Tanjung Selor, 5 Januari 2026 – Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) tengah gencar mempersiapkan lahan guna menyambut proyek Sekolah Rakyat Nasional, program unggulan pemerintah pusat yang bertujuan memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Dengan alokasi anggaran mencapai Rp218 miliar, proyek ini diharapkan menjadi solusi nyata bagi tingginya kebutuhan fasilitas pendidikan dan sosial di wilayah perbatasan dan terpencil Kaltara.
Kepala Dinas Sosial Provinsi Kaltara, Obed Daniel,
menjelaskan bahwa persiapan saat ini difokuskan pada penyelesaian seluruh
persyaratan administrasi agar lahan dapat segera dilepas dan siap dibangun.
"Kami sudah melakukan pemaparan langsung di Kementerian Transmigrasi
bersama Wakil Gubernur. Prinsipnya, kementerian meminta daerah memastikan
seluruh aspek legalitas lahan benar-benar clear," ujar Obed Daniel pada
Minggu, 4 Januari 2026.
Proyek Sekolah Rakyat, yang digagas sebagai boarding school
terintegrasi dari jenjang SD hingga SMA, dirancang khusus untuk anak-anak
keluarga miskin dan miskin ekstrem. Program ini menjadi bagian dari upaya
nasional memuliakan keluarga kurang mampu melalui akses pendidikan gratis,
asrama, serta pembinaan karakter dan keterampilan. Pembangunan fisik akan
ditangani langsung oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR)
setelah lahan resmi dilepaskan, sementara Kementerian Transmigrasi berperan dalam
proses pelepasan kawasan Hak Pengelolaan Lahan (HPL) transmigrasi.
Dua lokasi alternatif telah diajukan di Kabupaten Bulungan:
Desa Gunung Sari dengan luas sekitar 5 hektare dan Desa Ardi Mulyo
seluas 8 hektare. Desa Gunung Sari dinilai lebih unggul karena
aksesibilitasnya yang baik, didukung jaringan listrik dan air bersih, serta
kedekatannya dengan pusat pemerintahan dan permukiman penduduk. Meski demikian,
luas lahan di sana masih di bawah standar ideal minimal 6,3 hektare yang
diharapkan pemerintah pusat.
Proses administrasi menjadi kunci utama. Dua dokumen krusial
yang harus dipenuhi adalah surat keterangan bebas sengketa dari Kantor
Pertanahan Kabupaten Bulungan serta surat permohonan resmi dari Bupati
Bulungan. "Di luar dua persyaratan tersebut, dokumen pendukung lainnya
telah dinyatakan lengkap. Bahkan, pihak kementerian menyatakan kesiapan untuk
menyerahkan lahan apabila seluruh ketentuan administratif dipenuhi sesuai
ketentuan," tambah Obed Daniel.
Mengapa Kaltara Butuh Sekolah Rakyat Ini?
Kalimantan Utara, sebagai provinsi termuda di Indonesia,
masih menghadapi tantangan besar dalam pemerataan pendidikan. Banyak anak di
daerah terpencil kesulitan mengakses sekolah berkualitas karena jarak, biaya,
dan kondisi ekonomi keluarga. Program Sekolah Rakyat diharapkan tidak hanya
menyediakan bangunan fisik, tapi juga ekosistem pendidikan lengkap berupa
asrama, guru berkualitas, dan kurikulum yang menekankan nasionalisme serta
keterampilan lokal.
Secara nasional, program ini telah bergulir sejak 2025
dengan target ratusan lokasi. Anggaran per sekolah bervariasi, mulai dari
estimasi Rp150-300 miliar tergantung skala dan lokasi, dengan total APBN untuk
Sekolah Rakyat mencapai triliunan rupiah. Di Kaltara, alokasi Rp218 miliar
menunjukkan komitmen serius pemerintah pusat untuk mendukung wilayah
perbatasan. Proyek serupa di daerah lain, seperti di Kuansing (Rp239 miliar)
dan berbagai lokasi di Kalimantan Barat serta Kalimantan Selatan, menunjukkan pola
yang sama: pemerintah daerah menyiapkan lahan, pusat membiayai konstruksi.
Tantangan terbesar adalah memastikan proses pelepasan lahan
berjalan cepat tanpa hambatan hukum atau sengketa. Setelah lahan clear,
pembangunan fisik diharapkan bisa dimulai segera, sehingga fasilitas bisa siap
digunakan dalam waktu dekat, selaras dengan target nasional operasional penuh
pada 2026-2027.
Pemprov Kaltara optimistis proyek ini akan membawa dampak
positif jangka panjang. Selain meningkatkan indeks pembangunan manusia, Sekolah
Rakyat juga diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui lapangan
kerja konstruksi dan peningkatan kualitas SDM generasi muda. "Ini adalah
investasi untuk masa depan Kaltara. Anak-anak kita berhak mendapatkan
pendidikan terbaik tanpa terhalang kemiskinan," tegas Obed Daniel.
Dengan progres yang sedang digenjot, Kaltara berpotensi
segera masuk dalam daftar penerima manfaat program nasional ini. Masyarakat dan
pemangku kepentingan diharapkan mendukung proses administrasi agar mimpi
sekolah berkualitas di tanah perbatasan segera terwujud.
Gubernur Zainal Terus Dorong Penguatan Ekosistem Budaya Kaltara: Tradisi Meja Panjang Jadi Contoh Pelestarian Warisan Adat
Tanjung Selor, 5 Januari 2026 – Gubernur Kalimantan Utara
(Kaltara), Zainal Arifin Paliwang, kembali menegaskan komitmen kuatnya dalam
memperkuat ekosistem budaya di provinsi termuda Indonesia ini. Kehadirannya di
Pesta Budaya Meja Panjang di Desa Pimping, Kecamatan Tanjung Palas Utara,
Kabupaten Bulungan, akhir pekan sebelum 4 Januari 2026, menjadi bukti nyata
upaya berkelanjutan itu. Acara adat tahunan ini, yang digelar masyarakat Desa
Pimping untuk menyambut pergantian tahun sekaligus mensyukuri panen berlimpah,
mendapat apresiasi tinggi dari gubernur dua periode tersebut.
Dalam sambutannya, Gubernur Zainal menyampaikan penghargaan
mendalam atas konsistensi masyarakat setempat dalam menjaga tradisi Pesta
Budaya Meja Panjang. "Tradisi ini tidak hanya menjadi penanda pergantian
tahun, tapi juga menjadi wujud rasa syukur atas perjalanan kehidupan yang telah
dilalui serta harapan akan masa depan yang lebih baik," ujarnya seperti
dikutip Radar Tarakan pada Minggu, 4 Januari 2026. Ia menambahkan bahwa tradisi
ini sarat dengan nilai-nilai luhur yang masih sangat relevan hari ini, seperti
duduk bersama, berbagi rezeki, memperkuat tali silaturahmi, serta menumbuhkan
rasa saling menghargai dalam keberagaman.
Pesta Budaya Meja Panjang sendiri merupakan ritual adat
masyarakat Dayak di wilayah Bulungan yang melibatkan penyajian hidangan bersama
di atas meja panjang, simbol kebersamaan dan gotong royong. Acara ini tidak
hanya ritual keagamaan dan syukuran, tapi juga ajang pertunjukan seni tari
tradisional, pemakaian busana adat, serta penyajian kuliner khas daerah.
Gubernur Zainal melihat potensi besar tradisi ini sebagai daya tarik wisata
budaya yang bisa dikembangkan lebih lanjut, sehingga tidak hanya melestarikan
warisan leluhur tapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.
Komitmen Pemprov Kaltara dalam Pelestarian Budaya
Sebagai pemimpin yang telah menjabat sejak 2021 dan terpilih
kembali pada Pilkada 2024, Gubernur Zainal secara konsisten mendorong penguatan
ekosistem budaya di Kaltara. Dukungan Pemprov Kaltara terhadap pelestarian adat
istiadat daerah, termasuk Pesta Budaya Meja Panjang, dilakukan dengan semangat
gotong royong untuk menjaga keutuhan, persaudaraan, dan kebersamaan. Visi ini
sejalan dengan target pembangunan Kaltara yang maju, makmur, dan berkelanjutan,
di mana budaya menjadi salah satu pilar utama.
Meski tidak disebutkan anggaran spesifik untuk acara
tersebut, komitmen pemerintah provinsi mencakup pendampingan dan promosi
tradisi serupa di berbagai kabupaten/kota, termasuk di wilayah perbatasan dan
pedalaman. Upaya ini juga selaras dengan visi misi pasangan Zainal Arifin
Paliwang-Ingkong Ala (ZIAP), yang menekankan pelestarian dan pengembangan
budaya lokal, penguatan lembaga adat, serta pengembangan desa wisata berbasis
budaya.
Kaltara, dengan kekayaan etnis seperti Dayak Kenyah, Tidung,
Lundayeh, dan lainnya, memiliki beragam tradisi yang perlu dijaga agar tidak
punah di tengah arus modernisasi. Tradisi seperti Pesta Budaya Meja Panjang
menjadi contoh bagaimana nilai-nilai luhur seperti harmoni, keberagaman, dan
saling menghargai bisa terus hidup dan relevan. Gubernur Zainal menekankan
pentingnya menjaga harmoni ini sebagai fondasi pembangunan daerah.
Potensi Wisata Budaya dan Dampak Jangka Panjang
Pengembangan tradisi adat sebagai objek wisata budaya
menjadi salah satu arah yang didorong. Dengan penampilan tari adat, busana
tradisional, dan kuliner khas, acara seperti ini bisa menarik wisatawan
nusantara maupun mancanegara, terutama yang mencari pengalaman autentik di
Kalimantan. Hal ini sejalan dengan upaya provinsi untuk mengembangkan
pariwisata berbasis budaya dan alam, yang telah menjadi prioritas dalam
beberapa tahun terakhir.
Gubernur Zainal menutup sambutannya dengan seruan bersama:
"Mari kita jaga harmoni, rawat keberagaman dan melangkah bersama dalam
membangun Kaltara yang maju dan berbudaya, demi tercapainya visi Kaltara yang
Maju, Makmur dan Berkelanjutan." Pesan ini mencerminkan pendekatan
holistik: budaya bukan hanya masa lalu, tapi juga modal untuk masa depan.
Dengan dukungan berkelanjutan dari Pemprov Kaltara,
diharapkan lebih banyak tradisi adat bisa dilestarikan dan dikembangkan.
Masyarakat Desa Pimping dan komunitas adat lainnya menjadi teladan, sementara
pemerintah terus berperan sebagai fasilitator. Di tengah pembangunan
infrastruktur dan ekonomi yang pesat, penguatan ekosistem budaya menjadi
pengingat bahwa kemajuan sejati harus berakar pada identitas budaya yang kuat.








