![]() |
| Ilustrasi AI |
Pontianak, Kalimantan Barat — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus menjadi ancaman serius di Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) sepanjang awal 2026. Peristiwa ini tidak hanya menyebabkan kerusakan lahan yang luas, tetapi juga menimbulkan korban jiwa di tengah masyarakat lokal.
Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh Badan Nasional
Penanggulangan Bencana (BNPB), kebakaran terbesar sejak awal tahun ini
telah menyebar luas, mencakup 11 kabupaten dan 2 kota di Kalbar selama
periode 1 Januari hingga 11 Februari 2026. Total area yang terdampak
dikonfirmasi mencapai sekitar 435.578 hektare, dengan sebagian besar
lahan berupa mineral dan gambut.
Lebih dari separuh dari area terdampak — sekitar 235.331
hektare — telah berhasil dipadamkan melalui upaya gabungan oleh berbagai
unsur pemadam kebakaran, sementara sisanya masih dalam proses pemadaman dan
pendinginan secara bertahap.
Penyebaran Karhutla Meluas di Kalbar
Sebaran kebakaran ini meliputi sejumlah wilayah
administratif di Kalimantan Barat, antara lain:
- Kota
Singkawang & Kota Pontianak
- Kabupaten
Kubu Raya
- Kabupaten
Sambas
- Kabupaten
Mempawah
- Kabupaten
Sintang
- Kabupaten
Melawi
- Kabupaten
Kayong Utara
- Kabupaten
Ketapang
- Kabupaten
Sanggau
- Kabupaten
Bengkayang
- Kabupaten
Landak
- Kabupaten
Sekadau
Dengan begitu banyaknya kabupaten dan kota yang terlibat,
karhutla di Kalbar tidak hanya merupakan masalah lokal semata, tetapi telah
menjadi isu provinsi yang memengaruhi berbagai sektor, termasuk kesehatan
masyarakat, kualitas udara, dan mata pencaharian warga di wilayah terdampak.
Korban Jiwa dan Dampak Kesehatan
Salah satu dampak paling tragis dari kebakaran hutan dan
lahan ini adalah korban jiwa yang dilaporkan di komunitas lokal Kalbar.
Seorang warga — seorang perempuan berusia 67 tahun — meninggal dunia akibat
gangguan pernapasan yang diduga berkaitan langsung dengan asap tebal dari
karhutla yang mengelilingi daerah tempat tinggalnya. Sebelum meninggal, korban
sempat dibawa ke fasilitas kesehatan puskesmas setempat dengan keluhan sesak
napas yang diperburuk oleh paparan asap.
Kasus ini mencerminkan risiko kesehatan serius yang
menyertai kebakaran hutan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan
anak-anak. Paparan asap dalam jangka waktu panjang dapat memperburuk kondisi
pernapasan dan kesehatan umum masyarakat.
Upaya Pemadaman dan Penanganan Darurat
Penanganan karhutla di Kalbar melibatkan koordinasi intensif
lintas lembaga dan unsur, antara lain:
- BNPB
(Badan Nasional Penanggulangan Bencana)
- BPBD
Provinsi dan Kabupaten/Kota
- TNI
& Polri
- Manggala
Agni
- KPH
(Kesatuan Pengelolaan Hutan)
- Dinas
Kehutanan
- Masyarakat
Peduli Api (MPA)
- Tim
pemadam kebakaran lokal
- Palang
Merah Indonesia (PMI)
- Dukungan
masyarakat setempat
Kolaborasi ini dilakukan melalui operasi darat di sejumlah
hotspot (titik api) serta pemadaman mekanis dan pendinginan (cooling)
area yang telah padam sebagian. Upaya tersebut dinilai penting untuk mencegah
kobaran api kembali menyala akibat suhu panas dan angin kering yang banyak
terjadi di musim tertentu.
Cuaca, Faktor Musim, dan Kondisi Risiko
Salah satu faktor yang memperburuk kondisi karhutla di
Kalbar adalah fenomena cuaca kering yang terjadi di awal tahun. Menurut rilis
pihak berwenang, terutama dari BMKG dan pihak terkait di Kalbar, periode
kekeringan pada Januari hingga awal Februari memicu peningkatan risiko
kebakaran karena rendahnya curah hujan dan meningkatnya titik panas (hotspot)
di banyak lokasi.
Tingkat kemarau yang cukup signifikan berdampak pada
vegetasi kering dan mudah terbakar, sehingga ketika api muncul — baik akibat
aktivitas manusia maupun sebab alamiah — kebakaran dengan cepat meluas ke
lahan-lahan sekitar.
Lahan Terbakar: Mineral dan Gambut
Lahan yang terdampak karhutla di Kalbar bukan hanya lahan
mineral kering, tetapi juga kawasan gambut yang semula memiliki cadangan air
alami. Kondisi lahan gambut ini ketika terbakar dapat menghasilkan asap tebal
dan sulit dipadamkan karena kobaran api dapat berlangsung di bawah permukaan
tanah.
Jenis lahan gambut yang terbakar ini memperlihatkan
tantangan bagi para pemadam, karena api dapat berjalan lambat di bawah tanah
dan muncul lagi setelah permukaan terlihat padam. Hal ini membutuhkan
pendekatan pemadaman yang lebih cermat dan intensif.
Respon Masyarakat dan Pemerintah Daerah
Warga di berbagai kabupaten dan kota Kalbar telah merasakan
langsung dampak dari kebakaran ini, terutama kualitas udara yang menurun
drastis akibat asap. Beberapa sekolah bahkan sempat menutup aktivitas belajar
di luar ruangan sebagai upaya untuk mengurangi paparan asap terhadap anak-anak
sekolah.
Pemerintah daerah setempat juga telah meningkatkan imbauan
kepada masyarakat untuk mengantisipasi karhutla, termasuk menghimbau warga agar
tidak membuka lahan dengan cara pembakaran, serta terus memantau titik-titik
rawan kebakaran.
Kebijakan Pemerintah dan Larangan Membakar
Pihak berwenang, baik pemerintah provinsi maupun kabupaten,
kembali menguatkan larangan pembakaran lahan dalam bentuk apapun. Hal ini
sesuai dengan peraturan nasional yang berlaku, di mana pembakaran hutan dan
lahan secara sengaja merupakan tindakan yang dilarang dan dapat dikenai sanksi
sesuai hukum. Upaya tersebut juga menjadi bagian dari mitigasi risiko agar
karhutla tidak semakin meluas.
Dampak Asap Terhadap Kesehatan dan Aktivitas
Asap dari kebakaran hutan telah mempengaruhi kualitas udara
di sejumlah kota besar di Kalbar, termasuk Pontianak dan Singkawang. Kabut asap
menyelimuti permukiman, yang secara langsung berdampak pada kesehatan
pernapasan warga, terutama yang memiliki riwayat penyakit paru-paru, lansia,
dan anak-anak.
Selain itu, aktivitas ekonomi seperti transportasi dan
perdagangan di pasar juga sempat terganggu akibat minimnya jarak pandang. Asap
karhutla seringkali menyebabkan jarak pandang menjadi terbatas, sehingga
operasional transportasi darat pun harus disesuaikan.
Penyebab Umum Karhutla
Kebakaran hutan dan lahan di Kalbar, sebagaimana juga
terjadi di wilayah lain di Indonesia, umumnya terjadi akibat kombinasi beberapa
faktor, yaitu:
- Pembukaan
lahan dengan metode pembakaran yang salah oleh manusia
- Cuaca
kering dan rendahnya curah hujan
- Kondisi
tanah gambut yang rentan terbakar
Meskipun ada faktor alamiah, banyak kejadian karhutla
awalnya disebabkan tindakan pembukaan lahan tanpa pengawasan atau pelanggaran
terhadap kebijakan lingkungan, yang kemudian berkembang menjadi kebakaran luas
dan sulit dikendalikan.
Penanganan Berkelanjutan
Respon darurat yang dilakukan saat ini merupakan bagian dari
upaya lebih luas untuk menangani karhutla Kalbar secara bertahap. Koordinasi
antarlembaga terus diperkuat untuk mengatasi titik-titik api yang tersisa,
sambil terus memantau kondisi cuaca yang berpotensi memicu kembali kebakaran di
area lain.
Upaya teknis seperti pendinginan titik api, patroli
intensif, serta dukungan logistik dari berbagai sumber terus dilakukan hingga
kondisi benar-benar aman.







