Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Tim Ahli Gubernur Kaltim Ramai-ramai Mundur di Tengah Pusaran Polemik Anggaran dan Nepotisme Kepemimpinan Rudy Mas’ud

 

Ilustrasi AI

SAMARINDA — Pemerintahan Provinsi Kalimantan Timur kembali menjadi sorotan tajam di panggung politik nasional. Gelombang kejut baru saja menghantam ruang birokrasi pimpinan Gubernur Rudy Mas’ud menyusul kabar mundurnya sejumlah anggota Tim Ahli Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TAGUPP). Eksodus massal ini merupakan kulminasi rentetan polemik yang mendera lembaga penasihat tersebut sejak awal dibentuk. Mulai dari isu nepotisme, pembengkakan anggaran, hingga gugatan hukum dari kelompok masyarakat sipil, seluruhnya merajut krisis legitimasi yang kini memuncak di mata publik.

Menelisik lebih jauh ke dalam tubuh TAGUPP, Ketua Tim Irianto Lambrie telah secara terbuka mengonfirmasi fenomena pengunduran diri ini. Setidaknya delapan hingga sepuluh tokoh yang sebelumnya mengisi formasi elit tersebut dilaporkan telah mengangkat kaki dari jabatannya. Salah satu nama besar yang dipastikan mundur adalah Supriansa, politisi kawakan yang sebelumnya menjabat sebagai Koordinator Bidang Informasi dan Komunikasi Publik. Mantan anggota DPR RI ini meninggalkan posisinya dengan alasan kendala domisili dan padatnya kesibukan profesional di Jakarta.

Namun, publik tentu tidak mudah menelan mentah-mentah alasan administratif tersebut. Pengunduran diri Supriansa dan rekan-rekannya terjadi tepat ketika TAGUPP sedang berada di titik nadir kepercayaan masyarakat luas. Gelombang protes warga Kalimantan Timur telah menggema jauh sebelum eksodus ini terjadi, dipicu oleh dugaan kuat praktik nepotisme yang dipertontonkan tanpa sungkan. Kemarahan meledak ketika nama Hijrah Mas’ud, adik kandung sang Gubernur, tercantum di jajaran pimpinan TAGUPP. Kehadiran keluarga inti di lingkaran penasihat resmi memicu demonstrasi besar-besaran. Tekanan masif akhirnya memaksa Pemprov Kaltim mencoret nama Hijrah, meski langkah ini urung memadamkan ketidakpuasan.

 

Beban Anggaran Fantastis di Balik Kinerja yang Dipertanyakan

Selain isu kedekatan keluarga, masalah substansial lain yang menggerogoti kredibilitas TAGUPP adalah membengkaknya alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang disedot untuk membiayai operasional tim. Berdasarkan data yang menjadi sorotan kritikus, alokasi dana TAGUPP Kaltim menyentuh angka fantastis sekitar Rp10,78 miliar. Dana sebesar itu dialokasikan khusus untuk memfasilitasi 47 anggota tim. Sebuah jumlah yang terlampau gemuk dan tidak proporsional untuk ukuran tim penasihat daerah.

Publik secara kritis mempertanyakan urgensi dan efisiensi pembentukan formasi raksasa tersebut. Di tengah persoalan infrastruktur dasar dan pemerataan ekonomi yang masih menjadi pekerjaan rumah di Kalimantan Timur—terlebih dengan statusnya sebagai mitra strategis Ibu Kota Nusantara (IKN)—penghamburan dana miliaran rupiah untuk honorarium puluhan penasihat dianggap mencederai keadilan sosial. Para pengamat birokrasi menilai, Gubernur Rudy Mas’ud seharusnya lebih mengoptimalkan fungsi Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang ada dibandingkan membentuk lembaga ad hoc yang terkesan sekadar menjadi ajang bagi-bagi jabatan.

 

Gugatan Legalitas dan Tantangan Hukum Berkelanjutan

Polemik TAGUPP Kaltim tidak berhenti pada ranah etika politik dan efisiensi anggaran, namun telah merambah hingga ke meja hijau. Eksistensi tim bentukan Gubernur ini menghadapi perlawanan hukum serius dari elemen masyarakat sipil. Belasan advokat setempat telah resmi mengajukan gugatan guna mempertanyakan legalitas Surat Keputusan (SK) Gubernur yang menjadi alas hukum pembentukan TAGUPP. Para penggugat dengan tegas menuntut agar SK tersebut segera dibatalkan karena dinilai melanggar aturan.

Tidak tanggung-tanggung, aliansi advokat ini juga mendesak agar seluruh honorarium yang telanjur dicairkan kepada para anggota tim segera dikembalikan utuh ke kas daerah. Mereka berargumen bahwa proses pendirian lembaga ini cacat prosedur dan menabrak prinsip tata kelola pemerintahan yang baik (Good Corporate Governance). Ancaman pidana dan perdata ini menambah beban moril para anggota TAGUPP yang masih bertahan, dan disinyalir kuat menjadi salah satu katalisator utama yang memicu keputusan mundur massal belakangan ini.

 

Respon Pemprov Kaltim dan Tuntutan Perbaikan Tata Kelola

Menghadapi badai kritik tajam dan hilangnya sejumlah anggota, Ketua TAGUPP Irianto Lambrie berupaya keras menetralisir situasi politik. Ia menegaskan operasional tim akan tetap berjalan sesuai tugas dan fungsinya. Pihak Pemprov Kaltim saat ini tengah menyusun draf revisi Surat Keputusan Gubernur untuk merapikan kembali komposisi pasca-pengunduran diri massal tersebut. Irianto juga bersikukuh mempertahankan argumen bahwa SK awal pembentukan TAGUPP sah secara hukum karena telah melalui tahapan evaluasi ketat serta mengantongi persetujuan resmi dari Kementerian Dalam Negeri.

Kendati pembelaan telah dilontarkan, serangkaian peristiwa memalukan ini wajib menjadi evaluasi menyeluruh bagi administrasi Rudy Mas'ud. Pembentukan lembaga penasihat non-struktural seyogianya menjunjung tinggi transparansi, mempertimbangkan asas kepatutan, dan menjauhi benturan kepentingan. Kepercayaan rakyat merupakan fondasi mutlak berjalannya roda pemerintahan daerah yang sehat. Apabila instrumen yang sejatinya bertugas "mempercepat pembangunan" justru berevolusi menjadi episentrum kegaduhan birokrasi, maka sangat wajar bila masyarakat menuntut pembubarannya. Mata publik kini terus mengawasi langkah Pemprov Kaltim, menanti realisasi pemerintahan yang lebih efisien dan bersih.

 

Also Read
Latest News
  • Tim Ahli Gubernur Kaltim Ramai-ramai Mundur di Tengah Pusaran Polemik Anggaran dan Nepotisme Kepemimpinan Rudy Mas’ud
  • Tim Ahli Gubernur Kaltim Ramai-ramai Mundur di Tengah Pusaran Polemik Anggaran dan Nepotisme Kepemimpinan Rudy Mas’ud
  • Tim Ahli Gubernur Kaltim Ramai-ramai Mundur di Tengah Pusaran Polemik Anggaran dan Nepotisme Kepemimpinan Rudy Mas’ud
  • Tim Ahli Gubernur Kaltim Ramai-ramai Mundur di Tengah Pusaran Polemik Anggaran dan Nepotisme Kepemimpinan Rudy Mas’ud
  • Tim Ahli Gubernur Kaltim Ramai-ramai Mundur di Tengah Pusaran Polemik Anggaran dan Nepotisme Kepemimpinan Rudy Mas’ud
  • Tim Ahli Gubernur Kaltim Ramai-ramai Mundur di Tengah Pusaran Polemik Anggaran dan Nepotisme Kepemimpinan Rudy Mas’ud
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad