Palangka Raya - Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik Kantor Wilayah Kalimantan Tengah mengambil langkah proaktif dengan memprioritaskan distribusi bantuan pangan hingga ke kawasan paling terpencil di seluruh kabupaten dan kota. Upaya ini dilakukan untuk memastikan program bantuan sosial dari pemerintah pusat dapat menjangkau seluruh keluarga penerima manfaat secara merata dan tepat sasaran. Bulog menargetkan seluruh proses penyaluran beras pangan ini dapat diselesaikan sepenuhnya sebelum akhir September 2026, meskipun di lapangan menghadapi berbagai kendala geografis yang cukup menantang akibat perubahan musim.
Kondisi geografis Kalimantan Tengah yang didominasi oleh aliran sungai besar dan hutan belantara kerap menjadi tantangan tersendiri bagi kelancaran arus logistik. Pada musim kemarau tahun ini, debit air di beberapa sungai utama mengalami penurunan drastis hingga mengakibatkan pendangkalan yang parah. Sungai-sungai yang selama ini berfungsi sebagai jalur transportasi utama bagi masyarakat pedalaman kini tidak lagi dapat dilayari oleh kapal atau perahu motor berukuran besar. Keadaan tersebut memaksa tim di lapangan untuk memikirkan ulang strategi distribusi agar pasokan pangan tidak terhambat.
Pemimpin Wilayah Bulog Kalimantan Tengah, Erwin Budiana, menjelaskan bahwa pihaknya sengaja mendahulukan daerah-daerah yang secara geografis paling sulit dijangkau. Dengan mendistribusikan beras ke wilayah terjauh sejak awal, risiko keterlambatan dapat diminimalisasi secara signifikan. Langkah antisipasi ini dinilai sangat krusial mengingat cuaca ekstrem yang tidak menentu dapat memperburuk akses transportasi darat maupun sungai sewaktu-waktu. Peninjauan langsung juga terus dilakukan guna memastikan kualitas beras yang diterima masyarakat tetap terjaga dengan baik selama perjalanan panjang.
Kabupaten Katingan dan Kabupaten Gunung Mas menjadi dua wilayah yang mendapatkan perhatian khusus karena mengalami dampak kekeringan yang cukup signifikan. Di kedua daerah ini, jalur sungai yang biasanya diandalkan untuk mengangkut bantuan menggunakan perahu klotok kini mengering di beberapa titik. Padahal, transportasi air merupakan satu-satunya sarana logistik yang efisien untuk menjangkau desa-desa yang berada jauh di hulu sungai. Hambatan ini menuntut kerja keras ekstra dari para petugas pengantar bantuan di lapangan yang harus berkejaran dengan waktu.
Guna mengatasi keterbatasan akibat menyusutnya aliran sungai, Bulog Kalimantan Tengah bersama mitra transporter beralih menggunakan moda transportasi alternatif yang lebih fleksibel. Untuk wilayah yang sungainya benar-benar kering dan menyisakan hamparan pasir, penyaluran terpaksa dialihkan melalui jalur darat menggunakan sepeda motor secara bertahap. Sementara itu, untuk wilayah perairan yang masih menyisakan sedikit aliran air, pengangkutan tetap menggunakan perahu kecil dengan kapasitas muat yang sangat terbatas, yakni hanya berkisar antara seratus hingga dua ratus kilogram saja per trip, jauh di bawah kapasitas normal klotok yang biasanya mampu mengangkut hingga dua ton beras sekaligus.
Meskipun harus melakukan perjalanan bolak-balik berulang kali yang memakan waktu dan tenaga lebih besar, semangat petugas di lapangan tidak surut demi mengantarkan hak masyarakat prasejahtera. Kerja keras ini merupakan komitmen nyata negara dalam menjaga ketahanan pangan masyarakat di tengah situasi iklim yang menantang. Selain itu, kolaborasi erat dengan pemerintah daerah setempat, aparat keamanan, dan tokoh masyarakat di tingkat desa turut membantu kelancaran proses bongkar muat dan distribusi langsung ke tangan warga yang berhak menerima.
Secara kumulatif, jumlah penerima manfaat bantuan pangan di Provinsi Kalimantan Tengah tahun ini mengalami kenaikan yang cukup signifikan dari data sebelumnya. Jumlah penerima yang semula tercatat sekitar 207 ribu jiwa kini bertambah menjadi sekitar 212 ribu jiwa. Penambahan jumlah penerima ini disesuaikan dengan dinamika sosial ekonomi masyarakat di lapangan demi menjamin keadilan distribusi. Penyaluran bantuan kali ini juga dirapel langsung untuk tiga alokasi bulan sekaligus, yaitu alokasi bulan Juli, Agustus, dan September, sehingga setiap keluarga penerima manfaat langsung mendapatkan komoditas beras sebanyak tiga puluh kilogram.
Beras yang disalurkan merupakan beras dengan kualitas medium yang telah melalui proses pengecekan mutu ketat di gudang-gudang Bulog sebelum didistribusikan. Dasar penentuan nama penerima bantuan sosial ini mengacu sepenuhnya pada Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional yang dikelola oleh pemerintah pusat. Melalui data tunggal yang terintegrasi ini, Badan Pangan Nasional bersama Bulog dapat memverifikasi ketepatan sasaran penerima manfaat secara berkala demi menghindari terjadinya tumpang tindih atau salah sasaran di tingkat desa.
Melalui program bantuan pangan yang masif ini, pemerintah berharap dapat meringankan beban pengeluaran rumah tangga prasejahtera sekaligus menekan laju inflasi daerah, terutama untuk komoditas pangan pokok seperti beras. Keberadaan pasokan beras subsidi yang stabil di pasaran juga diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat di wilayah pelosok Kalimantan Tengah yang sering kali harus membayar harga bahan pokok lebih mahal karena tingginya biaya transportasi logistik swasta. Bulog tetap optimis seluruh target penyaluran seratus persen akan tercapai tepat waktu pada akhir bulan ini.






