Palangka Raya - Kepolisian Daerah Kalimantan Tengah terus mengupayakan langkah taktis dan inovatif demi menanggulangi ancaman kebakaran hutan dan lahan yang kerap melanda wilayah setempat, terutama di area tanah gambut yang dikenal sulit dipadamkan. Sebagai bentuk keseriusan dalam penanganan bencana lingkungan ini, Polda Kalimantan Tengah mendapatkan dukungan langsung dari Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia berupa pasokan cairan pemadam khusus berteknologi mutakhir yang dikenal dengan nama X-Fire. Cairan berbahan dasar surfaktan ini dirancang secara khusus untuk mengatasi karakteristik unik dari kebakaran lahan gambut yang sering kali tidak bisa dituntaskan hanya dengan menggunakan air biasa.
Langkah pengujian langsung terhadap keandalan cairan pemadam tersebut dilakukan oleh tim penanganan kebakaran hutan dan lahan dari Kepolisian Daerah Kalimantan Tengah di kawasan Jalan Manduhara Ujung, Kelurahan Kereng Bangkirai, Kecamatan Sebangau, Kota Palangka Raya. Kawasan Kereng Bangkirai sendiri dipilih karena merupakan salah satu titik yang memiliki hamparan lahan gambut cukup dalam dan sangat rentan mengalami kebakaran hebat saat musim kemarau tiba. Karakteristik lahan gambut di wilayah ini membuat api sering kali tidak hanya berkobar di permukaan, melainkan merayap di bawah tanah dan menghasilkan asap pekat yang mengganggu kesehatan masyarakat serta merusak ekosistem sekitar.
Dalam uji coba tersebut, cairan kimia ramah lingkungan X-Fire ini dicampurkan dengan air yang digunakan oleh petugas pemadam di lapangan. Teknologi surfaktan yang terkandung di dalam formula X-Fire bekerja aktif dengan cara menurunkan tegangan permukaan air. Hal ini memungkinkan butiran air pencampur meresap jauh lebih cepat dan lebih dalam ke dalam pori-pori tanah gambut yang kering dan bersifat hidrofobik atau menolak air. Dengan kemampuan penetrasi yang tinggi ini, air yang telah bercampur formula khusus tersebut dapat menjangkau titik bara api yang tersembunyi beberapa meter di bawah permukaan gambut, sekaligus mendinginkan suhu tanah secara efektif agar api tidak menyala kembali.
Tantangan terbesar dalam penanganan kebakaran hutan di Kalimantan Tengah memang terletak pada struktur tanahnya yang didominasi oleh lahan gambut tebal. Pada kondisi kemarau ekstrem, gambut yang mengering akan berfungsi layaknya bahan bakar batu bara yang sangat mudah terbakar dan sulit untuk dipadamkan secara total. Petugas pemadam sering kali tertipu oleh kondisi permukaan lahan yang tampak sudah padam dan basah, padahal di bagian bawah tanah, bara api masih terus menyala dan menjalar ke area lain. Oleh karena itu, kehadiran inovasi teknologi seperti X-Fire ini dinilai menjadi solusi yang sangat dinantikan oleh para personel penyelamat di lapangan guna mempercepat proses pemadaman secara permanen.
Dukungan logistik dan teknologi dari Mabes Polri ini membuktikan bahwa penanganan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah mendapatkan perhatian serius di tingkat nasional. Kebakaran lahan gambut bukan lagi sekadar isu lokal, melainkan permasalahan lingkungan global karena dampaknya yang mampu melepaskan jutaan ton emisi karbon ke atmosfer serta memicu kabut asap lintas batas negara. Kerja sama yang solid antara kepolisian daerah dan markas besar ini diharapkan dapat menekan potensi sebaran titik panas secara signifikan serta meminimalisasi kerusakan hutan yang lebih luas di bumi Tambun Bungai.
Selain melakukan pengujian keandalan formula pemadam, jajaran Polda Kalimantan Tengah juga terus bersinergi dengan berbagai instansi terkait, seperti Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran, Manggala Agni, TNI, serta kelompok Masyarakat Peduli Api di tingkat kelurahan. Kolaborasi multi-pihak ini sangat krusial mengingat luasnya wilayah yang harus diawasi serta keterbatasan personel di lapangan. Melalui pengenalan teknologi baru seperti X-Fire, para petugas di lapangan kini memiliki opsi taktis yang lebih efisien, menghemat penggunaan volume air, serta memangkas waktu kerja yang biasanya dibutuhkan untuk membasahi satu titik lahan gambut yang terbakar.
Penerapan teknologi kimia yang aman bagi lingkungan hidup ini juga diharapkan tidak merusak kualitas air tanah maupun kesuburan tanah gambut pasca-kebakaran. Berdasarkan hasil pengujian awal di Jalan Manduhara Ujung, cairan tersebut terbukti tidak meninggalkan residu berbahaya yang dapat mengancam kelangsungan flora dan fauna endemik Kalimantan yang hidup di kawasan penyangga Taman Nasional Sebangau. Keberhasilan uji coba lapangan ini memicu optimisme baru bahwa penanggulangan karhutla pada masa mendatang dapat dilakukan dengan cara-cara yang lebih cerdas, presisi, dan berbasis teknologi tepat guna.
Ke depan, Polda Kalimantan Tengah berkomitmen untuk terus menyebarluaskan penggunaan formula ini ke polres-polres jajaran yang memiliki kerawanan tinggi terhadap kebakaran lahan gambut. Dengan kesiapan armada yang dilengkapi cairan surfaktan ini, diharapkan respons cepat terhadap munculnya titik api dapat segera dilakukan sebelum meluas. Langkah antisipatif dan pemanfaatan teknologi modern ini menjadi bukti nyata komitmen Polri dalam melindungi kelestarian lingkungan hidup serta menjamin hak masyarakat Kalimantan Tengah untuk menghirup udara yang bersih dan bebas dari ancaman bencana kabut asap tahunan.






