Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Enam Perusahaan Komitmen Kelola Bentang Alam Wehea-Kelay Secara Berkelanjutan: Momentum Baru Konservasi di Kaltim

 

Ilustrasi AI

Samarinda, Kalimantan Timur — Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim), bersama dengan sejumlah perusahaan konsesi hutan dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), menandatangani komitmen bersama untuk pengelolaan bentang alam Wehea-Kelay secara berkelanjutan. Inisiatif ini merupakan bagian penting dari upaya pelestarian keanekaragaman hayati di kawasan hutan tropis seluas ratusan ribu hektare yang membentang dari Kabupaten Kutai Timur hingga Berau.

Penandatanganan komitmen tersebut dilakukan di Samarinda pada Rabu (11/2/2026), dalam acara bertajuk “Komitmen Bersama Forum Wehea-Kelay untuk Pendekatan Multi Usaha Kehutanan (MUK)” yang digelar oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Kaltim bersama YKAN. Kegiatan ini menandai babak baru dalam pengelolaan lanskap hutan yang kaya biodiversitas, sekaligus respons terhadap tekanan ekologis yang terjadi di banyak kawasan hutan Indonesia.


Wehea-Kelay: Kawasan Ekosistem Esensial yang Bernilai Tinggi

Bentang alam Wehea-Kelay merupakan salah satu kawasan hutan penting di Kalimantan Timur. Pemerintah provinsi telah menetapkannya sebagai Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) — sebuah sebutan resmi untuk area yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati tinggi, termasuk sebagai habitat satwa terancam punah seperti Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus).

Wilayah ini meliputi hutan alam, kawasan adat, area konsesi perusahaan, serta lahan yang dikelola masyarakat dan institusi lainnya. Secara administratif, Wehea-Kelay mencakup ratusan ribu hektare dan menjadi habitat penting bagi flora dan fauna tropis selama puluhan tahun.

Keberadaan kawasan ini bukan hanya penting dari segi lingkungan, tetapi juga memegang peranan ekonomi dan sosial bagi masyarakat lokal yang tinggal di sekitarnya. Kondisi ini mendorong berbagai pihak untuk menciptakan model pengelolaan yang seimbang antara perlindungan alam dan pembangunan berkelanjutan.


Enam Perusahaan Tandatangani Komitmen Pengelolaan Lestari

Dalam forum yang berlangsung di Ibukota Provinsi Kaltim, enam perusahaan pemegang konsesi Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan di Hutan Alam (PBPH-HA) menyatakan komitmen mereka untuk turut serta dalam pengelolaan bentang alam secara berkelanjutan. Enam perusahaan tersebut adalah:

  1. PT Gunung Gajah Abadi
  2. PT Karya Lestari
  3. PT Utama Damai Indah Timber
  4. PT Aditya Kirana Makmur
  5. PT Wana Bakti Persada Utama
  6. PT Amindo Wana Persada

Penandatanganan komitmen ini dihadiri oleh Ketua Forum Bentang Alam Wehea-Kelay sekaligus Kepala DLH Kaltim, Joko Istanto, serta sejumlah pihak akademisi dan pemangku kepentingan lain, termasuk Profesor Irawan Wijaya Kusuma dari Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Tropis Universitas Mulawarman (Unmul).


Multi Usaha Kehutanan: Pendekatan Inovatif Melindungi Hutan

Skema Multi Usaha Kehutanan (MUK) yang diusung dalam komitmen ini bertujuan menggabungkan konservasi, ekonomi, dan tata kelola lingkungan dalam satu model pengelolaan terpadu di skala bentang alam. Artinya, perusahaan tidak hanya fokus pada pemanfaatan hutan untuk produksi kayu semata, tetapi juga menjaga keberlanjutan ekosistem, mitigasi perubahan iklim, dan melibatkan komunitas lokal dalam kegiatan ekonomi yang ramah lingkungan.

Direktur Eksekutif YKAN, Herlina Hartanto, menegaskan bahwa kolaborasi antar berbagai pihak ini menjadi langkah awal dalam mengembangkan model pengelolaan hutan di tingkat lanskap — bukan sekadar wilayah konsesi. Dengan pendekatan terpadu, diharapkan keseimbangan antara aspek ekonomi, ekologis, sosial, dan perubahan iklim dapat tercapai.


Menekan Deforestasi dan Menguatkan Mitigasi Bencana

Salah satu alasan kuat model ini diambil adalah karena laju deforestasi di Indonesia terus menjadi perhatian. Dalam tiga dekade terakhir, luas konsesi hutan terus mengalami penyusutan signifikan, dari lebih dari 60 juta hektare pada awal 1990-an menjadi kurang dari 19,3 juta hektare pada pertengahan 2010-an. Situasi ini menimbulkan risiko nyata terhadap kerusakan habitat serta ancaman terhadap keanekaragaman hayati yang masih tersisa.

Dengan ikut serta dalam pengelolaan berkelanjutan, perusahaan berkomitmen menekan laju deforestasi, mengurangi dampak perubahan iklim, serta menjalankan kegiatan usaha kehutanan yang tidak merusak kawasan alam. Hal ini menjadi penting di kawasan seperti Wehea-Kelay yang memiliki peran ekologis besar sebagai penyimpan karbon dan penyangga iklim setempat.


Kolaborasi Multi Pihak: Kunci Keberhasilan

Pengelolaan bentang alam Wehea-Kelay saat ini tidak hanya melibatkan pemerintah dan swasta, tetapi juga sektor akademisi, masyarakat adat, serta lembaga swadaya masyarakat seperti YKAN. Keberagaman pemangku kepentingan ini menunjukkan pentingnya kolaborasi multi pihak dalam menjaga dan memanfaatkan sumber daya alam secara bijak.

Model kolaboratif ini juga membuka ruang bagi akademisi dan lembaga riset untuk terlibat dalam kajian ilmiah mengenai biodiversitas, termasuk riset orangutan dan fungsi ekosistem, sehingga kebijakan pengelolaan dapat didukung oleh data ilmiah yang kuat.


Manfaat Bagi Komunitas Lokal

Pendekatan MUK tidak hanya soal pengelolaan sumber daya alam, tetapi juga terkait pemberdayaan komunitas setempat. Dengan melibatkan masyarakat adat dan desa dalam proses pengelolaan hutan, potensi ekonomi lokal dapat dikelola secara berkelanjutan. Hal ini mencakup peluang kerja, pengembangan ekowisata, pemanfaatan hasil hutan non-kayu yang ramah lingkungan, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia di desa-desa sekitar.

Meski langkah ini menjadi momentum penting, tantangan tetap ada. Pengelolaan hutan tropis berbasis lanskap membutuhkan sinergi kebijakan yang kuat antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, sektor swasta, dan masyarakat. Selain itu, pengawasan terhadap aktivitas ilegal seperti pembalakan liar, perambahan, maupun pertambangan di luar izin menjadi bagian dari tugas kolektif untuk mempertahankan fungsi ekosistem.

Namun para pihak optimis bahwa dengan komitmen bersama seperti ini, bentang alam Wehea-Kelay dapat menjadi contoh pengelolaan hutan tropis yang tidak hanya mempertahankan keanekaragaman hayati, tetapi juga memberi manfaat sosial dan ekonomi secara adil.


Simbol Pembelajaran Pengelolaan Hutan Berkelanjutan

Inisiatif ini menempatkan Kalimantan Timur sebagai salah satu provinsi yang pionir dalam penerapan pengelolaan hutan berbasis lanskap dan multi sektor di Indonesia. Model ini bisa menjadi referensi bagi wilayah lain yang memiliki lanskap hutan besar dan keanekaragaman hayati tinggi.

Dengan keterlibatan berbagai pihak dan komitmen jangka panjang, bentang alam Wehea-Kelay berpotensi menjadi simbol keberhasilan pelestarian lingkungan yang berpadu dengan pembangunan berkelanjutan — menjunjung tinggi keseimbangan antara pembangunan manusia dan kelestarian alam.

 

Also Read
Latest News
  • Enam Perusahaan Komitmen Kelola Bentang Alam Wehea-Kelay Secara Berkelanjutan: Momentum Baru Konservasi di Kaltim
  • Enam Perusahaan Komitmen Kelola Bentang Alam Wehea-Kelay Secara Berkelanjutan: Momentum Baru Konservasi di Kaltim
  • Enam Perusahaan Komitmen Kelola Bentang Alam Wehea-Kelay Secara Berkelanjutan: Momentum Baru Konservasi di Kaltim
  • Enam Perusahaan Komitmen Kelola Bentang Alam Wehea-Kelay Secara Berkelanjutan: Momentum Baru Konservasi di Kaltim
  • Enam Perusahaan Komitmen Kelola Bentang Alam Wehea-Kelay Secara Berkelanjutan: Momentum Baru Konservasi di Kaltim
  • Enam Perusahaan Komitmen Kelola Bentang Alam Wehea-Kelay Secara Berkelanjutan: Momentum Baru Konservasi di Kaltim
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad