![]() |
| Ilustrasi AI |
IKN — Pemerintah terus mengebut pengerjaan fasilitas
keagamaan di Ibu Kota Nusantara (IKN), termasuk pembangunan Gereja
Katolik Basilika Nusantara Santo Fransiskus Xaverius yang ditargetkan siap
digunakan pada Mei 2026. Peletakan target ini disampaikan langsung oleh Wakil
Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i saat meninjau progres pembangunan
gereja tersebut di kawasan inti peribadatan IKN.
Gereja ini dibangun sebagai bagian dari kawasan rumah ibadah
yang meliputi masjid, pura, vihara, dan tempat ibadah lainnya, menunjukkan
komitmen pemerintah terhadap keberagaman dan kerukunan umat beragama di
ibu kota baru negara.
Pembangunan Hampir Rampung
Dalam kunjungan tersebut, Wamenag menilai progres
pembangunan Gereja Katolik Basilika Nusantara menunjukkan kemajuan signifikan.
Proyek yang dirancang sebagai basilika pertama di Indonesia itu kini memasuki
tahap akhir konstruksi bangunan dan penyelesaian interior. Seluruh struktur
utama gereja dan rumah uskup hampir selesai, sementara pengerjaan detail
seperti mimler, kursi, dan perlengkapan ibadah masih dalam penyelesaian.
Pemasangan perangkat utama seperti lonceng dan salib
menjadi satu fokus penting dalam proses akhir pembangunan. Dua elemen ini
didatangkan khusus dari Belanda dan menggunakan teknologi digital
modern, sehingga dipastikan menghadirkan kualitas dan estetika sesuai
spesifikasi desain. Menurut Wamenag, pemasangan komponen tersebut ditargetkan
selesai sebelum Ramadan 2026, membuka kesempatan bagi Basilika untuk berfungsi
penuh menjelang agenda besar keagamaan di tahun itu.
Fasilitas dan Kapasitas
Basilika ini dirancang dengan kapasitas mencukupi untuk
menampung jemaat Katolik dalam jumlah besar. Menurut data yang dirilis oleh
pemerintah dan Otorita IKN, gereja ini memiliki luas bangunan yang cukup besar
serta fasilitas penunjang seperti area parkir, taman doa Jalan Salib, Taman Doa
Gua Maria, wisma uskup, serta ruang seremonial.
Selain sebagai tempat ibadah, kompleks Basilika di IKN
nantinya akan menjadi salah satu pusat kegiatan spiritual dan budaya umat
Katolik, termasuk menjadi lokasi utama bagi pertemuan besar seperti Konferensi
Waligereja Indonesia (KWI) yang direncanakan berlangsung setelah rampungnya
bangunan. Target kesiapan Mei 2026 dipilih agar pertemuan tersebut dapat
terlaksana secara optimal dengan fasilitas yang lengkap.
Posisi dan Signifikansi
Lokasi Gereja Katolik Basilika Nusantara tidak jauh dari
Masjid Negara dan rumah ibadah lain dalam kawasan peribadatan IKN. Penempatan
ini menjadi simbol konkrit bahwa ibu kota baru dibangun tidak hanya sebagai
pusat pemerintahan, tetapi juga sebagai ruang pluralisme dan toleransi
di mana umat dari berbagai agama dapat menjalankan ibadah secara nyaman dan
bermakna.
Bangunan ini dirancang untuk menjadi simbol toleransi dan
identitas spiritual yang menguatkan pesan kebangsaan. Dengan arsitektur unik
yang mencerminkan nilai-nilai keagamaan serta keterkaitan dengan budaya lokal,
Basilika Santo Fransiskus Xaverius juga diharapkan menjadi tempat ziarah dan
pusat kegiatan religius yang menarik bagi umat Katolik dari berbagai daerah di
Indonesia.
Integrasi dengan Pengembangan IKN
Gereja Basilika Nusantara termasuk dalam rencana strategis
pembangunan kawasan peribadatan di IKN, yang dirancang sebagai bagian
integral dari lingkungan kota baru. Kawasan ini akan dilengkapi oleh aneka
fasilitas dan ruang publik, termasuk Plaza Kerukunan, yang menjadi ruang
terbuka bagi kegiatan masyarakat. Kehadiran berbagai rumah ibadah dalam satu
kawasan menunjukkan upaya pemerintah untuk membangun ibu kota yang inklusif,
ramah, dan menghargai keberagaman.
Menurut laporan sebelumnya, progres pembangunan Basilika
sudah berada di atas angka 90 persen pada akhir 2025, menunjukkan kecepatan
konstruksi yang sesuai target awal pemerintah. Dengan target penggunaan pada
Mei 2026, dicanangkan agar Basilika ini tidak hanya siap secara fisik, tetapi
juga siap menyelenggarakan aktivitas keagamaan utama serta menjadi bagian dari
kehidupan spiritual komunitas di IKN.
Keterlibatan Pemangku Kepentingan
Pembangunan Basilika ini melibatkan berbagai lembaga
pemerintah, termasuk Kementerian Agama, Otorita IKN, serta Balai Penataan
Bangunan, Prasarana, dan Kawasan dari Kementerian Pekerjaan Umum. Sinergi
tersebut mencerminkan pendekatan lintas sektor dalam menyelesaikan proyek
fasilitas keagamaan besar, sekaligus memastikan bahwa semua aspek teknis dan
operasional memenuhi standar.
Dengan target penggunaan pada Mei 2026, Gereja Katolik
Basilika Nusantara berada dalam tahap akhir menuju fungsi operasional penuh.
Bangunan ini diproyeksikan menjadi salah satu ikon religius di IKN — tidak
hanya sebagai tempat ibadah tetapi juga sebagai lambang kebhinekaan dan
kehidupan spiritual yang harmonis di ibu kota baru Indonesia.







