Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Ekonomi Kalimantan Timur 2026 Diprediksi Tumbuh Lebih Tinggi: IKN dan Industri Pengolahan Jadi Motor Utama

 

IKN — Ekonomi Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) diperkirakan akan mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi pada tahun 2026, meskipun menghadapi tantangan global seperti ketidakpastian ekonomi internasional dan permintaan dunia yang belum stabil. Optimisme ini didorong oleh kontribusi sektor industri pengolahan dan sektor konstruksi, termasuk dampak lanjutan dari pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang terus berjalan.

Pernyataan ini disampaikan Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Timur, Bayuadi Hardiyanto, dalam acara peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) Tahun 2025 dan FGD Perekonomian Kaltim di Samarinda. Menurut Bayuadi, meski tidak mudah, Kaltim tetap memiliki daya tarik ekonomi sendiri di tengah risiko global yang melingkupi ekonomi nasional.


IKN dan Konstruksi: Dorongan Utama Pertumbuhan Ekonomi

Salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi Kaltim adalah sektor konstruksi yang tumbuh seiring dengan kelanjutan pembangunan IKN. Investasi besar-besaran dalam proyek infrastruktur, terutama pengembangan ekosistem legislatif dan yudikatif di kawasan ibu kota baru, diperkirakan akan memperkuat aktivitas ekonomi daerah.

Menurut Bayuadi, peningkatan anggaran untuk pembangunan kedua ekosistem tersebut pada 2026 diproyeksikan naik sekitar 6 persen dibandingkan 2025 — sinyal positif bagi aktivitas konstruksi yang menyerap tenaga kerja dan mendorong permintaan barang serta jasa lokal.

Pengembangan infrastruktur ibu kota baru tidak hanya berdampak pada kemajuan fisik kawasan pemerintahan, tetapi juga meningkatkan multiplier effect ekonomi regional, termasuk sektor layanan, transportasi, dan hunian. Proyeksi ini sejalan dengan prediksi berbagai lembaga akan meningkatnya arus investasi dan aktivitas ekonomi yang membawa efek positif pada pertumbuhan PDRB Kaltim.


Industri Pengolahan: Penopang Pertumbuhan Ekonomi Kaltim

Selain konstruksi, sektor industri pengolahan diperkirakan menjadi penyokong utama pertumbuhan ekonomi Kaltim pada 2026. Hal ini disebabkan oleh penambahan kapasitas industri pengolahan, khususnya kilang (refinery), yang mulai beroperasi secara optimal.

Peningkatan kapasitas pengolahan migas dan komoditas lain tidak hanya menambah nilai tambah produk, tetapi juga memperluas basis industri di Kaltim, membuka peluang kerja serta memperkuat struktur ekonomi daerah dari sektor hulu ke hilir. Dengan demikian, output sektor industri pengolahan berpotensi menjadi salah satu kontributor terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi regional.

Kinerja industri ini mendukung upaya diversifikasi ekonomi Kaltim agar tidak terlalu bergantung pada sektor pertambangan semata. Penguatan basis industri juga membuka peluang investasi baru, termasuk dari sektor swasta maupun asing yang ingin memanfaatkan potensi besar di kawasan ini.


Sektor Pertanian dan Tantangan Eksternal

Di luar dua sektor utama tersebut, sektor pertanian Kaltim juga menunjukkan sinyal positif seiring dengan rencana optimalisasi lahan (oplah) dan peningkatan peran program Corporate Social Responsibility (CSR) di daerah. Target baru mencakup optimalisasi lahan produktif hingga mencapai 3.000 hektare di 2026, sebagai bentuk strategi memperkuat ketahanan pangan lokal.

Namun demikian, pertumbuhan sektor pertanian tidak sepenuhnya mulus. Risiko termasuk fenomena La Nina yang diperkirakan akan membawa cuaca basah pada 2026 — berpotensi menurunkan produktivitas tanaman seperti kelapa sawit yang sedang menghadapi fase peremajaan (replanting) pada akhir 2025. Ini bisa berdampak pada produksi Tandan Buah Segar (TBS), salah satu komoditas unggulan di sektor perkebunan.

Sektor pertambangan juga diproyeksikan mengalami perlambatan pada 2026 akibat penurunan permintaan batu bara dari Tiongkok sebesar sekitar 1,49 persen (year-on-year) akibat tren transisi energi global ke sumber yang lebih bersih. Kondisi ini menunjukkan pentingnya strategi diversifikasi ekonomi dan peningkatan nilai tambah di berbagai sektor untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Kaltim.


Risiko Inflasi dan Stabilitas Harga

Menjaga stabilitas harga menjadi pekerjaan penting dalam konteks pertumbuhan ekonomi. Proyeksi BI menunjukkan bahwa inflasi di Kaltim pada 2026 diperkirakan tetap berada pada kisaran target nasional sebesar 2,5 persen.

Kelompok pengeluaran yang diperkirakan menjadi kontributor utama inflasi adalah makanan, minuman, dan tembakau — termasuk komoditas yang cenderung volatil seperti bahan makanan. Tekanan harga juga dipengaruhi oleh kondisi global seperti harga emas internasional, yang rentan terhadap perubahan.

Strategi pengendalian harga menjadi penting agar daya beli masyarakat tidak tergerus oleh lonjakan biaya hidup, terutama menjelang tahun politik dan momentum konsumsi yang lebih tinggi. Kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan lembaga moneter merupakan kunci mengelola risiko ini secara efektif.


Potensi Jangka Panjang dan Peningkatan Kesejahteraan

Lebih luas, proyeksi pertumbuhan ekonomi Kaltim tidak hanya dimaknai sebagai angka statistik. Pertumbuhan yang berkelanjutan akan berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, penciptaan lapangan kerja, serta perbaikan kualitas hidup secara umum. Pembangunan IKN, misalnya, diprediksi menarik investasi dalam jangka panjang yang ikut memperkuat basis ekonomi lokal hingga lintas sektor.

Pengembangan IKN juga dipandang sebagai peluang untuk mengurangi kesenjangan ekonomi antara Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa, termasuk provinsi seperti Kaltim yang kini semakin mendapat sorotan global sebagai pusat pemerintahan dan investasi masa depan.

Selain itu, peningkatan kapasitas industri pengolahan dan perluasan sektor jasa terkait kegiatan IKN akan menciptakan efek positif pada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di wilayah penyangga, memperkuat jaringan ekonomi antarwilayah, dan mendorong sinergi antara sektor formal dan informal.

Meski optimisme membaik, tidak semua risiko dapat diabaikan. Tantangan global seperti ketidakpastian ekonomi internasional, perubahan permintaan komoditas, serta dampak perubahan iklim menjadi faktor eksternal yang harus diantisipasi. Untuk itu, kebijakan fiskal dan moneter yang adaptif, program pelatihan tenaga kerja, serta insentif investasi akan memainkan peran penting dalam menjaga momentum pertumbuhan.

Pemerintah daerah bersama Bank Indonesia, pelaku industri, dan pemangku kepentingan lainnya perlu terus meningkatkan koordinasi untuk memastikan bahwa langkah-langkah strategis dapat meminimalkan risiko sekaligus memaksimalkan potensi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

 

Also Read
Tag:
Latest News
  • Ekonomi Kalimantan Timur 2026 Diprediksi Tumbuh Lebih Tinggi: IKN dan Industri Pengolahan Jadi Motor Utama
  • Ekonomi Kalimantan Timur 2026 Diprediksi Tumbuh Lebih Tinggi: IKN dan Industri Pengolahan Jadi Motor Utama
  • Ekonomi Kalimantan Timur 2026 Diprediksi Tumbuh Lebih Tinggi: IKN dan Industri Pengolahan Jadi Motor Utama
  • Ekonomi Kalimantan Timur 2026 Diprediksi Tumbuh Lebih Tinggi: IKN dan Industri Pengolahan Jadi Motor Utama
  • Ekonomi Kalimantan Timur 2026 Diprediksi Tumbuh Lebih Tinggi: IKN dan Industri Pengolahan Jadi Motor Utama
  • Ekonomi Kalimantan Timur 2026 Diprediksi Tumbuh Lebih Tinggi: IKN dan Industri Pengolahan Jadi Motor Utama
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad