Palangka Raya - Badan Nasional Penanggulangan Bencana terus meningkatkan intensitas penanganan kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah kawasan di Pulau Kalimantan. Langkah terpadu ini diambil menyusul dampak fenomena iklim El Niño yang memicu kekeringan ekstrem dan memperluas persebaran titik api. Penanganan difokuskan pada penggabungan strategi operasi modifikasi cuaca, pengeboman air dari udara, serta pergerakan tim satgas darat untuk menuntaskan bara api yang tersembunyi di kedalaman lahan gambut.
Kondisi geografis Kalimantan yang didominasi oleh hamparan lahan gambut menjadi tantangan tersendiri bagi petugas gabungan di lapangan. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Letnan Jenderal TNI Suharyanto menyampaikan bahwa karakter lahan gambut menuntut penanganan yang berbeda dibandingkan kebakaran di tanah mineral biasa. Karakteristik api di lahan gambut sering kali tampak sudah padam di bagian permukaan, padahal bara api masih terus menjalar perlahan di lapisan bawah tanah sedalam satu hingga dua meter.
Untuk mengatasi persoalan bara bawah tanah tersebut, tim di lapangan tidak hanya mengandalkan pemadaman konvensional dari selang semprot. Petugas mengerahkan peralatan khusus berupa tombak suntik gambut untuk mengalirkan air bertekanan langsung menembus lapisan tanah dalam. Upaya pembasahan intensif ini bertujuan menjenuhkan material organik yang mengering sampai kondisi tanah menyerupai bubur lumpur, sehingga potensi api menyala kembali dapat diputus sepenuhnya.
Selain ancaman kobaran api, kabut asap pekat yang ditimbulkan dari pembakaran gambut basah menjadi kendala serius yang mengganggu aktivitas masyarakat serta keselamatan jalur penerbangan. Partikel asap tebal yang terus mengepul membuat jarak pandang berkurang drastis di beberapa simpul transportasi udara Kalimantan. Karena itu, percepatan operasi modifikasi cuaca atau penyemaian awan hujan buatan diposisikan sebagai langkah prioritas guna mempercepat pemadaman api skala luas yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Berdasarkan data pemantauan terpadu, akumulasi luas indikasi area yang terbakar di provinsi-provinsi prioritas lahan gambut telah mencapai puluhan ribu hektare. Pemerintah pusat bersama instansi terkait menindaklanjuti setiap anomali titik panas yang terpantau melalui citra satelit dan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Setiap deteksi titik panas tersebut segera diverifikasi oleh tim patroli untuk memastikan keberadaan titik api nyata sebelum regu pemadam diterjunkan langsung ke koordinat sasaran.
Guna menopang kekuatan armada di lapangan, puluhan unit pesawat dan helikopter telah dikerahkan secara terpusat. Armada udara ini menjalankan misi ganda, mulai dari patroli pengawasan harian, pelaksanaan rekayasa cuaca, hingga operasi pengeboman air menggunakan helikopter berkapasitas angkut besar, termasuk helikopter Chinook CH-47 yang difungsikan untuk memperkuat jangkauan pemadaman titik api terpencil. Seluruh operasi udara ini diselaraskan dengan pergerakan puluhan ribu personel satgas darat yang terdiri atas unsur TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, regu Manggala Agni, serta relawan masyarakat peduli api.
Perhatian pengamanan lingkungan juga diarahkan ke kawasan Kalimantan Timur, khususnya koridor penyangga Ibu Kota Nusantara. Area seperti Taman Hutan Raya Bukit Soeharto dan Kabupaten Berau terus dipantau secara ketat mengingat vegetasi di wilayah perbukitan tersebut sempat memicu titik api berulang. Pola kemunculan api yang padam kemudian menyala kembali diantisipasi dengan penempatan regu darat dan siaga armada pengeboman air agar api tidak meluas ke infrastruktur strategis nasional.
Sementara itu, wilayah Kalimantan Tengah mencatatkan luasan lahan terbakar yang signifikan di area rawa gambut. Koordinasi pemadaman darat berhasil membatasi penjalaran api di puluhan titik kebakaran aktif. Di Kalimantan Selatan, konsentrasi pemadaman terfokus pada kawasan Gunung Damar di Banjarbaru yang telah berlangsung selama lebih dari dua pekan. Karakter vegetasi semak belukar yang kering di atas tanah berbatu dan gambut dangkal menuntut kerja keras petugas darat untuk menyekat jalur api agar tidak mendekati permukiman warga.
Terkait isu sebaran asap yang melintasi perbatasan negara menuju Sarawak, Malaysia, otoritas penanggulangan bencana menegaskan bahwa fenomena tersebut dipengaruhi oleh dinamika arah angin serta keberadaan titik kebakaran lokal di sepanjang garis batas negara. Pemerintah Indonesia berkomitmen penuh memitigasi dampak asap ini secara sungguh-sungguh agar tidak menimbulkan gangguan kesehatan publik maupun merugikan aktivitas perekonomian warga di kawasan perbatasan dan negara tetangga.
Kombinasi operasi udara dan darat kini menjadi kunci pertahanan dalam meminimalkan kerusakan ekologis di seluruh bentang alam Kalimantan. Kerja sama lintas sektoral antara aparat pertahanan, penegak hukum, dan masyarakat terus dipererat guna mencegah timbulnya titik api baru akibat aktivitas pembersihan lahan secara ilegal. Kesiapsiagaan penuh seluruh elemen tanggap darurat diharapkan mampu menjaga stabilitas lingkungan serta melindungi ruang hidup masyarakat hingga periode puncak musim kemarau berakhir. Penanganan karhutla yang komprehensif ini menjadi pembuktian penting bagi perlindungan keanekaragaman hayati nusantara.







