![]() |
| Ilustrasi AI |
Samarinda – Kekayaan alam Kalimantan Timur (Kaltim) yang
melimpah dari sektor tambang seharusnya membawa berkah nyata bagi pencerdasan
masyarakat setempat. Namun, kenyataannya masih jauh dari harapan. Anggota Dewan
Perwakilan Daerah (DPD) RI daerah pemilihan Kalimantan Timur, Aji Mirni
Mawarni, dengan tegas mendesak perusahaan-perusahaan tambang di Benua Etam
untuk memfokuskan dana Corporate Social Responsibility (CSR) pada sektor
pendidikan.
Pernyataan ini disampaikan Aji Mirni Mawarni di Samarinda
pada Selasa (24 Maret 2026). Senator perempuan yang akrab disapa Mawar ini
menyayangkan minimnya kontribusi khusus dari perusahaan tambang besar terhadap
pendidikan anak-anak di sekitar area operasional mereka. “Saya sangat
menyayangkan bahwa sejumlah perusahaan tambang besar daerah ini belum
memberikan CSR secara khusus untuk membiayai pendidikan anak-anak di
sekitarnya,” ujarnya, seperti dikutip Antara.
Menurut Aji Mirni, kontribusi sektor korporasi terhadap
peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di kawasan tambang masih sangat
rendah. Padahal, tambang-tambang di Kaltim telah lama mengeksploitasi sumber
daya alam daerah. Ia juga mengamati adanya mentalitas sebagian masyarakat yang
masih memandang sebelah mata pentingnya pendidikan formal. Namun, hal itu tidak
boleh menjadi alasan bagi perusahaan untuk mengabaikan tanggung jawab
sosialnya.
“Oleh karena itu kami meminta agar pemerintah daerah berani
mengambil langkah tegas dengan mewajibkan setiap perusahaan tambang untuk
membiayai sekolah anak setempat secara penuh,” tegas Aji Mirni Mawarni. Ia
mengusulkan skema konkret: setiap perusahaan tambang setidaknya menanggung
biaya pendidikan penuh bagi satu hingga tiga anak dari kawasan lingkar tambang
pada setiap tahun ajaran baru. Pembiayaan tersebut idealnya mencakup jenjang
pendidikan menengah atas hingga mahasiswa berhasil lulus dari perguruan tinggi.
Aji Mirni Mawarni, tokoh perempuan Kaltim yang memiliki
latar belakang sebagai mantan Direktur Utama PDAM Tirta Tuah Benua dan kini
kembali terpilih sebagai petahana DPD RI, menyadari bahwa investasi di bidang
pendidikan tidak memberikan hasil instan. Dampak positifnya memang membutuhkan
waktu yang panjang. “Meskipun membutuhkan proses lama, investasi jangka panjang
ini merupakan sebuah keharusan yang mutlak untuk dilakukan demi mempersiapkan
generasi penerus daerah yang unggul,” katanya.
Fakta di lapangan yang ia soroti cukup memprihatinkan. Masih
banyak desa di pelosok Kalimantan Timur yang sama sekali tidak memiliki
bangunan Sekolah Menengah Atas (SMA). Kondisi ini memaksa anak-anak daerah
untuk merantau jauh hanya demi mendapatkan hak dasar pendidikan. “Dalam kondisi
harus merantau inilah, kucuran beasiswa pendidikan dari pihak swasta menjadi
penyelamat bagi keberlangsungan studi anak-anak dari keluarga kurang mampu dari
pelosok,” ungkapnya.
Desakan ini muncul di tengah pembangunan besar-besaran di
Kaltim, termasuk persiapan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang berada di provinsi
ini. Kekayaan dari batu bara dan tambang lainnya seharusnya tidak hanya
dinikmati segelintir pihak, melainkan benar-benar dirasakan masyarakat lokal
melalui peningkatan akses dan kualitas pendidikan.
Aji Mirni Mawarni berharap usulannya segera diakomodasi oleh
semua pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah hingga perusahaan
tambang itu sendiri. Dengan demikian, kekayaan alam Kalimantan Timur dapat
menjadi berkah sejati bagi pencerdasan warganya, bukan sekadar sumber
pendapatan jangka pendek.
Sebagai anggota DPD RI yang fokus pada isu daerah, Aji Mirni
Mawarni sering menyuarakan aspirasi masyarakat Kaltim. Latar belakangnya di
bidang teknik lingkungan dan pengalaman memimpin PDAM membuatnya paham betul
tantangan pembangunan berkelanjutan, termasuk keseimbangan antara eksploitasi
sumber daya alam dan kesejahteraan masyarakat.
Desakan ini sejalan dengan berbagai upaya pemerintah
provinsi Kaltim dalam meningkatkan akses pendidikan, seperti program Gratispol
(Gratis Pola Pendidikan) yang anggarannya terus ditingkatkan. Namun, peran
swasta melalui CSR tetap krusial, terutama bagi anak-anak di lingkar tambang
yang sering kali berada di daerah terpencil.
Jika usulan ini direalisasikan, ribuan anak dari keluarga
kurang mampu di sekitar tambang bisa mendapatkan kesempatan belajar tanpa beban
biaya hingga jenjang perguruan tinggi. Hal ini tidak hanya akan meningkatkan
kualitas SDM lokal, tetapi juga mengurangi kesenjangan pendidikan antara
wilayah perkotaan dan pelosok.
Pemerintah daerah diharapkan segera merespons dengan
regulasi yang lebih tegas, sehingga CSR tidak lagi bersifat konsumtif atau
sporadis, melainkan terarah dan berdampak jangka panjang pada sektor
pendidikan. Perusahaan tambang juga perlu melihat ini sebagai investasi
strategis, bukan sekadar kewajiban formal.
Dengan semangat kebersamaan, Kalimantan Timur bisa menjadi
contoh bagaimana kekayaan tambang benar-benar mendukung pembangunan manusia.
Generasi muda Benua Etam layak mendapatkan pendidikan terbaik, agar mereka
kelak bisa menjadi penerus yang mampu mengelola daerahnya dengan lebih baik dan
berkelanjutan.
Desakan Aji Mirni Mawarni ini menjadi pengingat penting bagi
semua pihak: pendidikan adalah kunci kemajuan. Saatnya perusahaan tambang di
Kaltim mengalihkan fokus CSR dari program jangka pendek menuju investasi masa
depan yang sesungguhnya, yaitu mencerdaskan anak bangsa.







