![]() |
| Ilustrasi AI |
SAMARINDA — Kebijakan Pemerintah Provinsi Kalimantan
Timur (Pemprov Kaltim) menghadirkan mobil dinas baru untuk Gubernur
Rudy Mas’ud senilai Rp 8,5 miliar kembali menjadi sorotan publik
luas pada pekan ini. SUV hybrid bermesin besar yang diklaim digunakan
untuk menunjang tugas kedinasan itu menuai kritik tajam dari berbagai pihak,
terutama di tengah upaya efisiensi anggaran yang tengah digalakkan di daerah
dan pusat.
Sejumlah kalangan mengecam keputusan tersebut sebagai bentuk
ketidakkonsistenan kebijakan, sementara pihak pemerintahan membela langkah ini
sebagai kebutuhan operasional untuk wilayah dengan karakter geografis yang
berat. Kontroversi ini mencakup berbagai dimensi — dari prinsip efisiensi
anggaran, pertimbangan teknis operasional, hingga persepsi publik tentang
penggunaan anggaran pemerintah.
Anggaran Fantastis di Tengah Semangat Efisiensi
Nilai kendaraan dinas yang mencapai Rp 8,5 miliar langsung
menimbulkan tanda tanya besar dari publik dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah (DPRD) Kaltim. Pasalnya, kebijakan efisiensi anggaran tengah
digaungkan oleh pemerintah daerah, serta selaras dengan instruksi nasional
untuk memangkas belanja yang tidak berdampak langsung bagi layanan publik.
Namun, anggaran untuk SUV tersebut menunjukkan apa yang
disebut sejumlah pihak sebagai “langkah yang bertentangan” dengan semangat
efisiensi tersebut. “Ini jelas perlu dikaji ulang karena berada di tengah
kebijakan penghematan anggaran,” ujar seorang anggota DPRD kepada media lokal.
Mereka menilai seharusnya anggaran daerah difokuskan pada layanan dasar yang
langsung berdampak bagi masyarakat, seperti pendidikan, kesehatan, atau
infrastruktur desa.
Dalih “Medan Berat” dan Kebutuhan Operasional
Pihak Pemprov Kaltim, melalui Sekretaris Daerah (Sekda)
Sri Wahyuni, membela pengadaan kendaraan tersebut dengan alasan “kebutuhan
operasional di lapangan.” SUV hybrid berkapasitas mesin 3.000 cc
disebut dipilih bukan karena nilai kemewahannya, tetapi untuk memastikan
gubernur dapat menjangkau wilayah pelosok dan medan yang ekstrem, termasuk
kawasan pertambangan serta hutan yang kerap dilalui selama tugas dinas.
Menurut Sri Wahyuni, Gubernur Kaltim sering melakukan
kunjungan langsung ke daerah yang aksesnya menantang. Mobil itu dianggap
penting untuk memastikan mobilitas optimal di wilayah yang belum sepenuhnya
memiliki infrastruktur jalan beraspal mulus. Ia juga menekankan bahwa kendaraan
ini telah melalui kajian kebutuhan dan dipilih berdasarkan prinsip value for
money, meski harganya tergolong tinggi.
Selain itu, kendaraan tersebut juga dipersiapkan untuk
mendukung fungsi protokoler, seperti menjemput tamu negara atau pejabat tinggi
yang datang ke Ibu Kota Nusantara (IKN) atau wilayah Kaltim lainnya. Hal
ini menjadi salah satu pertimbangan dalam memilih kendaraan dengan spesifikasi
kelas atas.
Kritik dari Legislatif dan Masyarakat
Meski penjelasan dari Pemprov Kaltim telah disampaikan,
kritik dari legislatif tak mereda. Anggota Badan Anggaran DPRD Kaltim
menyatakan bahwa pihaknya sempat diberi pernyataan bahwa tidak akan ada
pengadaan mobil dinas baru demi efisiensi anggaran pada periode ini. Namun,
kenyataannya kendaraan mewah itu justru muncul. “Ini membuat kami merasa
kecolongan,” kata seorang anggota dewan.
DPRD juga meragukan alasan “medan berat” karena jika benar
pertimbangannya adalah medan ekstreem, menurut kritik yang berkembang, Pemprov
Kaltim bisa memilih opsi kendaraan yang lebih fungsional tetapi dengan harga
jauh lebih murah, seperti kendaraan 4×4 standar yang banyak digunakan
untuk aktivitas lapangan.
Beberapa pengamat dianggap mobil luxury seperti Range Rover
lebih cocok digunakan pada jalan beraspal di perkotaan daripada medan terjal di
pedalaman, yang justru membutuhkan kendaraan dengan karakter teknis tangguh
namun tidak terlalu mahal.
Proyeksi Efisiensi Jangka Panjang dan Teknologi Hybrid
Sisi lain dari polemik ini datang dari pendukung kebijakan,
salah satunya Ketua Umum Forum Dayak Bersatu (FDB). Menurutnya, kritik
yang berkembang sering kali emosional dan perlu dilihat secara lebih luas dari
berbagai aspek, termasuk efisiensi jangka panjang, keamanan, dan kebutuhan
operasional kepala daerah.
Decky Samuel, Ketua FDB, menyampaikan bahwa kendaraan dinas
gubernur bukan sekadar alat transportasi biasa, tetapi juga bagian dari citra
wilayah yang tengah menjadi pusat perhatian nasional dan internasional,
terutama karena peranannya sebagai pintu gerbang ke IKN. Ia menilai kendaraan
representatif dan aman menjadi bagian dari kewajiban seorang pemimpin daerah.
Selain itu, penggunaan teknologi hybrid — yaitu
kombinasi mesin pembakaran internal dan motor listrik — disebut memberikan
nilai tambah dalam konteks transisi energi dan efisiensi bahan bakar
dibandingkan kendaraan bermesin konvensional murni. Hal ini sejalan dengan tren
global dalam upaya menekan emisi dan biaya bahan bakar, meski efektivitas
kendaraan hybrid terhadap emisi masih lebih rendah dibanding kendaraan
listrik penuh.
Transparansi Anggaran dan Manajemen Publik
Isu mobil dinas ini semakin menjadi cerminan betapa
krusialnya transparansi anggaran dan komunikasi publik dalam pengelolaan
uang rakyat. Banyak warga mengaku merasa perlu penjelasan rinci tentang peran
kendaraan dalam tugas gubernur dan bagaimana dampaknya terhadap pelayanan
publik.
Beberapa pihak menilai jika anggaran sebesar itu benar-benar
diperlukan, pemerintah daerah perlu memberikan laporan terbuka kepada publik,
termasuk rincian kebutuhan, perbandingan alternatif kendaraan lain, serta
evaluasi biaya-manfaat secara komprehensif. Tanpa itu, persepsi publik tentang
prioritas anggaran daerah bisa menjadi negatif.
Polemik di Tengah Tantangan Fiskal Daerah
Kontroversi ini muncul di tengah tantangan fiskal yang
tengah dihadapi banyak daerah di Indonesia, termasuk Kaltim, di mana sejumlah
program penting seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur masih
membutuhkan dukungan anggaran signifikan. Di banyak wilayah, upaya efisiensi
berfokus pada pengurangan belanja operasional yang tidak berdampak langsung
terhadap pelayanan publik.
Merebaknya polemik ini memperlihatkan bahwa keputusan
penggunaan anggaran publik, apalagi yang bernilai fantastis, harus
dipertimbangkan dengan matang dari perspektif teknis, sosial, politik, dan
komunikasi publik. Keterbukaan pemerintah dalam menjelaskan setiap langkah
menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan masyarakat.
Menyikapi Polemik Menuju Solusi
Seiring perdebatan yang terus berlangsung, banyak pihak
berharap isu ini menjadi momentum bagi Pemprov Kaltim untuk memperkuat
mekanisme evaluasi anggaran dan memperbaiki sistem komunikasi dengan publik.
Transparansi yang tinggi dan keterlibatan berbagai pihak dalam perencanaan
anggaran dianggap akan membantu mengurangi kontroversi serupa di masa depan.
Isu mobil dinas gubernur senilai Rp 8,5 miliar mengingatkan
bahwa setiap keputusan pengelolaan anggaran publik tidak hanya soal angka dan
kebutuhan operasional, tetapi juga soal kepercayaan masyarakat kepada
pemerintah, serta prioritas belanja publik yang tepat di saat masyarakat
tengah menghadapi tantangan ekonomi dan sosial yang kompleks.







