Palangka Raya, Kalimantan Tengah — Pemerintah
Provinsi Kalimantan Tengah (Pemprov Kalteng) di bawah kepemimpinan Gubernur H.
Agustiar Sabran kembali menegaskan komitmennya untuk memperluas akses
pendidikan bagi seluruh anak di daerah itu. Salah satu fokus utama pada awal
tahun 2026 adalah memastikan agar Program Sekolah Gratis benar-benar
menjangkau wilayah pedalaman yang selama ini sering tertinggal dari pusat
kota baik dalam akses maupun kualitas pendidikan.
Hal ini disampaikan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas
Pendidikan Kalimantan Tengah, Muhammad Reza Prabowo, ketika memaparkan
capaian dan arah kebijakan pendidikan yang selama ini dijalankan. Menurut Reza,
Gubernur Agustiar Sabran secara khusus menginginkan agar bantuan pendidikan ini
tidak hanya menjadi slogan, tetapi dirasakan langsung oleh peserta didik dari
keluarga kurang mampu.
Fokus Program Bagi Siswa Tidak Mampu dan Daerah Pedalaman
Reza menekankan bahwa konsentrasi utama Pemprov Kalteng saat
ini adalah menjamin bahwa bantuan sekolah gratis dapat diakses oleh anak-anak
di pedalaman provinsi. Langkah ini sejalan dengan upaya pemerataan pendidikan
yang berkeadilan sosial, di mana pendidikan dipandang bukan sebagai hak
istimewa tetapi hak fundamental seluruh anak bangsa.
Lebih jauh, program ini secara spesifik ditujukan untuk
membantu siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu, terutama di daerah
terpencil yang selama ini mengalami tantangan akses pendidikan — baik dari sisi
biaya maupun infrastruktur sekolah. Kebijakan ini muncul sebagai reaksi
terhadap kondisi geografis Kalimantan Tengah yang memiliki banyak wilayah sulit
dijangkau oleh pelayanan publik.
Skema Bantuan dan Penerapan Sekolah Gratis
Dalam penerapannya, Pemprov Kalteng telah melaksanakan
sejumlah skema strategi supaya program sekolah gratis ini berjalan efektif.
Salah satu bentuknya adalah pembebasan pungutan Biaya Penunjang Pendidikan
(BPP) di sejumlah sekolah. Sekolah-sekolah tersebut sepenuhnya memanfaatkan
pendanaan dari Bantuan Operasional Sekolah Reguler (BOSP) dan Bantuan
Operasional Sekolah Daerah (BOSDA) untuk menanggung biaya siswa.
Namun demikian, tidak semua sekolah menerapkan kebijakan
pembebasan penuh biaya pendidikan. Di beberapa lokasi, terutama di daerah
perkotaan atau sekolah swasta tertentu, masih diterapkan BPP dengan skema subsidi
silang. Artinya, siswa dari keluarga mampu tetap dikenakan iuran, sementara
siswa kurang mampu dibebaskan dari pungutan tersebut.
Selain itu, laporan resmi Dinas Pendidikan menyebut bahwa 422
sekolah di seluruh Kalimantan Tengah telah mengambil bagian dalam program
sekolah gratis, dengan dukungan anggaran dari BOSDA untuk menanggung
pengeluaran pendidikan siswa kurang mampu dan pedalaman. Rata-rata bantuan yang
diberikan sekitar Rp2,4 juta per siswa per tahun atau setara Rp200 ribu per
bulan.
Pernyataan Gubernur dan Visi Pendidikan yang Inklusif
Gubernur Agustiar Sabran secara konsisten menyatakan bahwa
tidak ada anak di Kalimantan Tengah — baik di kota maupun di kampung pedalaman
— yang harus berhenti sekolah karena persoalan biaya. Dalam berbagai kesempatan
sebelumnya, ia menegaskan bahwa pendidikan adalah hak setiap anak dan kewajiban
pemerintah untuk memfasilitasi akses itu tanpa diskriminasi.
Visi pemerataan pendidikan ini juga dirangkai dalam konsep
pembangunan lokal yang disebut Huma Betang, yang menekankan nilai
kesetaraan, persatuan, dan kebersamaan dalam setiap program pemerintah.
Pendidikan, kesehatan, pemberdayaan sosial, dan ekonomi menjadi empat pilar
utama yang saling berkolerasi dalam strategi pembangunan ini.
Sinergi Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat
Program sekolah gratis di Kalimantan Tengah tidak berjalan
sendiri. Kebijakan ini juga selaras dengan inisiatif nasional untuk memperluas
akses pendidikan bagi seluruh warga negara. Sinergi antara pemerintah daerah
dan pusat diharapkan semakin memperkuat pelaksanaan program ini agar manfaatnya
lebih maksimal, baik dari sisi kebijakan, pendanaan, maupun evaluasi
pelaksanaan.
Meskipun kemajuan terlihat signifikan, Pemprov Kalteng juga
mengakui adanya berbagai tantangan dalam pelaksanaan program ini. Salah satunya
adalah keterbatasan anggaran di sektor pendidikan yang harus dihadapi bersama
dalam jangka panjang. Peningkatan kualitas pelayanan publik di sektor
pendidikan tetap menjadi fokus berikutnya.
Selain itu, dukungan sarana dan prasarana di banyak wilayah
pedalaman masih memerlukan peningkatan. Infrastruktur sekolah, akses
transportasi, serta dukungan teknologi pembelajaran digital merupakan tantangan
substansial yang perlu ditempuh agar pendidikan tidak hanya sekedar gratis dari
segi biaya, tetapi juga bermutu dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Harapan Masyarakat
Program sekolah gratis ini sejatinya bukan hanya sebuah
kebijakan finansial, tetapi juga aspirasi sosial untuk memperkuat masa depan
generasi muda Kalimantan Tengah. Para siswa dari keluarga kurang mampu kini
memiliki kesempatan lebih besar untuk terus menempuh pendidikan tanpa dibebani
biaya pendidikan yang berat.
Selain itu, fokus terhadap pendidikan di pedalaman berdampak
signifikan terhadap penurunan kesenjangan antara wilayah perkotaan dan wilayah
pinggiran. Harapan banyak pihak adalah bahwa kesempatan yang lebih merata dapat
membuka peluang yang lebih besar bagi lahirnya generasi pemimpin, inovator, dan
profesional yang berasal dari seluruh pelosok Kalimantan Tengah.
Program Sekolah Gratis yang digagas Pemprov Kalimantan Tengah menunjukkan langkah nyata pemerintah daerah dalam mendorong pemerataan akses pendidikan. Dedikasi Gubernur Agustiar Sabran dan jajaran Dinas Pendidikan bukan hanya memperluas jangkauan kebijakan, tetapi juga memperkuat suara keadilan sosial dalam pembangunan. Meskipun tantangan masih ada, langkah progresif ini menjadi tonggak penting dalam menjamin bahwa setiap anak, tanpa terkecuali, memiliki akses pendidikan berkualitas tanpa hambatan biaya.





.webp)

