Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Banjir di Kawasan IKN: Tantangan Alam di Tengah Ambisi Pembangunan Ibu Kota Baru

Ilustrasi AI

IKN, 11 Januari 2026 – Banjir yang melanda Kelurahan Mentawir, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, pada Kamis (8/1/2026) dini hari menjadi sorotan nasional. Kejadian ini, yang merendam puluhan rumah dan disebut sebagai banjir terparah dalam 26 tahun terakhir oleh warga setempat, menimbulkan pertanyaan besar tentang kesiapan infrastruktur dan pengelolaan lingkungan di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN). Meski bukan terjadi di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP), banjir ini mengingatkan bahwa proyek ambisius pemindahan ibu kota tetap harus berhadapan dengan dinamika alam tropis Kalimantan.

Menurut laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU, banjir dimulai sekitar pukul 03.00 WITA akibat luapan sungai setelah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat mengguyur wilayah sejak Rabu malam. Setidaknya 54 rumah di tiga RT terdampak, dengan tinggi genangan mencapai 80 cm di beberapa titik. Lurah Mentawir, Nelva Susanti, menyatakan bahwa banjir musiman seperti ini memang sering terjadi di akhir dan awal tahun, namun skala kali ini merupakan yang terbesar sejak 26 tahun ia tinggal di sana. Untungnya, tidak ada korban jiwa, dan aktivitas warga mulai pulih pada Jumat (9/1/2026).

Deputi Bidang Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat Otorita IKN, Alimuddin, menjelaskan bahwa banjir ini disebabkan oleh kombinasi faktor alam dan antropogenik. Curah hujan tinggi sejak awal Januari 2026, ditambah air pasang (rob), menjadi pemicu utama. BMKG memang telah memprediksi potensi hujan lebat di Kalimantan Timur menjelang akhir 2025 hingga awal 2026, dipengaruhi La Niña lemah, IOD negatif, serta fenomena seperti gelombang Rossby-Kelvin dan MJO yang meningkatkan pertumbuhan awan hujan.

Mentawir sendiri termasuk dalam 10 titik rawan banjir di kawasan IKN berdasarkan kajian Risiko Bencana BNPB periode 2020-2024. Wilayah ini secara historis memang rawan banjir musiman karena posisinya di daerah rendah dekat sungai. Otorita IKN menyatakan akan segera melakukan normalisasi dan revitalisasi sungai di area terdampak sebagai langkah mitigasi jangka pendek, sementara penanganan jangka panjang melibatkan perbaikan drainase dan sistem pengelolaan air.

Di sisi lain, beberapa media lokal menyebut banjir ini sebagai "pertanda ditolak alam", menyiratkan kritik terhadap pembangunan IKN yang dianggap mengganggu ekosistem. Namun, data resmi menunjukkan bahwa banjir ini lebih bersifat musiman dan dipicu cuaca ekstrem regional, bukan langsung akibat konstruksi di KIPP. Pembangunan IKN memang melibatkan pembukaan lahan besar-besaran, yang berpotensi mempercepat erosi dan mengurangi resapan air di hulu sungai. Namun, pemerintah telah merancang IKN sebagai kota hutan dengan 70% area hijau, termasuk kolam retensi dan sistem drainase modern untuk mengantisipasi risiko seperti ini.

Fenomena ini juga memengaruhi akses menuju IKN. Pada periode yang sama, ruas Jalan Tol Balikpapan-IKN Segmen 3A2 (Karangjoang–KKT Kariangau) mengalami ambles atau pergeseran tanah timbunan akibat hujan deras pada Kamis (8/1/2026). Akses tol sempat ditutup sementara, meski sebelumnya dibuka fungsional terbatas gratis selama libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (20 Desember 2025–4 Januari 2026). Kementerian PUPR bersama konsorsium BUMN menargetkan perbaikan rampung pada Maret 2026. Wakil Menteri PU Diana Kusumastuti menegaskan bahwa kerusakan ini bersifat teknis dan tidak mengganggu progres keseluruhan proyek.

Banjir di Mentawir menggarisbawahi tantangan besar dalam membangun kota baru di wilayah tropis yang rentan cuaca ekstrem. Meski IKN dirancang berkelanjutan, realitas alam seperti curah hujan tinggi (diprediksi BMKG mencapai ratusan mm/bulan di puncak musim hujan) memerlukan adaptasi cepat. Otorita IKN telah menyiapkan rencana mitigasi, termasuk normalisasi sungai dan pembangunan infrastruktur pengendali banjir. Namun, partisipasi masyarakat lokal dan pengawasan ketat terhadap dampak lingkungan tetap krusial.

Di tengah kritik dan dukungan, banjir ini seharusnya menjadi pelajaran berharga: pembangunan masa depan Indonesia harus selaras dengan alam, bukan melawannya. Dengan komitmen bersama, IKN bisa menjadi model kota tangguh bencana, bukan sekadar simbol ambisi yang rapuh.

 


Also Read
Latest News
  • Banjir di Kawasan IKN: Tantangan Alam di Tengah Ambisi Pembangunan Ibu Kota Baru
  • Banjir di Kawasan IKN: Tantangan Alam di Tengah Ambisi Pembangunan Ibu Kota Baru
  • Banjir di Kawasan IKN: Tantangan Alam di Tengah Ambisi Pembangunan Ibu Kota Baru
  • Banjir di Kawasan IKN: Tantangan Alam di Tengah Ambisi Pembangunan Ibu Kota Baru
  • Banjir di Kawasan IKN: Tantangan Alam di Tengah Ambisi Pembangunan Ibu Kota Baru
  • Banjir di Kawasan IKN: Tantangan Alam di Tengah Ambisi Pembangunan Ibu Kota Baru
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad