Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Jelang Imlek dan Ramadan 2026, Wagub Kalbar Tekankan Operasi Pasar Bukan Solusi Utama Tekan Inflasi

 

Ilustrasi AI

Pontianak, Kalimantan Barat - Menjelang dua momentum besar keagamaan pada awal 2026—Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili dan Ramadan 1447 Hijriah—Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat menaruh perhatian serius pada dinamika harga kebutuhan pokok yang berpotensi memicu tekanan inflasi. Wakil Gubernur Kalbar, Krisantus Kurniawan, menegaskan bahwa langkah operasi pasar murah tidak dapat dijadikan solusi utama dalam menekan laju inflasi daerah, terutama ketika akar persoalan terletak pada keseimbangan produksi dan distribusi pangan.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam forum koordinasi pengendalian inflasi daerah di Pontianak, saat pemerintah daerah mulai memetakan potensi kenaikan harga menjelang periode konsumsi tinggi masyarakat. Secara historis, momen hari besar keagamaan memang kerap diikuti lonjakan permintaan terhadap komoditas pangan strategis seperti beras, daging ayam, telur, cabai, bawang merah, hingga aneka sayuran. Ketika permintaan meningkat sementara pasokan tidak bertambah secara proporsional, tekanan harga menjadi konsekuensi yang sulit dihindari.

Menurut Krisantus, operasi pasar selama ini lebih bersifat respons jangka pendek untuk meredam gejolak harga di tingkat konsumen. Kebijakan tersebut membantu masyarakat memperoleh bahan pokok dengan harga lebih terjangkau dalam waktu terbatas, tetapi tidak menyentuh persoalan mendasar yang memicu inflasi. Ia menilai pendekatan yang terlalu bergantung pada operasi pasar justru berisiko menciptakan ketergantungan tanpa memperkuat fondasi ketahanan pangan daerah.

Karena itu, Pemerintah Provinsi Kalbar mendorong strategi yang lebih struktural melalui peningkatan kapasitas produksi pangan lokal. Sinergi lintas sektor menjadi kunci, mulai dari dinas pertanian, peternakan, perkebunan, kelautan dan perikanan, hingga perindustrian dan perdagangan. Kolaborasi ini diarahkan untuk memastikan ketersediaan pasokan tetap terjaga sepanjang tahun, bukan hanya menjelang hari besar keagamaan.

Pendekatan berbasis produksi dinilai lebih berkelanjutan karena mampu menstabilkan harga dari sisi hulu. Ketika produksi meningkat dan distribusi berjalan lancar, fluktuasi harga dapat ditekan tanpa harus terus-menerus melakukan intervensi pasar. Selain itu, penguatan produksi lokal juga membuka peluang ekonomi bagi petani, nelayan, dan pelaku usaha kecil di Kalimantan Barat, sehingga kebijakan pengendalian inflasi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Fenomena kenaikan harga menjelang Imlek dan Ramadan sebenarnya bukan hal baru. Pola musiman ini terjadi hampir setiap tahun di berbagai daerah di Indonesia. Lonjakan konsumsi rumah tangga, meningkatnya kebutuhan bahan pangan untuk perayaan, serta aktivitas sosial keagamaan menjadi faktor utama pendorong permintaan. Di sisi lain, distribusi logistik yang belum sepenuhnya efisien sering memperparah kondisi, terutama ketika pasokan bergantung pada daerah lain.

Di sejumlah pasar tradisional Kalbar, tanda-tanda kenaikan harga mulai terasa beberapa pekan sebelum perayaan. Pedagang mengeluhkan harga beli dari distributor yang meningkat, sementara konsumen mulai mengatur ulang pola belanja agar tetap sesuai dengan kemampuan ekonomi keluarga. Situasi ini menggambarkan betapa sensitifnya stabilitas harga pangan terhadap momentum musiman.

Pemerintah daerah memandang bahwa penguatan sistem distribusi menjadi bagian penting selain peningkatan produksi. Infrastruktur logistik, kelancaran transportasi antarwilayah, serta ketersediaan gudang penyimpanan berpengaruh langsung terhadap stabilitas pasokan. Tanpa distribusi yang efisien, produksi melimpah sekalipun tidak otomatis menurunkan harga di tingkat konsumen.

Selain aspek teknis, komunikasi publik juga berperan dalam pengendalian inflasi. Informasi yang transparan mengenai stok pangan, proyeksi harga, serta langkah pemerintah dapat mencegah kepanikan belanja masyarakat. Ketika masyarakat merasa pasokan aman, perilaku membeli berlebihan yang sering memicu lonjakan harga dapat diminimalkan.

Krisantus menekankan pentingnya kerja bersama seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah kabupaten/kota, pelaku usaha, hingga komunitas masyarakat. Pengendalian inflasi tidak dapat dibebankan pada satu institusi saja, melainkan membutuhkan koordinasi berkelanjutan. Dalam konteks ini, forum Tim Pengendalian Inflasi Daerah menjadi instrumen strategis untuk menyatukan langkah kebijakan.

Upaya menjaga stabilitas harga juga berkaitan erat dengan daya beli masyarakat. Inflasi yang tidak terkendali berpotensi menurunkan kemampuan konsumsi rumah tangga dan memperlambat pertumbuhan ekonomi daerah. Sebaliknya, harga yang stabil memberikan ruang bagi masyarakat untuk merencanakan pengeluaran, terutama pada periode penting seperti Imlek dan Ramadan yang sarat aktivitas sosial.

Momentum dua perayaan besar ini memiliki arti khusus bagi Kalimantan Barat yang dikenal dengan keberagaman budaya dan tradisi. Aktivitas ekonomi biasanya meningkat, mulai dari perdagangan bahan pangan, sektor kuliner, hingga jasa. Stabilitas harga menjadi faktor penentu agar peningkatan aktivitas tersebut benar-benar memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

Dalam kerangka jangka panjang, penguatan ketahanan pangan daerah menjadi agenda strategis. Pemerintah daerah mendorong optimalisasi lahan pertanian, peningkatan produktivitas peternakan, serta pengembangan sektor perikanan sebagai sumber protein masyarakat. Diversifikasi pangan lokal juga menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan pada komoditas tertentu yang rentan fluktuasi harga.

Langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa pengendalian inflasi tidak cukup dilakukan melalui intervensi sesaat. Dibutuhkan perencanaan menyeluruh yang menghubungkan produksi, distribusi, pasar, dan konsumsi dalam satu ekosistem ekonomi daerah yang tangguh. Dengan pendekatan demikian, stabilitas harga diharapkan dapat terjaga tidak hanya menjelang hari besar, tetapi sepanjang tahun.

Seiring mendekatnya Imlek dan Ramadan 2026, perhatian pemerintah daerah terhadap dinamika harga pangan terus diperkuat melalui pemantauan rutin di pasar serta koordinasi lintas sektor. Harapannya, masyarakat Kalimantan Barat dapat menjalani kedua momentum keagamaan tersebut dengan rasa aman secara ekonomi, tanpa tekanan lonjakan harga kebutuhan pokok yang berlebihan.

 

Also Read
Tag:
Latest News
  • Jelang Imlek dan Ramadan 2026, Wagub Kalbar Tekankan Operasi Pasar Bukan Solusi Utama Tekan Inflasi
  • Jelang Imlek dan Ramadan 2026, Wagub Kalbar Tekankan Operasi Pasar Bukan Solusi Utama Tekan Inflasi
  • Jelang Imlek dan Ramadan 2026, Wagub Kalbar Tekankan Operasi Pasar Bukan Solusi Utama Tekan Inflasi
  • Jelang Imlek dan Ramadan 2026, Wagub Kalbar Tekankan Operasi Pasar Bukan Solusi Utama Tekan Inflasi
  • Jelang Imlek dan Ramadan 2026, Wagub Kalbar Tekankan Operasi Pasar Bukan Solusi Utama Tekan Inflasi
  • Jelang Imlek dan Ramadan 2026, Wagub Kalbar Tekankan Operasi Pasar Bukan Solusi Utama Tekan Inflasi
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad