![]() |
| Ilustrasi AI |
Kalimantan Timur — Upaya memperkuat konektivitas
telekomunikasi di wilayah terpencil di Kalimantan Timur semakin intensif
setelah PT Bayan Resources Tbk atau yang dikenal sebagai Bayan Group
membangun 21 menara telekomunikasi di sejumlah titik daerah yang selama
ini minim akses jaringan komunikasi. Langkah strategis ini tidak hanya
memperluas jangkauan sinyal seluler, tetapi juga memberikan harapan baru bagi
masyarakat pedalaman yang selama ini kurang terlayani layanan digital.
Program pembangunan infrastruktur telekomunikasi ini
merupakan bagian dari komitmen keberlanjutan (sustainability) dan
program tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social
responsibility/CSR) yang dijalankan perusahaan. Menara-menara ini
diharapkan mampu memperkaya konektivitas serta meningkatkan aktivitas sosial
ekonomi masyarakat, terutama di wilayah Kalimantan Timur yang selama puluhan
tahun dikenal memiliki titik blank spot — daerah yang sulit dijangkau oleh
jaringan komunikasi konvensional.
Peran Strategis Menara Telekomunikasi Bagi Komunitas Pedalaman
Menurut keterangan resmi Direksi Bayan Group dalam
keterangannya yang dipublikasikan Oktober 2025, pembangunan 21 menara tersebut
bertujuan untuk memperkuat akses jaringan telekomunikasi yang selama ini kurang
memadai di sejumlah kecamatan dan kabupaten yang jauh dari pusat kota. Proyek
ini bersifat jangka panjang dan telah dimulai sejak 2009, kemudian
berkembang seiring kebutuhan masyarakat di daerah terpencil.
Menara-menara ini tersebar di tiga wilayah utama di Provinsi
Kalimantan Timur, yakni Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Kutai Timur,
dan Kabupaten Kutai Barat — wilayah yang selama ini dikenal memiliki medan
geografis yang menantang dan jaringan komunikasi yang terbatas. Peningkatan
infrastruktur ini diharapkan memberikan dampak positif terhadap kehidupan
masyarakat setempat.
Dampak konektivitas tidak hanya terasa dalam hal komunikasi
antarwilayah. Akses telekomunikasi yang lebih baik berpotensi meningkatkan
produktivitas ekonomi, memperluas peluang usaha mikro dan kecil, serta membuka
ruang bagi anak-anak dan remaja untuk mengakses pendidikan digital. Di era
digital saat ini, kemampuan berkomunikasi secara real-time juga menjadi faktor
penting dalam layanan kesehatan, perdagangan, dan pelayanan publik lainnya.
Menara Telekomunikasi sebagai Jembatan Digital di Area Blank Spot
Keberadaan menara telekomunikasi di daerah terpencil secara
langsung berkontribusi terhadap upaya pemerataan konektivitas di Indonesia,
sejalan dengan agenda nasional untuk memastikan tidak ada wilayah yang
tertinggal dalam hal akses informasi dan komunikasi. Konektivitas digital yang
merata tidak hanya menjadi kebutuhan masyarakat urban, tetapi juga menjadi
jembatan bagi masyarakat pedesaan agar tidak tertinggal dari perkembangan
teknologi dan ekonomi.
Secara nasional, Indonesia memiliki berbagai program untuk
mendukung penetrasi internet di wilayah 3T (Terdepan, Tertinggal, Terluar).
Konektivitas pada wilayah seperti ini sering kali membutuhkan sejumlah titik
menara BTS (Base Transceiver Station) dan infrastruktur pendukung
lainnya agar sinyal dapat menjangkau area luas yang selama ini sulit diakses
oleh operator konvensional.
Kendati begitu, pembangunan infrastruktur semacam ini bukan
tanpa tantangan. Wilayah terpencil biasanya memiliki kondisi topografi yang
berat, membutuhkan sumber energi alternatif untuk menara (misalnya pemanfaatan
panel surya atau generator), serta koordinasi intensif dengan pemerintah daerah
setempat untuk penyediaan lahan dan operasional.
Kontribusi Jangka Panjang Terhadap Kesejahteraan Masyarakat
Dengan adanya akses telekomunikasi yang lebih baik,
masyarakat di wilayah pedalaman akan memiliki ruang komunikasi yang lebih luas
— bukan hanya sekadar panggilan suara, tetapi akses data yang membuka
kesempatan untuk mengembangkan potensi ekonomi lokal. Akses digital misalnya
dapat dimanfaatkan oleh pedagang lokal untuk memasarkan produknya kepada
audiens yang lebih luas, atau dipakai oleh petani untuk mengakses informasi
harga komoditas dan tren pasar secara real-time.
Selain itu, jaringan telekomunikasi yang kuat juga menjadi
elemen penting dalam kesiapsiagaan bencana, layanan kesehatan jarak jauh (telemedicine),
serta pembelajaran daring, yang semuanya sangat dibutuhkan di desa-desa yang
jauh dari pusat layanan publik. Hal ini menjadi semakin penting di era
transformasi digital di mana internet merupakan bagian fundamental dari
kehidupan sehari-hari masyarakat modern.
Sinergi Swasta dan Pemerintah dalam Pemerataan Konektivitas
Kolaborasi antara sektor swasta dan pemerintah dalam
pembangunan infrastruktur digital sudah menjadi fenomena penting. Program
serupa juga dilakukan oleh pemerintah melalui target pemasangan titik internet
desa yang merata, terutama untuk wilayah yang secara geografis sulit dijangkau
jaringan kabel atau seluler standar. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur
bahkan menargetkan ribuan titik layanan internet di desa sepanjang 2025 sebagai
bagian dari inisiatif untuk mengurangi kesenjangan digital.
Selain itu, dukungan dari teknologi satelit juga membantu
memperluas jangkauan internet di desa-desa yang tidak terjangkau jaringan kabel
atau seluler, membuka peluang inklusi digital bagi masyarakat yang selama ini
terbatas aksesnya. Hal ini dilakukan di beberapa kawasan terpencil di Kaltim
yang merupakan area dengan medan geografi terberat.
Peran CSR dalam Infrastruktur Telekomunikasi
Program pembangunan menara telekomunikasi oleh Bayan Group
juga mencerminkan pendekatan CSR yang efektif — yaitu tidak hanya membangun
fasilitas fisik, tetapi juga memperhatikan dampak sosial ekonomi bagi
masyarakat. Inisiatif semacam ini menjadi bentuk kontribusi korporasi terhadap
pembangunan daerah, sejalan dengan prinsip keberlanjutan (sustainability)
dalam kegiatan operasional perusahaan.
Selain itu, keterlibatan perusahaan swasta seperti Bayan
Group dalam memperkuat akses telekomunikasi juga menunjukkan bahwa
pembangunan infrastruktur dapat berjalan paralel dengan aktivitas industri inti
— dalam hal ini sektor pertambangan — tanpa mengabaikan tanggung jawab sosial
terhadap komunitas sekitar.
Potensi Dampak Positif Terhadap Ekonomi Digital Lokal
Peningkatan layanan telekomunikasi di wilayah pedalaman
dapat mendorong pertumbuhan ekonomi digital lokal. UMKM (Usaha Mikro, Kecil,
dan Menengah) di desa-desa terpencil kini dapat memanfaatkan platform
online untuk memasarkan produk dan jasa mereka kepada konsumen di luar wilayah
mereka sendiri. Akses data dan komunikasi yang lebih baik juga mendorong
inovasi di berbagai sektor, termasuk pendidikan, kesehatan, dan pertanian.
Investasi dalam infrastruktur digital ini diharapkan akan
mempercepat proses inklusi digital, menciptakan peluang kerja baru, dan
mengurangi gap antara pusat dan daerah dalam hal akses teknologi digital.







