![]() |
| Ilustrasi AI |
Pontianak, Kalimantan Barat – Semarak Perayaan Imlek 2577
Kongzili di Kalimantan Barat (Kalbar) tidak hanya ditandai dengan
kemeriahan lampion merah yang bergelantungan di berbagai sudut kota, tetapi
juga oleh harmoni lintas budaya yang terpancar lewat kegiatan-kegiatan unik
seperti Pawai Obor Akbar dan pembakaran lampion yang menyatu
dengan semangat persatuan masyarakat dari berbagai latar belakang. Peristiwa
ini menjadi refleksi nyata dari semangat toleransi, keharmonisan, serta
persatuan masyarakat Kalbar dalam bingkai keberagaman.
Pawai Obor Akbar: Cahaya yang Menyatukan Beragam Komunitas
Kegiatan yang berlangsung di Halaman Masjid Mujahidin
Pontianak ini menjadi salah satu puncak perayaan yang mencuri perhatian
publik. Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, secara resmi membuka dan
melepas para peserta yang membawa obor menyala menyusuri rute yang sudah
ditentukan.*
Di malam yang cerah itu, ribuan warga dari berbagai kalangan
– muslim, pemeluk agama lain, hingga komunitas Tionghoa – berkumpul bersama,
menyatukan langkah mereka dalam Pawai Obor Akbar. Kegiatan ini bukan hanya
berfungsi sebagai tradisi menyambut bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, tetapi
juga sebagai simbol kuat persatuan dan saling menghormati antarumat
beragama dan etnis, yang berjalan beriringan di tengah perayaan Tahun Baru
Imlek.
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, bahkan
menekankan bahwa harmoni yang terbentuk dari perpaduan lampion Imlek dan obor
Ramadan ini menunjukkan bahwa keberagaman bukanlah penghalang, melainkan
kekuatan masyarakat Kalbar. Dengan latar belakang budaya dan keyakinan yang
berbeda, warga tetap bisa berjalan bersama dalam sebuah momentum kebersamaan.
Lampion Imlek: Makna, Sejarah, dan Simbolisme Mendalam
Dalam perayaan Imlek, lampion selalu menjadi salah satu
simbol utama yang paling mudah dikenali. Lampion tidak sekadar elemen dekoratif
– ia menyimpan makna budaya yang mendalam yang telah berkembang selama
berabad-abad.
Menurut tradisi Tionghoa kuno, lampion berfungsi sebagai
simbol cahaya, harapan, kesatuan, dan keberuntungan. Warna merah yang
dominan pada lampion melambangkan kemakmuran, kebahagiaan, dan perlindungan
dari hal-hal buruk. Lampion juga dipercaya dapat mengusir kegelapan dan
energi negatif, serta menuntun jalan menuju keberuntungan dan keberhasilan
di tahun yang baru.
Sejarah lampion sendiri berakar kuat dari masa Dinasti Han
(206 SM–220 SM). Pada awalnya, lampion digunakan sebagai sumber cahaya sebelum
berkembang menjadi simbol kebudayaan yang dipadukan dengan ritual tradisional
dan keyakinan spiritual. Tradisi menyalakan lentera pada masa Imlek (terutama
saat Festival Yuan Xiao atau Festival Lentera) kemudian menyebar
ke banyak wilayah di Asia termasuk Indonesia.
Tidak hanya sebagai ornamen tradisional, lampion kini juga
menjadi iklan visual yang memukau wisatawan, terutama di wilayah Kalbar
seperti Pontianak dan Kubu Raya yang memiliki komunitas Tionghoa besar dan
aktif. Ribuan lampion yang dipasang pada bangunan rumah, jalan protokol, hingga
vihara dan kelenteng memberikan nuansa warna merah yang khas pada suasana
malam.
Harmoni dan Toleransi: Wajah Multikultural Kalimantan Barat
Perayaan Imlek di Kalimantan Barat tahun ini berlangsung
dengan sangat meriah, dan yang paling penting adalah cara perayaan ini
mencerminkan komitmen kuat terhadap kerukunan dan toleransi.
Di Pontianak, pawai obor dan pesta lampion tidak hanya
sekadar perayaan budaya, tetapi juga representasi konkret dari hidup
berdampingan secara damai antara agama dan etnis yang berbeda. Suasana ini
mendapat sorotan karena Pawai Obor Akbar berlangsung bersamaan dengan
pergantian Tahun Baru Imlek, menunjukkan bahwa kedua komunitas – Muslim yang
menyambut Ramadan dan masyarakat Tionghoa yang merayakan Imlek – bisa saling
menghormati momen penting masing-masing tanpa saling mengganggu.
Hal ini sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika,
semboyan yang menjadi landasan kerukunan sosial di Indonesia. Bahkan di sudut
lain Kalbar seperti Singkawang, ribuan masyarakat ikut serta bersama dalam
pawai obor dan lentera, menciptakan paduan cahaya lampion dan obor yang
menjadi simbol kuat toleransi serta memperkuat citra kota tersebut sebagai
salah satu kota paling toleran di Indonesia.
Tak hanya lampion biasa yang menghiasi perayaan Imlek, banyak komunitas di Kalimantan Barat juga menampilkan lampion raksasa sebagai karya seni yang menarik perhatian publik.
Di Kabupaten Kubu Raya misalnya, Vihara Tri Dharma Hiang
Thian Siang Tie di Sungai Kakap menghadirkan lampion raksasa dengan ukuran
besar yang menjadi magnet bagi warga lokal dan pengunjung dari luar wilayah.
Lampion ini dibangun secara gotong-royong oleh komunitas setempat sebagai wujud
kebersamaan dan kecintaan pada tradisi Imlek, sekaligus mendukung pariwisata
budaya di daerah tersebut.
Lampion raksasa semacam ini tidak hanya menjadi ikon
perayaan, tetapi juga menjadi wadah partisipasi masyarakat dalam merayakan
tradisi sekaligus memperkuat hubungan sosial di tengah keragaman budaya.
Perayaan Imlek tidak hanya disambut sebagai peristiwa keagamaan dan budaya oleh komunitas Tionghoa, tetapi juga sebagai kesempatan memperkuat nilai kebangsaan Indonesia secara lebih luas. Program seperti Harmoni Imlek Nusantara 2026 merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam menjadikan perayaan ini sebagai ruang memperkokoh persatuan serta menguatkan toleransi di antara kelompok sosial yang berbeda dalam masyarakat nasional.
Event semacam ini diharapkan bisa menjadi contoh bagi daerah
lain di Indonesia bahwa perayaan budaya, termasuk Imlek, dapat digunakan
sebagai sarana memperluas dialog antarumat beragama, menghargai keberagaman,
dan merawat kerukunan sebagai modal utama dalam hidup bersama sebagai bangsa.
Perayaan Imlek di Kalimantan Barat tahun ini menjadi gambaran hidup bersama yang harmonis antara berbagai komunitas sosial. Cahaya lampion merah yang berpadu dengan nyala obor dari Pawai Ramadan tidak hanya menghadirkan pemandangan yang indah, tetapi juga simbol kuat bahwa persatuan dan kebersamaan tetap menjadi inti perjalanan hidup berbangsa dan bernegara.
Kegiatan ini memberi pelajaran penting bahwa perbedaan
bukanlah hambatan, tetapi justru menjadi kekayaan budaya yang memperkaya cara
kita saling berinteraksi dan memaknai sebuah perayaan. Semangat ini diharapkan
terus tumbuh dan berkembang ke depannya, menjadi salah satu fondasi utama dalam
menjaga kerukunan sosial di Kalimantan Barat dan Indonesia secara keseluruhan.







