Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Kemenag dan Stasiun Geofisika Balikpapan Pantau Hilal Lebaran 2026 di IKN: Sidang Isbat Tetap Digelar 29 Maret, Ru'yah di Kawasan Inti Nusantara

 

Ilustrasi AI

IKN – Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia bersama Stasiun Geofisika Balikpapan, BMKG, melakukan pemantauan hilal Ramadan 1447 H/2026 M langsung di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN). Pemantauan ini menjadi bagian dari rangkaian persiapan sidang isbat penetapan 1 Syawal 1447 H atau Idul Fitri 2026, yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu petang, 29 Maret 2026.

Tim gabungan tiba di lokasi pemantauan hilal di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN pada Selasa, 17 Maret 2026. Lokasi dipilih karena posisinya yang strategis di wilayah timur Kalimantan, memberikan visibilitas langit barat yang relatif lebih baik pada saat matahari terbenam. Petugas Kemenag dan BMKG menggunakan teleskop astronomi modern serta peralatan pendukung seperti theodolite dan kamera high-resolution untuk mengamati kemunculan sabit bulan tipis setelah matahari terbenam.

Kepala Stasiun Geofisika Balikpapan, Rosa Amelia, menjelaskan bahwa pemantauan ini sekaligus menjadi uji coba koordinasi lintas instansi di kawasan IKN yang masih dalam tahap pembangunan. “Kami memantau hilal dari IKN untuk mendukung data hisab dan ru’yah nasional. Hasil pengamatan ini akan menjadi salah satu rujukan penting bagi sidang isbat pusat di Jakarta,” ujar Rosa dalam keterangannya kepada Kompas TV. Ia menambahkan bahwa kondisi cuaca di kawasan IKN pada hari pemantauan relatif cerah, meski ada potensi awan tipis di ufuk barat yang menjadi tantangan utama.

Sementara itu, Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kemenag, Adib, menyatakan bahwa pemantauan hilal di IKN merupakan langkah simbolis sekaligus fungsional. “IKN sebagai ibu kota baru akan menjadi pusat berbagai kegiatan nasional, termasuk penentuan awal bulan Hijriah. Kami ingin memastikan bahwa fasilitas dan koordinasi di sini sudah siap mendukung tugas keagamaan negara,” katanya. Menurut Adib, meskipun pemantauan dilakukan di beberapa titik di Indonesia—termasuk Gunung Batu, Ciamis (Jawa Barat), Pelabuhan Ratu, dan Pantai Loji Banyuwangi—data dari IKN akan turut dipertimbangkan karena posisi geografisnya yang mendekati garis khatulistiwa timur.

Sidang isbat penetapan 1 Syawal 1447 H rencananya digelar di Auditorium HM Rasjidi, Kantor Kementerian Agama RI, Jakarta, pada Minggu, 29 Maret 2026 pukul 17.00 WIB. Sidang ini akan dihadiri perwakilan ormas Islam, DPR, MUI, Mahkamah Agung, serta BMKG. Prosesnya menggabungkan dua metode utama: hisab (perhitungan astronomis) dan ru’yah (pengamatan langsung). Berdasarkan kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura) yang diadopsi Indonesia, hilal dianggap terlihat jika ketinggian minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.

Jika hilal terlihat atau memenuhi kriteria hisab, maka 1 Syawal jatuh pada Senin, 30 Maret 2026. Sebaliknya, jika tidak terlihat, maka Ramadan digenapkan menjadi 30 hari dan Idul Fitri jatuh pada Selasa, 31 Maret 2026. BMKG telah merilis data hisab awal: pada 29 Maret 2026 pukul 18.00 WIB, ketinggian hilal di wilayah Indonesia bagian timur diperkirakan sekitar 4–6 derajat dengan elongasi 7–9 derajat, tergantung lokasi pengamatan. Kondisi ini memberikan peluang cukup tinggi untuk ru’yah berhasil, meskipun faktor cuaca tetap menjadi penentu utama.

Pemantauan di IKN juga menjadi momen bersejarah karena menandai keterlibatan kawasan ibu kota baru dalam agenda keagamaan nasional. Sejumlah fasilitas sementara seperti Masjid Negara IKN telah disiapkan sebagai salah satu titik potensial rukyatul hilal di masa mendatang. Kemenag berencana menjadikan IKN sebagai salah satu pusat rukyat tetap mulai tahun-tahun berikutnya, seiring rampungnya infrastruktur pendukung.

Bagi masyarakat Kalimantan Timur, khususnya di Penajam Paser Utara dan sekitarnya, kegiatan ini menjadi tanda bahwa IKN tidak hanya soal pembangunan fisik, melainkan juga pusat kegiatan keagamaan dan kebudayaan nasional. Hasil pemantauan hilal di kawasan ini akan menjadi bagian dari keputusan bersama yang menentukan kapan umat Islam di seluruh Indonesia merayakan Lebaran 2026.

Dengan semangat persatuan, pemantauan hilal di IKN ini menggarisbawahi bahwa ibu kota baru dirancang untuk menjadi tempat berkumpulnya berbagai elemen bangsa—termasuk dalam menentukan hari besar keagamaan. Masyarakat diimbau mengikuti pengumuman resmi sidang isbat dari Kemenag agar persiapan Lebaran berjalan lancar dan penuh berkah.

 

Also Read
Tag:
Latest News
  • Kemenag dan Stasiun Geofisika Balikpapan Pantau Hilal Lebaran 2026 di IKN: Sidang Isbat Tetap Digelar 29 Maret, Ru'yah di Kawasan Inti Nusantara
  • Kemenag dan Stasiun Geofisika Balikpapan Pantau Hilal Lebaran 2026 di IKN: Sidang Isbat Tetap Digelar 29 Maret, Ru'yah di Kawasan Inti Nusantara
  • Kemenag dan Stasiun Geofisika Balikpapan Pantau Hilal Lebaran 2026 di IKN: Sidang Isbat Tetap Digelar 29 Maret, Ru'yah di Kawasan Inti Nusantara
  • Kemenag dan Stasiun Geofisika Balikpapan Pantau Hilal Lebaran 2026 di IKN: Sidang Isbat Tetap Digelar 29 Maret, Ru'yah di Kawasan Inti Nusantara
  • Kemenag dan Stasiun Geofisika Balikpapan Pantau Hilal Lebaran 2026 di IKN: Sidang Isbat Tetap Digelar 29 Maret, Ru'yah di Kawasan Inti Nusantara
  • Kemenag dan Stasiun Geofisika Balikpapan Pantau Hilal Lebaran 2026 di IKN: Sidang Isbat Tetap Digelar 29 Maret, Ru'yah di Kawasan Inti Nusantara
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad