Palangka Raya - Kepolisian Negara Republik Indonesia terus memperkuat komitmennya dalam mengatasi bencana tahunan kebakaran hutan dan lahan yang kerap melanda wilayah Kalimantan Tengah. Dalam upaya meminimalkan dampak kerusakan lingkungan dan kesehatan masyarakat, Polri memaksimalkan penanganan dengan mengintegrasikan berbagai aspek strategis. Pendekatan ini mencakup penggabungan kekuatan personel di lapangan, optimalisasi pemanfaatan teknologi modern, pengerahan kendaraan taktis khusus, hingga penerapan metode rekayasa tata air di kawasan lahan gambut yang rentan terbakar. Langkah komprehensif ini dinilai krusial mengingat tantangan di lapangan yang semakin kompleks akibat cuaca ekstrem.
Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo menegaskan bahwa penanganan kebakaran hutan dan lahan bukan merupakan tugas satu instansi saja, melainkan tanggung jawab kolektif yang membutuhkan sinergi dan kerja keras dari seluruh elemen bangsa. Saat meninjau langsung Posko Induk Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan di bawah naungan Kepolisian Daerah Kalimantan Tengah di Palangka Raya, ia menyampaikan bahwa seluruh jajaran harus mengerahkan usaha terbaik mereka. Peninjauan langsung ini bertujuan untuk memastikan kesiapan personel, kelengkapan sarana prasarana, serta efektivitas inovasi teknologi yang dikembangkan untuk menjangkau titik kebakaran yang sulit diakses oleh jalur darat biasa.
Kondisi di lapangan saat ini memang cukup menantang akibat pengaruh fenomena iklim global. Berdasarkan pemantauan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, wilayah Kalimantan Tengah telah memasuki fase El Nino yang sangat kuat, khususnya pada periode Agustus hingga September. Dampak dari fenomena ini adalah peningkatan suhu udara yang signifikan serta tingkat kekeringan yang mendekati kategori ekstrem. Kondisi inilah yang memicu vegetasi dan lahan gambut menjadi sangat kering dan mudah tersulut api, bahkan oleh percikan sekecil apa pun. Oleh karena itu, kesiapsiagaan penuh dari tim gabungan menjadi harga mati untuk mencegah kebakaran meluas ke area konservasi dan permukiman warga.
Guna mengatasi kendala geografis, Polda Kalimantan Tengah telah mengerahkan berbagai armada kendaraan taktis. Di antaranya adalah belasan kendaraan kabin ganda yang dilengkapi tangki air, puluhan sepeda motor yang telah dimodifikasi agar mampu menembus jalur setapak hutan, serta kendaraan segala medan atau ATV. Selain armada darat, teknologi udara berupa drone pemantau suhu atau thermal drone juga diterjunkan. Drone ini memiliki peran vital dalam mendeteksi titik panas yang tersembunyi di bawah permukaan gambut, terutama ketika jarak pandang di lapangan sangat terbatas akibat kepungan asap tebal yang menyulitkan pengamatan visual secara langsung.
Keselamatan para petugas yang berada di garis depan pemadaman juga menjadi prioritas utama dalam operasi kemanusiaan ini. Polri telah mendistribusikan ratusan paket alat pelindung diri khusus, yang meliputi pakaian antipanas, sepatu boot keselamatan, sarung tangan khusus, hingga masker respirator pelindung asap berbahaya. Tidak kalah penting, ratusan tabung oksigen dengan berbagai kapasitas juga disiagakan di posko-posko lapangan untuk mengantisipasi adanya personel maupun warga sekitar yang mengalami sesak napas akibat paparan asap pekat yang mengandung gas beracun.
Tantangan terbesar dalam penanggulangan kebakaran di wilayah ini terletak pada karakteristik lahan gambut itu sendiri. Karakteristik gambut yang tebal membuat api dapat tersimpan di bawah permukaan tanah dalam waktu lama dan sulit dipadamkan secara konvensional. Data teknis menunjukkan bahwa tinggi muka air di kawasan gambut Kalimantan Tengah saat ini telah menyusut drastis hingga mencapai 120 sentimeter di bawah permukaan tanah, jauh dari batas idealnya yang seharusnya berada pada kisaran 40 sentimeter. Kekeringan ekstrem pada lapisan gambut ini menyebabkan area tersebut menjadi bahan bakar yang sangat mudah terbakar secara masif.
Untuk mengatasi masalah penurunan muka air tersebut, kepolisian bersama instansi terkait menerapkan strategi rekayasa tata air. Metode ini dilakukan melalui pembuatan sekat kanal guna menahan laju air agar tidak cepat kering, pengisian kembali kantong-kantong air, serta optimalisasi ratusan sumur bor dan embung yang telah dibangun di titik-titik rawan kebakaran. Infrastruktur mitigasi air ini sangat krusial untuk memastikan ketersediaan pasokan air yang cukup bagi petugas pemadam saat melakukan pemadaman basah secara langsung di lokasi kebakaran hutan.
Kondisi kebakaran hutan di Kalimantan Tengah memang memerlukan perhatian yang sangat serius. Berdasarkan data pemantauan sebaran titik panas, tercatat ada ratusan ribu indikasi titik panas dengan area hutan dan lahan yang terbakar mencapai ribuan hektare. Kabupaten Kotawaringin Timur tercatat sebagai wilayah dengan tingkat kerawanan dan luasan kebakaran tertinggi di provinsi tersebut. Kondisi ini diperparah dengan memburuknya kualitas udara di beberapa kota besar, termasuk Palangka Raya, di mana indeks standar pencemaran udara sempat menyentuh angka yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.
Melalui integrasi teknologi modern, kesiapan personel, dan pengelolaan ekosistem gambut yang tepat, diharapkan dampak buruk dari kebakaran hutan ini dapat ditekan seminimal mungkin. Pemerintah daerah bersama kepolisian juga terus mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar, demi menjaga kelestarian lingkungan hidup dan kesehatan generasi mendatang. Langkah-langkah preventif dan represif yang terukur diharapkan mampu memulihkan situasi lingkungan di Kalimantan Tengah agar kembali kondusif.






