![]() |
| Ilustrasi AI |
Pontianak - Ketenangan di kawasan perairan Sungai
Kapuas mendadak pecah oleh suara gemuruh hebat pada Senin siang, 25 Mei 2026.
Sebuah kapal tanker pengangkut Bahan Bakar Minyak atau BBM jenis Pertalite
bernama MT Bintang Energi mengalami ledakan berdaya kejut tinggi saat sedang
melakukan proses sandar operasional. Peristiwa nahas ini terjadi tepatnya di
Jetty 2 kawasan Objek Vital Nasional PT Pertamina Patra Niaga Integrated
Terminal, yang berlokasi di Jalan Khatulistiwa, Kelurahan Siantan Hilir,
Kecamatan Pontianak Utara, Provinsi Kalimantan Barat. Insiden yang memicu
kepanikan di area pelabuhan energi strategis tersebut langsung menjadi pusat
perhatian publik, terutama terkait kekhawatiran masyarakat akan kemungkinan
terganggunya pasokan bahan bakar di wilayah Kalimantan Barat.
Berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai sumber di
lapangan, kapal MT Bintang Energi diketahui baru saja menyelesaikan pelayaran
dari Dermaga TTU Merak dengan membawa muatan BBM jenis Pertalite dalam jumlah
yang sangat besar, yakni sekitar 3.300 kiloliter. Ledakan tersebut terjadi
sekitar pukul 13.17 hingga 13.30 Waktu Indonesia Barat. Supervisor Health,
Safety, Security, and Environment PT Pertamina, Hamkani, menjelaskan bahwa
pusat ledakan tidak berasal dari tangki utama penyimpanan BBM, melainkan bermula
dari bagian forepeak atau ruang penyimpanan tertutup yang berada di area haluan
depan kapal. Suara dentuman yang sangat keras membuat sejumlah pekerja dan kru
di sekitar lokasi langsung mengambil langkah penyelamatan diri sesuai dengan
prosedur tanggap darurat yang berlaku di objek vital tersebut.
Akibat ledakan dahsyat di area haluan kapal itu, tiga orang
awak kapal yang berjenis kelamin laki-laki dilaporkan mengalami luka-luka.
Bahkan, saking kuatnya dorongan energi dari ledakan tersebut, salah satu korban
dikabarkan sampai terpental keluar dari geladak dan jatuh ke aliran Sungai
Kapuas. Tim penyelamat gabungan beserta petugas operasional langsung bergerak
cepat melakukan evakuasi menggunakan armada speedboat. Ketiga korban yang
terluka segera dilarikan ke Rumah Sakit Umum Santo Antonius Pontianak untuk
mendapatkan penanganan medis secara intensif. Beruntungnya, pihak berwenang
memastikan tidak ada korban jiwa dalam musibah ini, namun kondisi para awak
kapal masih terus dipantau secara berkala oleh tim medis.
Mengingat lokasi kejadian merupakan terminal energi berskala
masif, pihak operasional Integrated Terminal Pontianak langsung mengeksekusi
protokol penghentian darurat atau emergency shut down sesaat setelah ledakan
pertama terdengar. Langkah krusial ini diambil guna memutus aliran energi dan
mencegah risiko sambaran api yang berpotensi memicu kebakaran berskala jauh
lebih besar. Kapasitas muatan kapal yang mencapai 3.300 kiloliter Pertalite
menjadikannya layaknya bom waktu jika api sampai menyentuh tangki utama.
Isolasi ketat segera diberlakukan di area dermaga guna mengantisipasi
kemungkinan ledakan susulan akibat sisa gas yang masih terjebak di ruang-ruang
sempit kapal.
Menyikapi eskalasi risiko di lokasi, jajaran Kepolisian
Daerah Kalimantan Barat langsung menerjunkan tim khusus ke tempat kejadian
perkara. Personel dari Polsek Pontianak Utara yang dipimpin oleh Kapolsek
Kompol I Made Aris Candra Putra tiba di lokasi dengan sigap untuk mengamankan
perimeter. Tidak berselang lama, tim Penjinak Bom atau Jibom serta unit Kimia,
Biologi, Radioaktif, dan Nuklir dari Satuan Brigade Mobil Polda Kalbar turut
diterjunkan. Pemeriksaan mendetail dan sterilisasi ulang kawasan dipimpin oleh
Pejabat Sementara Kasubden Jibom Detasemen Gegana Satbrimob Polda Kalbar, AKP
Sri Rubianto. Tim gabungan tersebut berhasil menemukan sejumlah serpihan
material dan sebuah titik yang diduga kuat mengalami korsleting listrik di
ruang Forre Storage kapal, yang disinyalir menjadi pemantik percikan api.
Hingga saat ini, dugaan awal menyebutkan bahwa tragedi ini
dipicu oleh akumulasi gas atau uap bahan bakar yang sangat mudah terbakar. Gas
tersebut terperangkap di dalam ruangan tertutup di bagian haluan, lalu secara
tidak sengaja bereaksi dengan sumber panas dari korsleting kelistrikan. Kendati
demikian, aparat kepolisian belum menarik kesimpulan akhir dan masih menunggu
hasil uji sampel laboratorium forensik untuk mengonfirmasi penyebab pasti
kecelakaan kerja ini. Penyelidikan komprehensif terus berjalan guna mencari
tahu apakah terdapat kelalaian standar operasional, kegagalan sistem pengamanan
gas, atau faktor teknis eksternal lainnya yang menjadi biang keladi insiden
tersebut.
Di tengah bergulirnya proses investigasi dan penanganan
korban, muncul kekhawatiran di kalangan masyarakat mengenai stabilitas pasokan
energi sehari-hari. Merespons kecemasan ini, PT Pertamina Patra Niaga Regional
Kalimantan segera memberikan klarifikasi resmi. Area Manager Communication,
Relations and CSR, Edi Mangun, tampil ke publik untuk menenangkan warga dengan
menegaskan bahwa insiden ledakan di Jetty 2 sama sekali tidak mengganggu ritme
distribusi BBM ke stasiun pengisian bahan bakar umum di berbagai daerah.
Pihaknya menjamin bahwa operasional penyaluran tetap berjalan dalam kondisi
normal tanpa kendala yang berarti.
Lebih lanjut, manajemen Pertamina memastikan ketersediaan
stok BBM, baik Pertalite maupun varian lainnya, berada dalam level aman dan
mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di seluruh penjuru Kalimantan
Barat. Perusahaan pelat merah tersebut mengimbau warga agar tidak terjebak
dalam panic buying atau pembelian bahan bakar secara berlebihan akibat termakan
rumor kelangkaan pasokan. Keselamatan para personel di lapangan serta keamanan
operasional objek vital tetap menjadi fokus utama perusahaan sembari menunggu
hasil audit dan investigasi dari pihak penegak hukum. Melalui respons cepat dan
penanganan tanggap darurat yang terukur, krisis ini berhasil dilokalisir tanpa
mengorbankan stabilitas ketahanan energi di Bumi Khatulistiwa.







