IKN – Pagi itu, suasana di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Ibu Kota Nusantara (IKN) terasa berbeda. Ribuan jemaah dari berbagai latar belakang memadati halaman Masjid Negara IKN untuk melaksanakan salat Idul Fitri 1447 H secara perdana. Ini bukan sekadar perayaan hari raya biasa, melainkan momen bersejarah: pertama kalinya salat Id digelar di masjid utama ibu kota baru Indonesia, tepat di tengah pembangunan yang masih berlangsung.
Salat Id dimulai pukul 07.00 WITA, dipimpin oleh Imam Besar
Masjid Negara IKN, KH. Ahmad Muzakir. Khutbah Id bertema “Kemenangan di Tengah
Pembangunan: Menjaga Persatuan dan Keberkahan Nusantara” disampaikan dengan
penuh makna. KH. Ahmad Muzakir mengingatkan jemaah bahwa Idul Fitri bukan hanya
soal kembali fitrah secara pribadi, tapi juga secara kolektif sebagai bangsa.
“Di IKN ini, kita sedang membangun bukan hanya gedung dan jalan, tapi peradaban
baru yang berlandaskan nilai-nilai luhur Pancasila dan ajaran agama. Mari
jadikan kemenangan ini sebagai momentum mempererat ukhuwah dan gotong royong
demi masa depan Nusantara yang lebih baik,” ujarnya dalam khutbah yang disambut
tepuk tangan meriah.
Masjid Negara IKN sendiri menjadi pusat perhatian. Bangunan
megah dengan kubah utama berlapis emas tipis, empat menara setinggi 99 meter
yang melambangkan Asmaul Husna, serta ruang utama berkapasitas 10.000 jemaah,
tampak semakin indah di bawah sinar matahari pagi. Halaman luas di depan
masjid, yang dikelilingi taman hijau dan koridor satwa, menjadi tempat
pelaksanaan salat sunnah Id secara terbuka. Desain masjid yang memadukan
arsitektur modern dengan sentuhan Islami klasik membuat banyak jemaah terpukau.
Beberapa fasilitas pendukung seperti ruang wudu ramah disabilitas, area parkir
kendaraan listrik, dan ruang laktasi juga sudah beroperasi penuh.
Jemaah yang hadir sangat beragam. Ribuan pekerja konstruksi
yang selama ini tinggal di barak sementara tampak rapi mengenakan baju koko dan
sarung. Mereka datang dari berbagai daerah: Jawa, Sumatera, Sulawesi, hingga
Nusa Tenggara. Banyak ASN Otorita IKN yang baru pindah tahap awal ikut serta
bersama keluarga kecil mereka. Masyarakat lokal dari desa-desa sekitar seperti
Sepaku, Bumi Harapan, dan Mentawir juga berbondong-bondong hadir. Bagi warga
Penajam Paser Utara, ini adalah momen bersejarah karena tanah leluhur mereka
kini menjadi bagian dari ibu kota nasional yang tidak melupakan dimensi
spiritual.
Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara, Basuki Hadimuljono, yang
turut melaksanakan salat Id, menyampaikan rasa syukur mendalam. “Alhamdulillah,
hari ini kita bisa merayakan Idul Fitri di Masjid Negara IKN. Ini bukti bahwa
pembangunan kita tidak melupakan aspek keagamaan dan kemanusiaan. Masjid ini
akan menjadi pusat peradaban baru yang inklusif, tempat semua umat beribadah
dan berinteraksi dalam damai,” katanya setelah salat selesai. Beliau juga
sempat meninjau fasilitas masjid dan berbincang singkat dengan jemaah lokal
serta pekerja.
Setelah salat, digelar takbir keliling singkat di sekitar
kawasan KIPP. Kendaraan roda empat memutarkan lantunan takbir melalui pengeras
suara, sementara jemaah berjalan kaki mengikuti arak-arakan kecil. Acara
dilanjutkan dengan halal bihalal informal di halaman masjid. Suasana hangat
terasa saat pekerja dari berbagai daerah saling bermaaf-maafan, berbagi cerita
tentang perjuangan mereka di proyek IKN, dan berfoto bersama di depan masjid
yang megah.
Bagi masyarakat lokal, perayaan ini terasa istimewa. “Dulu
kami salat Id di lapangan desa atau masjid kecil. Sekarang bisa di masjid
sebesar ini, rasanya seperti mimpi yang jadi kenyataan. Anak-anak saya senang
sekali bisa salat Id di tempat yang indah,” ujar seorang warga Desa Sepaku, Ibu
Siti. Banyak pekerja muda yang mengaku terharu karena bisa merayakan Lebaran
bersama rekan kerja dari berbagai suku dan agama, menciptakan rasa persaudaraan
di tengah kesibukan pembangunan.
Pelaksanaan salat Id perdana ini juga menjadi bukti bahwa
IKN mulai berfungsi sebagai pusat kegiatan nasional. Kemenag RI dan OIKN telah
berkoordinasi sejak awal Ramadan untuk memastikan semua aspek berjalan lancar,
termasuk protokol keamanan, lalu lintas, dan kesehatan. Ke depan, Masjid Negara
IKN direncanakan menjadi pusat kegiatan keagamaan nasional: pengajian rutin,
peringatan hari besar Islam, serta salah satu titik rukyatul hilal tetap
seperti yang telah dilakukan pada hilal Ramadan lalu.
Dengan semangat takbir dan maaf-maafan yang masih bergema,
Idul Fitri perdana di Masjid Negara IKN menjadi simbol bahwa pembangunan ibu
kota baru tidak hanya soal beton dan baja, melainkan juga tentang membangun
hati dan jiwa bangsa. Di tengah hiruk-pikuk alat berat dan proyek yang masih
berlangsung, suara takbir pagi itu mengingatkan semua orang bahwa IKN dibangun
untuk masa depan yang lebih baik—masa depan yang penuh berkah, persatuan, dan
keberkahan bagi seluruh rakyat Indonesia.







