Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Eni Indonesia Finalkan Investasi Rp 235 Triliun untuk Proyek Gas Raksasa Laut Dalam di Kalimantan Timur: Produksi Dimulai 2028, Dorong Ketahanan Energi Nasional

 

Ilustrasi AI

Samarinda – Sektor hulu migas Indonesia kembali mendapat angin segar. Perusahaan energi raksasa asal Italia, Eni, melalui anak usahanya Eni Indonesia, resmi mengambil keputusan investasi akhir (Final Investment Decision/FID) untuk dua proyek gas besar di lepas pantai Kalimantan Timur. Proyek tersebut adalah Gendalo–Gandang (South Hub) dan Geng North–Gehem (North Hub), dengan total nilai investasi mencapai sekitar US$ 15 miliar atau setara Rp 235 triliun (kurs Rp 15.700 per dolar AS).

Keputusan FID ini diumumkan pada pertengahan Maret 2026, hanya 18 bulan setelah persetujuan Plan of Development (POD) pada 2024. Percepatan ini menandai kemajuan signifikan dalam pengembangan gas laut dalam di Indonesia, yang selama ini dikenal sebagai proyek berisiko tinggi dan berteknologi canggih.

Proyek South Hub melibatkan pengembangan lapangan Gendalo dan Gandang di kedalaman laut 1.000–1.800 meter. Rencananya, akan dibor 7 sumur produksi yang terhubung ke fasilitas Floating Production Unit (FPU) Jangkrik yang sudah ada. Sementara North Hub mencakup Geng North dan Gehem di kedalaman 1.700–2.000 meter, dengan 16 sumur produksi yang akan terhubung ke Floating Production Storage and Offloading (FPSO) baru berkapasitas pemrosesan lebih dari 1 miliar kaki kubik gas per hari serta 90.000 barel kondensat per hari.

Secara keseluruhan, kedua hub ini memiliki potensi sumber daya sekitar 10 triliun kaki kubik gas (TCF) dan 550 juta barel kondensat. Produksi pertama diproyeksikan mulai tahun 2028, dengan puncak produksi pada 2029 mencapai sekitar 2 miliar kaki kubik gas per hari dan 90.000 barel kondensat per hari.

Gas yang dihasilkan akan dialirkan melalui pipa ke darat untuk memasok jaringan pipa domestik serta mendukung produksi LNG di fasilitas Bontang LNG Plant. Untuk itu, Train F di Bontang LNG yang sempat tidak beroperasi sejak 2020 akan direaktivasi pada Oktober 2028 guna menampung pasokan baru ini. Sementara kondensat akan diproses dan disimpan di FPSO sebelum diekspor menggunakan kapal tanker.

Teknologi laut dalam yang digunakan, dikombinasikan dengan pemanfaatan infrastruktur eksisting seperti Jangkrik FPU, diharapkan meningkatkan efisiensi biaya dan mempercepat waktu komersialisasi gas. Saat ini, Eni sedang menjalankan proses tender pengadaan barang dan jasa secara paralel, serta telah membeli item long lead (LLI) yang memerlukan waktu pengiriman panjang.

Managing Director Eni Indonesia telah melaporkan pengumuman FID ini langsung kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia pada Selasa (17/3/2026). Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto, menyambut baik keputusan tersebut.

“Keputusan investasi ini menjadi langkah penting dalam mendukung peningkatan produksi gas nasional sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia. SKK Migas bersama pemerintah akan terus mendorong percepatan pengembangan proyek-proyek strategis seperti ini agar dapat memberikan manfaat maksimal bagi negara dan masyarakat serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi,” ujar Djoko Siswanto dalam keterangan tertulisnya, Kamis (19/3/2026).

Ia menambahkan bahwa investasi sebesar US$ 15 miliar ini akan menciptakan efek berganda, termasuk penyerapan tenaga kerja dalam jumlah ribuan orang. “Dengan nilai investasi tersebut, diperkirakan akan menyerap banyak sekali tenaga kerja, hingga ribuan orang,” katanya.

Eni telah beroperasi di Indonesia sejak 2001 dan menjadi salah satu produsen gas utama di Cekungan Kutai, Selat Makassar. Wilayah ini kini berkembang pesat sebagai pusat produksi gas strategis nasional. Proyek ini juga akan menjadi bagian dari aset yang digabungkan dalam kerja sama bisnis antara Eni dan Petronas (Malaysia), membentuk perusahaan baru (NewCo) dengan target produksi lebih dari 500.000 barel setara minyak per hari pada 2029.

Bagi Indonesia, proyek ini merupakan tonggak penting dalam pengembangan gas laut dalam. Volume gas dan LNG yang dihasilkan akan mendukung ketahanan energi jangka panjang, mengurangi ketergantungan impor, serta memperkuat posisi Indonesia sebagai pemasok LNG di pasar global. Selain itu, dampak ekonomi lokal di Kalimantan Timur diprediksi signifikan melalui multiplier effect: lapangan kerja, peningkatan pendapatan daerah, dan pertumbuhan sektor pendukung.

Keputusan FID Eni ini juga menjadi sinyal kuat kepercayaan investor asing terhadap iklim investasi hulu migas Indonesia. Di tengah tantangan global, percepatan proyek seperti ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menciptakan regulasi yang ramah investor sambil memastikan manfaat bagi negara.

Pemerintah melalui SKK Migas dan Kementerian ESDM terus mendorong agar proyek berjalan sesuai jadwal. Dengan infrastruktur pendukung seperti reaktivasi Train F Bontang LNG, pasokan gas domestik dan ekspor diharapkan semakin stabil ke depan.

Bagi masyarakat Kalimantan Timur dan nasional, proyek gas raksasa ini bukan hanya soal angka investasi, melainkan harapan nyata akan energi yang lebih terjangkau dan berkelanjutan. Eni Indonesia telah membuktikan komitmen jangka panjangnya, dan kini bola ada di tangan eksekusi lapangan.

Pantau terus perkembangan resmi dari SKK Migas, Kementerian ESDM, dan Eni untuk update terkini seputar proyek gas laut dalam Kalimantan Timur ini.

 

Also Read
Tag:
Latest News
  • Eni Indonesia Finalkan Investasi Rp 235 Triliun untuk Proyek Gas Raksasa Laut Dalam di Kalimantan Timur: Produksi Dimulai 2028, Dorong Ketahanan Energi Nasional
  • Eni Indonesia Finalkan Investasi Rp 235 Triliun untuk Proyek Gas Raksasa Laut Dalam di Kalimantan Timur: Produksi Dimulai 2028, Dorong Ketahanan Energi Nasional
  • Eni Indonesia Finalkan Investasi Rp 235 Triliun untuk Proyek Gas Raksasa Laut Dalam di Kalimantan Timur: Produksi Dimulai 2028, Dorong Ketahanan Energi Nasional
  • Eni Indonesia Finalkan Investasi Rp 235 Triliun untuk Proyek Gas Raksasa Laut Dalam di Kalimantan Timur: Produksi Dimulai 2028, Dorong Ketahanan Energi Nasional
  • Eni Indonesia Finalkan Investasi Rp 235 Triliun untuk Proyek Gas Raksasa Laut Dalam di Kalimantan Timur: Produksi Dimulai 2028, Dorong Ketahanan Energi Nasional
  • Eni Indonesia Finalkan Investasi Rp 235 Triliun untuk Proyek Gas Raksasa Laut Dalam di Kalimantan Timur: Produksi Dimulai 2028, Dorong Ketahanan Energi Nasional
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad