Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Gempa Bumi Magnitudo 4,8 Guncang Sintang, Kalbar — Rumah dan Infrastruktur Rusak, Warga Diminta Waspada

 

Pontianak, Kalimantan Barat — Gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,8 mengguncang wilayah Kabupaten Sintang dan sekitarnya di Provinsi Kalimantan Barat pada Jumat siang, 23 Januari 2026, menyebabkan kerusakan pada sejumlah rumah, fasilitas publik, dan jembatan serta memicu kepanikan sementara di kalangan warga setempat.

Peristiwa ini tercatat oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terjadi pukul 14.27 WIB, dengan episenter berada di darat pada kedalaman sekitar 10 kilometer, sekitar 89 kilometer timur Kabupaten Sekadau. Lokasi gempa berada pada 0,10° Lintang Utara dan 111,78° Bujur Timur, sebuah area yang termasuk zona aktivitas sesar dangkal di Kalimantan Barat.

Guncangan gempa dirasakan hingga ke wilayah lain seperti Melawi dan Sekadau, dengan intensitas getaran mencapai skala III–IV MMI (Modified Mercalli Intensity). Pada skala ini, getaran terasa kuat oleh banyak orang, benda-benda ringan yang tergantung bergoyang, dan sensasi seperti ada kendaraan berat melintas.

 

Kerusakan Bangunan dan Infrastruktur Akibat Guncangan

Dampak paling nyata dari gempa ini terlihat pada sejumlah rumah warga di Desa Nanga Mau dan Desa Mekar Mandiri, Kecamatan Kayan Hilir, Kabupaten Sintang. Salah satu rumah yang mengalami kerusakan adalah milik Suyanto Tanjung, anggota DPRD Kalimantan Barat sekaligus Ketua Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) Kalbar.

Dalam keterangan kepada media, Suyanto mengungkapkan bahwa bagian depan rumahnya mengalami keretakan cukup parah. Tidak hanya itu, bagian dalam bangunan juga mengalami retak-retak, dan sejumlah barang di dalam rumah jatuh akibat guncangan.

Kerusakan berat terjadi pada bagian depan dan bagian dalam rumah, yang mengalami retak-retak akibat gempa siang tadi,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa beberapa rumah warga lainnya di sekitar lokasi juga terdampak.

Selain rumah warga, Kantor Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Perkim) Sintang juga dilaporkan mengalami kerusakan akibat getaran gempa. Sementara itu, Jembatan Nanga Tikan, yang menghubungkan Kabupaten Sintang dan Melawi, dikabarkan mengalami pergeseran struktur — sebuah indikasi adanya pergerakan tanah di bawah bangunan akibat gempa tektonik tersebut.


Respon Warga dan Aktivitas Pascagempa

Getaran yang kuat meskipun hanya berlangsung beberapa detik sempat memicu kepanikan warga yang berada di dalam rumah, sekolah, dan kantor pada siang hari. Banyak warga yang spontan keluar bangunan untuk menghindari kemungkinan jatuhnya material dari atap atau dinding.

Sejumlah laporan dari masyarakat yang terdampak menyebutkan bahwa benda-benda ringan seperti gantungan dan perabot rumah tangga ikut bergoyang sejak gempa berlangsung. Desa-desa di sekitar Sintang menjadi pusat perhatian untuk melakukan pendataan dampak awal.

Warga yang mengalami kerusakan bangunan kini tengah menunggu penilaian resmi dari tim teknis yang akan mengevaluasi tingkat kerusakan serta risiko struktur bangunan mereka. Langkah ini penting untuk menentukan apakah rumah-rumah tersebut masih layak dihuni atau perlu dilakukan perbaikan struktural.


Penjelasan BMKG dan Karakteristik Gempa

BMKG menjelaskan bahwa gempa ini merupakan gempa bumi tektonik, yang umumnya disebabkan oleh aktivitas pergerakan lempeng atau sesar aktif di bawah permukaan bumi. Episenter yang berada di lokasi daratan dengan kedalaman sekitar 10 kilometer menjadikan getaran terasa cukup kuat dibandingkan gempa yang berada di zona lebih dalam.

Para ahli seismologi menyatakan bahwa wilayah Kalimantan, termasuk Kalbar, meskipun bukan zona gempa terbesar seperti di pulau Jawa atau Sumatera, tetap memiliki potensi aktivitas gempa bumi terutama di sekitar sesar aktif seperti Sesar Adang. Oleh karena itu, kejadian gempa seperti ini dianggap sebagai bagian dari dinamika tektonik regional yang perlu diantisipasi masyarakat.


Imbauan Pemerintah dan Aparat Terkait

Menanggapi peristiwa ini, pemerintah daerah bersama dengan aparat keamanan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat segera melakukan koordinasi untuk memastikan keselamatan warga dan keamanan infrastruktur. Pengawasan dilakukan terutama di lokasi-lokasi yang dilaporkan mengalami kerusakan signifikan seperti rumah penduduk dan fasilitas umum.

Beberapa pejabat setempat mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun waspada, terutama terhadap potensi gempa susulan yang bisa terjadi setelah gempa utama. Meski hingga berita ini ditulis belum dilaporkan adanya gempa susulan yang signifikan, kewaspadaan tetap menjadi prioritas agar keselamatan warga terjaga.

“Masyarakat diimbau untuk selalu mengikuti informasi resmi dari BMKG dan instansi terkait, serta tidak terpengaruh oleh informasi tidak terpercaya yang beredar,” ujar salah seorang pejabat pemerintah Kalbar.

Langkah kesiapsiagaan juga mencakup pemeriksaan bangunan dan infrastruktur kritis seperti sekolah, puskesmas, serta jembatan, untuk memastikan tidak ada kerusakan struktural yang membahayakan pengguna.


Kesiapsiagaan Masyarakat di Wilayah Rawan Gempa

Peristiwa gempa ini kembali menegaskan pentingnya kesiapsiagaan bencana di wilayah Indonesia, termasuk di daerah yang tidak sering mengalami gempa besar. Gempa bumi bersifat tiba-tiba dan tidak dapat diprediksi secara tepat, namun risiko dampaknya bisa dikurangi melalui tindakan mitigasi seperti:

  • Meningkatkan kesadaran tentang titik evakuasi dan jalur aman,
  • Melakukan perbaikan struktural pada rumah dan bangunan penting,
  • Menyusun rencana darurat keluarga, dan
  • Mengikuti petunjuk dari BPBD serta informasi terkini BMKG.

Selain itu, membangun struktur yang tahan gempa serta mematuhi standar bangunan yang aman merupakan langkah penting untuk meminimalkan risiko kerusakan dan korban jiwa apabila kejadian serupa terjadi di masa depan.


Tinjauan Risiko Gempa di Kalimantan Barat

Wilayah Kalimantan Barat selama ini tercatat memiliki aktivitas seismik yang meskipun jarang sebesar wilayah lain di Indonesia, namun tetap menunjukkan adanya risiko gempa bumi terutama dari sesar atau patahan lokal. Sesar Adang dan sesar lain di Kalimantan menjadi salah satu titik perhatian para ahli karena potensi guncangan yang dapat dirasakan di permukaan.

BMKG dan para ahli terus memantau perkembangan aktivitas seismik di wilayah ini dengan mengoperasikan stasiun geofisika dan sensor gempa yang tersebar. Masyarakat pun diimbau untuk memanfaatkan laman resmi BMKG sebagai sumber informasi gempa yang cepat dan akurat.

Gempa bumi magnitudo 4,8 yang mengguncang Sintang dan sekitarnya pada 23 Januari 2026 menjadi pengingat bahwa ancaman bencana alam bisa terjadi kapan saja, di wilayah mana pun di Indonesia. Dampaknya terhadap rumah warga, fasilitas publik, dan jembatan seperti Nanga Tikan menunjukkan pentingnya perencanaan bangunan yang tahan gempa serta kesadaran masyarakat terhadap risiko gempa bumi.

Aparat pemerintah dan BPBD akan terus melakukan pendataan dan evaluasi dampak, sambil memberikan imbauan kepada masyarakat agar tetap mengikuti informasi resmi BMKG dan siap menghadapi setiap kemungkinan gempa susulan. Kesiapsiagaan bersama, mitigasi yang tepat, serta solidaritas masyarakat akan menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan bencana alam ini.

 

Also Read
Tag:
Latest News
  • Gempa Bumi Magnitudo 4,8 Guncang Sintang, Kalbar — Rumah dan Infrastruktur Rusak, Warga Diminta Waspada
  • Gempa Bumi Magnitudo 4,8 Guncang Sintang, Kalbar — Rumah dan Infrastruktur Rusak, Warga Diminta Waspada
  • Gempa Bumi Magnitudo 4,8 Guncang Sintang, Kalbar — Rumah dan Infrastruktur Rusak, Warga Diminta Waspada
  • Gempa Bumi Magnitudo 4,8 Guncang Sintang, Kalbar — Rumah dan Infrastruktur Rusak, Warga Diminta Waspada
  • Gempa Bumi Magnitudo 4,8 Guncang Sintang, Kalbar — Rumah dan Infrastruktur Rusak, Warga Diminta Waspada
  • Gempa Bumi Magnitudo 4,8 Guncang Sintang, Kalbar — Rumah dan Infrastruktur Rusak, Warga Diminta Waspada
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad