Banjarmasin - Kebakaran hutan dan lahan yang melanda Kalimantan Selatan kembali membawa dampak buruk bagi kelestarian satwa endemik setempat. Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Kalimantan Selatan mengonfirmasi bahwa sebanyak dua belas ekor bekantan ditemukan mati mengenaskan akibat bencana kebakaran hutan dan lahan yang melanda habitat aslinya. Peristiwa memprihatinkan ini terjadi di kawasan Desa Balimau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, yang merupakan salah satu wilayah kantong populasi primata berhidung panjang yang dilindungi tersebut.
Tragedi lingkungan yang memilukan ini terungkap setelah tim penyelamat menerima laporan mendesak dari petugas pemadam kebakaran setempat serta masyarakat Desa Balimau. Berdasarkan laporan awal di lapangan, kobaran api menjalar sangat cepat dan langsung menjebak satwa liar yang sedang beraktivitas di dalam hutan. Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan, Agus Ngurah Krisna, menjelaskan bahwa dari informasi kepala desa, estimasi populasi bekantan di kawasan tersebut diperkirakan mencapai enam puluh ekor. Namun, angka pasti populasi yang berhasil selamat pascabencana masih memerlukan verifikasi lebih lanjut melalui pemantauan lapangan secara berkala.
Kebakaran hebat yang melanda kawasan Area Penggunaan Lain ini tidak hanya merenggut nyawa belasan bekantan yang menjadi ikon pulau Kalimantan. Petugas yang menyisir lokasi kejadian juga menemukan sejumlah bangkai satwa liar lainnya, termasuk satu ekor ular piton berukuran besar dan satu ekor ular king kobra yang ikut terpanggang akibat tidak sempat menyelamatkan diri. Selain spesies bekantan dan reptil tersebut, kawasan hutan ini juga dikenal menjadi rumah bagi spesies primata lain, seperti lutung atau hirangan dalam bahasa lokal, serta monyet ekor panjang yang saat ini kondisinya terus dipantau.
Tim penyelamat dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan segera dikerahkan ke lokasi kejadian guna melakukan pemetaan dampak kebakaran terhadap keanekaragaman hayati lokal. Berdasarkan hasil identifikasi awal di lapangan, kondisi habitat asli bekantan di Desa Balimau ternyata berada dalam kondisi memprihatinkan karena telah terfragmentasi. Wilayah jelajah satwa tersebut kini terbagi menjadi dua kawasan kecil terpisah yang masing-masing hanya memiliki luas sekitar dua hingga tiga hektare saja. Kedua kawasan tersebut dipisahkan oleh akses jalan umum, dengan satu bagian berupa tanah kas desa dan lainnya lahan milik masyarakat.
Kondisi lahan yang terfragmentasi parah ini disinyalir kuat menjadi faktor utama yang menyulitkan satwa-satwa liar tersebut melarikan diri saat kebakaran hebat melanda. Ketika api membakar sekitar delapan puluh persen lahan milik masyarakat, kawanan bekantan terjebak di tengah kepungan asap tebal dan kobaran api yang membesar secara mendadak akibat tiupan angin kencang. Sementara itu, kawasan tanah milik kas desa dilaporkan aman dari jilatan api. Kendati demikian, bangkai bekantan yang mati justru banyak ditemukan menumpuk di kawasan milik masyarakat yang lumat terbakar tanpa sisa.
Secara analisis ekologis, kedua kawasan yang terpisah tersebut sebenarnya merupakan satu kesatuan ruang jelajah atau koridor pergerakan harian yang sangat vital bagi kawanan bekantan di Desa Balimau. Meskipun bentang habitatnya tidak lagi membentuk hamparan ekosistem yang luas dan menyatu secara alami, satwa pemakan daun ini tetap menggunakan jalur tersebut untuk mencari makan dan berinteraksi. Keterbatasan ruang hidup di alam bebas inilah yang membuat kelompok satwa tersebut menjadi sangat rentan terhadap berbagai ancaman eksternal, seperti bencana kebakaran hutan yang dipicu cuaca ekstrem.
Bekantan sendiri merupakan jenis satwa yang dilindungi undang-undang di Indonesia dan masuk ke dalam kategori terancam punah menurut daftar merah lembaga konservasi internasional. Kehilangan belasan individu sekaligus dalam satu peristiwa kebakaran tentu menjadi pukulan telak yang menyedihkan bagi seluruh upaya konservasi satwa endemik di pulau Kalimantan. Pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan bergerak cepat dengan menangani seluruh bangkai bekantan yang ditemukan di lokasi kebakaran secara layak. Seluruh bangkai satwa tersebut kini telah dikuburkan di sekitar area kejadian.
Pihak otoritas menegaskan bahwa jika ditemukan indikasi kematian tidak wajar seperti luka akibat tembakan senapan, bangkai satwa akan segera dievakuasi ke klinik hewan untuk dilakukan prosedur autopsi lebih mendalam. Langkah antisipasi jangka panjang dan pemulihan pascabencana ekologis kini tengah dirumuskan bersama pemangku kepentingan. Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan terus membangun koordinasi erat dengan pemerintah daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan, jajaran pemerintah kecamatan, serta perangkat desa guna mencegah musibah serupa terulang kembali di masa depan.
Kampanye penyadaran kepada masyarakat lokal juga terus ditingkatkan agar warga sekitar bersama-sama ikut menjaga sisa habitat satwa yang masih selamat di tengah ancaman perubahan iklim. Pemantauan intensif di lokasi bekas kebakaran tetap dilanjutkan guna mengantisipasi kemungkinan adanya satwa terluka yang membutuhkan evakuasi medis darurat. Sinergi yang kuat antara pemerintah dan masyarakat sangat dibutuhkan untuk menjaga kelestarian ekosistem hutan Kalimantan agar satwa endemik seperti bekantan terhindar dari ancaman kepunahan akibat kerusakan lingkungan yang terus berulang.






