu kota baru. Kehadiran tokoh
pemerintah dalam kegiatan ibadah tersebut mencerminkan peran strategis masjid
sebagai ruang spiritual yang menyatu dengan kehidupan kenegaraan.
Di luar Masjid Negara, kawasan IKN telah memiliki sejumlah
masjid dan mushala yang tersebar di area perkantoran, hunian pekerja
konstruksi, serta permukiman penduduk. Keberadaan jaringan rumah ibadah ini
memperlihatkan bahwa pembangunan ibu kota tidak hanya berfokus pada
infrastruktur pemerintahan, tetapi juga pada pemenuhan kebutuhan spiritual
masyarakat yang tinggal dan bekerja di dalamnya. Ramadan 2026 menjadi periode
penting yang memperlihatkan mulai berfungsinya ekosistem keagamaan tersebut
secara lebih luas.
Secara konseptual, Masjid Negara IKN diproyeksikan sebagai
pusat peradaban Islam yang merepresentasikan nilai moderasi, keterbukaan, dan
harmoni dalam kehidupan berbangsa. Lokasinya yang berada di jantung kawasan
pemerintahan memberi makna simbolik bahwa pembangunan nasional berjalan seiring
dengan penguatan nilai spiritual. Ruang-ruang publik di dalam kompleks masjid
dirancang terbuka bagi berbagai kegiatan edukatif dan sosial, menciptakan
interaksi lintas kelompok masyarakat dalam suasana religius yang inklusif.
Kehadiran masjid ini juga menjadi bagian dari perencanaan
besar pembangunan rumah ibadah lintas agama di IKN. Pemerintah menempatkan
prinsip kerukunan dan keberagaman sebagai fondasi utama kehidupan sosial di ibu
kota baru. Dengan demikian, Masjid Negara berdiri berdampingan secara
konseptual dengan fasilitas keagamaan lain yang akan melayani seluruh umat
beragama di Indonesia.
Ramadan 2026 akan menjadi fase awal pemanfaatan masjid dalam
skala besar, menghadirkan pengalaman ibadah di ruang yang dirancang modern
namun tetap sarat nilai tradisi. Jamaah yang datang tidak hanya berasal dari
kawasan IKN, tetapi juga dari daerah sekitar di Kalimantan Timur. Arus
kunjungan tersebut memperlihatkan posisi masjid sebagai magnet spiritual baru
di wilayah timur Indonesia.
Seiring berjalannya waktu, aktivitas keagamaan di Masjid
Negara IKN diperkirakan terus berkembang, mengikuti pertumbuhan jumlah penduduk
dan institusi pemerintahan yang berpindah ke ibu kota baru. Dinamika tersebut
menempatkan masjid sebagai ruang hidup yang akan terus diisi berbagai kegiatan
ibadah, pendidikan, dan sosial kemasyarakatan.
Dengan mulai difungsikannya Masjid Negara pada Ramadan 2026,
kawasan Ibu Kota Nusantara memasuki tahap baru sebagai lingkungan yang tidak
hanya menghadirkan pusat administrasi negara, tetapi juga ruang spiritual bagi
masyarakatnya. Keberadaan masjid megah ini memperlihatkan bahwa pembangunan
kota masa depan Indonesia berjalan berdampingan dengan penguatan nilai religius
dalam kehidupan publik.







