Banjarmasin - Forum Jurnalis Perempuan Indonesia Wilayah Kalimantan Selatan berkolaborasi dengan Bank Kalsel menggelar diskusi reflektif guna memperkuat peran strategis jurnalis perempuan dalam mengawal isu-isu publik dan kelestarian lingkungan di daerah. Pertemuan dengan tema mengenai kedaulatan informasi dan keadilan sosial bagi kelompok rentan ini diselenggarakan di WKK Stage Banjarmasin dengan dihadiri puluhan jurnalis, akademisi, serta praktisi komunikasi. Kerja sama sinergis antara pers perempuan dan sektor perbankan daerah ini menjadi momentum penting untuk menegaskan fungsi pers sebagai pilar demokrasi yang tidak hanya dituntut menyajikan informasi secara cepat, tetapi juga mengedepankan nilai akurasi, keberimbangan, serta tanggung jawab sosial di tengah derasnya arus digitalisasi.
Ketua Forum Jurnalis Perempuan Indonesia Kalimantan Selatan, Sunarti, menjabarkan tantangan jurnalisme di era modern kini semakin kompleks seiring melimpahnya penyebaran informasi di media sosial. Menurut pandangannya, tuntutan kecepatan menyajikan berita sering kali membuat media mengabaikan tahapan verifikasi yang ketat. Padahal, verifikasi data merupakan prasyarat mutlak jurnalisme profesional yang membedakan pers dengan konten informasi biasa di internet. Sunarti mengingatkan jurnalis perempuan memiliki tanggung jawab moral menyajikan berita berimbang tanpa memperkuat stigma negatif terhadap kelompok rentan. Kritik terhadap kebijakan pemerintah daerah tetap harus disuarakan dengan tajam, namun wajib berpijak pada fakta demi kepentingan masyarakat luas.
Selain mengupas kedaulatan informasi digital, diskusi ini memberikan porsi pembahasan besar terhadap dinamika lingkungan hidup di Kalimantan Selatan. Jurnalis senior TVRI Kalimantan Selatan, Ratna Sari Dewi, menyoroti kecenderungan media yang sering kali bertindak layaknya pemadam kebakaran dalam meliput bencana alam. Pers dinilai kerap baru hadir secara masif ketika bencana ekologis seperti kebakaran hutan dan lahan serta musibah banjir sudah telanjur meluas di permukiman. Padahal, media komunikasi memiliki peran preventif melalui penyusunan agenda pemberitaan peringatan dini sebelum krisis lingkungan tersebut terjadi secara periodik di daerah ini.
Siklus tahunan bencana kebakaran hutan di Kalimantan Selatan sebenarnya merupakan fenomena ekologis yang dapat diprediksi melalui analisis cuaca. Oleh sebab itu, Ratna Sari Dewi mendorong para jurnalis menerapkan prinsip jurnalisme presisi yang memanfaatkan data meteorologi untuk memformulasikan berita edukatif bagi masyarakat di kawasan rawan bencana. Melalui pendekatan jurnalisme preventif ini, pers tidak sekadar melaporkan statistik kerugian pascabencana, melainkan aktif mengawal kesiapan mitigasi dari instansi terkait. Perubahan pola pikir jurnalis menjadi agen pencegah bencana dinilai sangat krusial demi meminimalkan kerusakan alam yang merugikan kelangsungan hidup masyarakat.
Melihat tantangan profesi yang dinamis, Ketua Pusat Studi Ekonomi Kreatif LPPM Universitas Lambung Mangkurat, Hastin Umi Anisah, menekankan pentingnya peningkatan kompetensi jurnalis perempuan secara berkelanjutan. Kemampuan menulis berita tidak lagi memadai apabila tidak diimbangi pemahaman mengenai pemanfaatan teknologi digital serta penguasaan karakteristik lingkungan lokal. Sebagai wilayah yang didominasi oleh bentang lahan basah dan ekosistem gambut, Kalimantan Selatan membutuhkan kehadiran jurnalis yang memahami aspek ilmiah tata kelola lahan, manajemen air, hingga regulasi perlindungan lingkungan yang diterbitkan oleh pemerintah.
Hastin menambahkan bahwa penguasaan pemahaman ekologis yang mendalam akan memandu jurnalis merumuskan pertanyaan kritis serta menyusun analisis mendalam saat melakukan investigasi lapangan. Jurnalis perempuan diharapkan tidak terjebak menjadi penerima siaran pers institusi tanpa telaah kritis, melainkan harus mampu memetakan hubungan sebab-akibat antara pembangunan infrastruktur dengan keberlanjutan ekosistem sekitar. Melalui pendekatan tersebut, produk jurnalistik yang dihasilkan akan lebih berbobot, bernilai edukasi, serta mampu memicu kesadaran kolektif dari pemangku kebijakan dan masyarakat untuk menjaga kelestarian alam di Kalimantan Selatan.
Dukungan dari Bank Kalsel sebagai mitra strategis mencerminkan komitmen korporasi mendukung terciptanya ekosistem media lokal yang sehat dan profesional. Sebagai lembaga keuangan daerah, Bank Kalsel memandang pentingnya stabilitas sosial serta kelestarian lingkungan sebagai fondasi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Kolaborasi ini diharapkan memacu peningkatan kualitas jurnalis perempuan agar mampu memproduksi karya jurnalisme pembangunan yang konstruktif. Melalui pemberitaan pers yang sehat, program pelestarian alam serta pemberdayaan ekonomi masyarakat dapat tersampaikan secara transparan kepada publik luas secara berkelanjutan.
Pertemuan reflektif yang berlangsung dinamis ini juga dihadiri perwakilan Aliansi Jurnalis Independen, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia, serta jurnalis senior setempat. Kehadiran organisasi profesi pers ini memperkuat ikhtiar bersama dalam menegakkan kemerdekaan pers yang beretika dan bertanggung jawab. Melalui wadah diskusi kolaboratif ini, jurnalis perempuan di Kalimantan Selatan diharapkan dapat memperluas jejaring profesional, bertukar wawasan kepenulisan, serta terus konsisten memegang teguh integritas dalam menjalankan peran kontrol sosial demi mewujudkan pembangunan daerah yang berkeadilan, lestari, dan inklusif.






