![]() |
| Ilustrasi AI |
IKN – Cetak biru pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN)
di Kalimantan Timur tidak hanya berfokus pada pembangunan pusat pemerintahan
dan infrastruktur teknologi modern. Pemerintah secara paralel mulai merancang
strategi pengembangan sektor pariwisata berbasis lingkungan (eco-tourism)
di kawasan penyangga. Salah satu konsep unggulan yang akan diimplementasikan
dalam waktu dekat adalah penyediaan fasilitas wisata alam premium, termasuk
akomodasi berkemah mewah atau glamour camping (glamping).
Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya menghidupkan
ekosistem kota yang inklusif, sekaligus memanfaatkan potensi lanskap hutan
tropis Nusantara yang unik. Melalui pendekatan ini, IKN diproyeksikan tidak
hanya menjadi kota administratif yang kaku, melainkan juga destinasi pelesiran
ramah lingkungan yang mampu menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.
Menyulap Kawasan Hutan Menjadi Destinasi Wisata Premium
Konsep glamping di IKN didesain untuk menyosialisasikan
narasi kota hutan (forest city) secara langsung kepada publik. Otoritas
Ibu Kota Nusantara bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tengah
memetakan sejumlah titik strategis di dalam maupun di sekitar Kawasan Inti
Pusat Pemerintahan (KIPP) yang memiliki nilai estetika alam tinggi untuk
dikembangkan sebagai spot pariwisata.
Pengembangan fasilitas glamping ini ditargetkan menyasar
para profesional, diplomat, hingga pelancong yang ingin merasakan sensasi
menginap di tengah hutan Kalimantan tanpa kehilangan kenyamanan fasilitas hotel
berbintang. Berbeda dengan aktivitas berkemah konvensional, struktur bangunan
glamping di IKN akan menerapkan standar arsitektur berkelanjutan yang
meminimalisir semenisasi dan kerusakan kontur tanah asli.
Otorita IKN menekankan bahwa investasi di sektor pariwisata
ini akan membuka ruang kolaborasi yang luas bagi pihak swasta dan pelaku usaha
mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal. Keterlibatan masyarakat adat dan
pemuda setempat sebagai pemandu wisata, penyedia logistik kuliner khas daerah,
serta pengrajin cinderamata menjadi pilar penting agar perputaran ekonomi
pariwisata tidak hanya dinikmati oleh investor skala besar.
Keseimbangan Pembangunan Infrastruktur dan Konservasi Keanekaragaman Hayati
Kendati konsep pariwisata alam ini menawarkan potensi
ekonomi yang menggiurkan, para aktivis lingkungan dan pengamat tata kota
memberikan catatan kritis terkait aspek mitigasi dampak lingkungan.
Transformasi lahan hutan menjadi kawasan wisata tirta maupun akomodasi
semi-permanen tetap membawa risiko ekologis jika tidak dikendalikan dengan
regulasi yang ketat.
Faktor daya dukung lingkungan (carrying capacity)
harus menjadi acuan utama dalam menentukan kuota harian pengunjung di area
glamping. Pembatasan jumlah wisatawan bertujuan untuk mencegah terjadinya
pencemaran limbah domestik, kebisingan yang dapat mengganggu fauna endemik
Kalimantan, serta kerusakan vegetasi sekitar akibat aktivitas manusia.
Prinsip utama pengembangan eco-tourism
di wilayah IKN wajib mengutamakan perlindungan keanekaragaman hayati. Aspek
komersial pariwisata tidak boleh mengorbankan integritas ekologis hutan tropis
yang menjadi identitas utama ibu kota baru.
Manajemen pengelolaan limbah, penggunaan energi terbarukan
seperti panel surya untuk pencahayaan area glamping, hingga pembatasan
kendaraan bermotor berbasis fosil di area wisata menjadi instrumen mutlak yang
harus dipenuhi oleh para pengelola demi menjaga komparasi IKN sebagai kota
rendah emisi karbon.
Prospek Kunjungan Wisata dan Konektivitas Regional
Dari sisi aksesibilitas, konektivitas menuju titik-titik
pariwisata alam di IKN akan ditopang oleh keberadaan infrastruktur transportasi
yang kini tengah dikebut pengerjaannya. Akses dari Bandara VVIP IKN maupun
jalan tol penghubung Balikpapan-PPU diproyeksikan bakal memangkas waktu tempuh
secara signifikan, memudahkan pergerakan wisatawan pasca-rampungnya fase awal
pembangunan kota.
Selain glamping, kluster pariwisata di masa depan juga akan
diintegrasikan dengan wisata edukasi hutan konservasi, pelestarian satwa
seperti orangutan, serta penjelajahan gua alam di wilayah sekitar Penajam Paser
Utara dan Kutai Kartanegara. Sinergi pariwisata lintas daerah ini diharapkan
mampu menciptakan paket wisata yang komprehensif, memperpanjang durasi tinggal
(length of stay) wisatawan di Kalimantan Timur.
Melalui perencanaan yang matang, penerapan standar ekologis
yang ketat, serta pelibatan aktif komunitas lokal, ambisi mewujudkan IKN
sebagai pusat pariwisata baru berbasis eco-tourism bukan lagi hal yang
mustahil. Keberhasilan proyek pariwisata ini akan menjadi bukti nyata apakah
konsep kota hutan modern yang berdampingan harmonis dengan alam dapat
diwujudkan secara konsisten di tanah borneo.







