Pontianak - Harga sejumlah barang kebutuhan pokok di beberapa pasar tradisional di wilayah Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, terpantau berada dalam kondisi yang relatif stabil. Berdasarkan pemantauan langsung di lapangan serta laporan dari para pelaku usaha komoditas pangan, kestabilan ini berlangsung dengan baik di tengah masuknya fase perubahan cuaca pancaroba yang biasanya memicu kekhawatiran terkait gangguan distribusi jalur laut dari luar pulau. Sejumlah barang pokok penting seperti beras medium, minyak goreng kemasan, gula pasir konsumsi, hingga tepung terigu tidak menunjukkan adanya lonjakan harga yang signifikan, sehingga tingkat daya beli masyarakat di tingkat konsumen rumah tangga tetap terjaga dengan aman.
Aktivitas transaksi perdagangan di Pasar Flamboyan, yang diakui sebagai salah satu pusat distribusi pangan dan bahan pokok terbesar di kota ini, terus berjalan dengan normal tanpa adanya kepanikan belanja dari masyarakat lokal. Para pedagang setempat mengonfirmasi bahwa pasokan barang dari pihak agen dan distributor hingga kini mengalir lancar tanpa adanya hambatan teknik pengiriman. Untuk komoditas beras kualitas medium, harga jual eceran di lapak pasar tradisional bertahan stabil di kisaran Rp13.500 hingga Rp14.500 per kilogram, bergantung pada merek dagang dan tingkat kebersihan bulirnya. Sementara untuk komoditas beras kualitas premium, para pedagang masih melepasnya ke tangan konsumen dengan kisaran harga rata-rata Rp16.500 hingga Rp17.500 per kilogram.
Kondisi perkembangan harga yang serupa juga terlihat jelas pada komoditas minyak goreng, baik minyak goreng curah maupun minyak goreng kemasan rakyat bermerek Minyakita. Minyak goreng curah saat ini dipasarkan secara eceran sesuai dengan ketetapan Harga Eceran Tertinggi dari pemerintah, yaitu berkisar antara Rp15.500 hingga Rp16.000 per liter. Untuk pasokan produk Minyakita sendiri, ketersediaannya di kalangan pedagang pasar dinilai sangat memadai untuk memenuhi lonjakan permintaan harian konsumen rumah tangga serta pelaku usaha mikro sektor kuliner. Kelancaran rantai pasokan dari pihak agen lokal di Kalimantan Barat menjadi faktor kunci yang berhasil mencegah terjadinya kelangkaan stok barang di pasaran umum.
Meskipun harga barang pokok utama stabil, fluktuasi harga yang dinamis masih kerap kali terjadi pada kelompok komoditas produk hortikultura segar seperti cabai rawit, bawang merah, dan bawang putih. Mengingat sebagian besar pasokan hortikultura di wilayah Kalimantan Barat ini masih didatangkan dari luar daerah seperti Provinsi Jawa Timur dan Sulawesi Selatan, tingkat kestabilan harganya sangat dipengaruhi oleh kelancaran transportasi logistik laut. Saat ini, harga cabai rawit merah di tingkat pedagang eceran di Kota Pontianak bertahan pada kisaran Rp55.000 hingga Rp60.000 per kilogram. Sementara itu, komoditas bawang merah segar dipasarkan rata-rata Rp30.000 per kilogram, dan bawang putih bersih berada pada kisaran Rp38.000 per kilogram.
Kelancaran arus logistik pengiriman barang melalui Pelabuhan Dwikora Pontianak diakui memegang peranan yang amat krusial dalam menjaga keandalan rantai pasok pangan untuk wilayah perkotaan ini. Pemerintah Kota Pontianak bersama instansi terkait terus berupaya menjalin koordinasi yang erat dengan pihak otoritas pelabuhan serta asosiasi ekspedisi muatan kapal laut guna memberikan prioritas layanan bongkar muat bagi armada pengangkut bahan pangan pokok. Langkah antisipasi ini dinilai sangat efektif untuk mengantisipasi potensi keterlambatan kedatangan pasokan barang yang disebabkan oleh faktor cuaca buruk, angin kencang, atau ancaman gelombang laut tinggi yang sering kali melanda perairan Laut Jawa.
Langkah antisipatif dalam pengendalian inflasi daerah ini juga terus diperkuat melalui peran aktif dari jajaran Tim Pengendalian Inflasi Daerah Kota Pontianak bekerja sama dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat. Secara berkala, tim gabungan lintas sektor ini senantiasa mengoptimalkan sistem pemantauan harga pangan berbasis digital demi mendeteksi pergerakan harga komoditas yang dinilai tidak wajar secara dini di pasaran. Jika tim di lapangan menemukan adanya indikasi kenaikan harga melampaui batas kewajaran pada komoditas tertentu, pemerintah daerah akan segera meluncurkan program intervensi pasar berupa Gerakan Pangan Murah serta operasi pasar terjadwal untuk mengembalikan stabilitas harga.
Disamping itu, Perum Bulog Divisi Regional Kalimantan Barat juga terus mengambil peran strategis dalam menjaga kestabilan harga beras di pasar melalui penyaluran program beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan. Beras SPHP ini dialokasikan secara merata langsung ke pasar-pasar tradisional utama dan sejumlah gerai ritel modern yang menjadi mitra resmi Bulog, sehingga memberikan alternatif pilihan pangan yang berkualitas namun tetap terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat. Langkah strategis ini sangat membantu para konsumen dalam memenuhi kebutuhan pangan harian keluarga tanpa perlu merasa khawatir terhadap ancaman gejolak harga pasar yang tinggi di tingkat pedagang eceran.
Keberhasilan dalam menjaga kestabilan harga dan ketersediaan pasokan pangan di Kota Pontianak merupakan hasil nyata dari kerja keras bersama yang membutuhkan komitmen jangka panjang dari seluruh pemangku kepentingan terkait. Mulai dari peran pemerintah daerah dalam perumusan kebijakan, kelancaran armada transportasi logistik, hingga komitmen para pedagang eceran untuk tidak memanfaatkan situasi dengan melakukan penimbunan barang demi meraup keuntungan pribadi. Dengan sinergi yang terus terawat ini, stabilitas harga bahan pokok dapat dipertahankan secara konsisten, sehingga pertumbuhan roda ekonomi daerah dapat terus melaju positif dan kesejahteraan hidup masyarakat luas dapat terus meningkat secara berkelanjutan.






