Ketapang - Seekor orangutan kalimantan (*Pongo pygmaeus*) berjenis kelamin jantan yang diberi nama Sampurna berhasil dievakuasi dari kawasan perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Satwa langka yang dilindungi tersebut ditemukan dalam kondisi fisik yang sangat lemah dan diduga kuat mengalami gangguan pernapasan akibat terpapar kabut asap pekat dari kebakaran hutan dan lahan yang melanda wilayah sekitarnya. Peristiwa penyelamatan ini kembali membuka mata publik mengenai ancaman nyata yang dihadapi satwa liar saat bencana kabut asap musiman melanda lanskap hutan tropis dan gambut di Pulau Kalimantan.
Berdasarkan laporan awal dari tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat bersama organisasi penyelamat satwa liar setempat, Sampurna pertama kali terpantau oleh para pekerja perkebunan yang sedang beraktivitas di batas luar konsesi. Saat ditemukan, primata berukuran dewasa tersebut tampak pasif, terduduk lemas di tanah, dan tidak menunjukkan respons agresif atau perilaku menghindar yang lazim diperlihatkan oleh individu orangutan liar. Tubuhnya kurus dan tatapan matanya sayu, mengindikasikan adanya malnutrisi berkepanjangan serta dehidrasi parah yang telah berlangsung selama beberapa hari sebelum tim penyelamat tiba di lokasi.
Kondisi darurat di lapangan menuntut tim medis hewan untuk segera mengambil tindakan pertolongan pertama di tempat. Tim dokter hewan langsung memasang infus guna mengembalikan cairan tubuh dan menstabilkan metabolisme Sampurna yang merosot tajam. Pemeriksaan awal menunjukkan adanya iritasi pada selaput mata serta indikasi gangguan saluran pernapasan atas yang diakibatkan oleh partikel debu dan asap pekat sisa kebakaran. Selain itu, tidak ditemukan luka terbuka fatal akibat senjata tajam atau jerat, yang memperkuat dugaan bahwa faktor utama pelemahan fisik satwa tersebut murni dipicu oleh hilangnya sumber makanan alami dan pencemaran udara ekstrem di habitat aslinya.
Setelah kondisi fisiknya dinilai cukup stabil untuk menempuh perjalanan, Sampurna segera dievakuasi menggunakan kandang angkut khusus menuju pusat penyelamatan dan rehabilitasi satwa di Ketapang. Di fasilitas perawatan intensif tersebut, Sampurna ditempatkan di ruang karantina khusus guna menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh, termasuk rontgen dada, pemeriksaan darah laboratorium, serta pemantauan perilaku secara berkala. Tim medis berkomitmen memastikan fungsi paru-paru dan sistem imun satwa ini pulih sepenuhnya sebelum merancang program rehabilitasi lanjutan yang dapat memakan waktu berbulan-bulan.
Kabupaten Ketapang memang dikenal sebagai salah satu wilayah di Kalimantan Barat dengan sebaran ekosistem hutan rawa gambut yang luas, sekaligus menjadi kantung habitat vital bagi populasi orangutan kalimantan sub-spesies *Pongo pygmaeus wurmbii*. Namun, saat musim kemarau tiba, kawasan gambut yang telah terfragmentasi dan mengalami kekeringan sangat rentan terbakar. Api yang membakar lapisan gambut di bawah permukaan tanah menghasilkan asap tebal yang sulit dipadamkan dan kerap menyelimuti hutan lindung maupun area konservasi dalam radius yang sangat luas.
Kebakaran hutan tidak hanya menghanguskan pepohonan tempat orangutan membuat sarang tidur di tajuk kanopi, tetapi juga melenyapkan ketersediaan buah-buahan hutan, pucuk daun, dan kulit pohon yang menjadi makanan pokok mereka. Kehilangan tempat tinggal dan sumber pakan memaksa satwa arboreal ini turun ke lantai hutan dan berjalan menyusuri bentang lanskap terbuka untuk bertahan hidup. Perjalanan panjang melintasi kawasan yang terbakar dan lahan perkebunan sering kali berujung pada kelaparan ekstrem, konflik dengan manusia, hingga risiko kematian akibat paparan panas dan asap beracun.
Kasus yang menimpa Sampurna menjadi bukti nyata perlunya penguatan sistem mitigasi kebakaran hutan berbasis lanskap terpadu. Pengawasan ketat terhadap pencegahan pembukaan lahan dengan cara membakar serta pemulihan hidrologi lahan gambut yang terdegradasi menjadi langkah mutlak yang tidak bisa ditunda. Kolaborasi antara pemerintah daerah, pemegang konsesi perkebunan, masyarakat adat, dan organisasi pegiat konservasi sangat krusial guna membangun koridor hijau yang aman bagi satwa liar ketika bencana karhutla sewaktu-waktu terjadi.
Pihak berwenang dan tim konservasi berharap proses pemulihan Sampurna dapat berjalan optimal sehingga satwa ikonik Kalimantan ini bisa segera dilepasliarkan kembali ke habitat alami yang aman dan terlindungi permanen, seperti di kawasan Taman Nasional Gunung Palung atau lanskap Hutan Lindung Gunung Tarak. Upaya menyelamatkan satu individu orangutan bukan sekadar menyelamatkan nyawa seekor satwa, melainkan menjaga mata rantai penting penyebar biji dan regenerasi hutan tropis yang menjaga keseimbangan iklim bumi.






