Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Ratusan Hektare Lahan Terbakar di Kalbar, Kualitas Udara Memburuk dan Warga Meningkatkan Kewaspadaan

Ilustrasi AI

Kalbar, Indonesia — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi ancaman serius di Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) sepanjang Januari 2026. Data terbaru menunjukkan bahwa luas lahan yang terbakar mencapai ratusan hektare, tersebar di berbagai kabupaten/kota, dan berdampak langsung pada kondisi kualitas udara serta kesehatan masyarakat setempat.

Menurut laporan dari Pontianak Post, data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalbar hingga Minggu (25/1/2026) menunjukkan kebakaran masih aktif dan luas lahan yang terbakar di sejumlah daerah telah mencapai ratusan hektare — dengan mayoritas berasal dari kebun milik masyarakat.


Penyebaran Kebakaran di Berbagai Daerah

Sejumlah kabupaten di Kalbar mengalami kebakaran hutan dan lahan dengan tingkat kerusakan yang berbeda. Kabupaten Kubu Raya menjadi salah satu wilayah paling terdampak dengan sekitar 20 hektare lahan terbakar, serta 24 titik api aktif tersebar di berbagai kecamatan seperti Sungai Raya, Sungai Ambawang, Sungai Kakap, dan Kuala Mandor B.

Sementara Kabupaten Sambas melaporkan kebakaran sejak 16 Januari 2026 yang meluas di tujuh kecamatan dan 11 desa dengan total lahan terdampak mencapai sekitar 90,5 hektare. Selain itu, di Kabupaten Mempawah, kebakaran melanda Desa Pasir di Kecamatan Mempawah Hilir dengan sekitar 40 hektare lahan terbakar.

Di Kota Singkawang, titik api terpantau sejak 22 Januari 2026 di Kelurahan Pajintan, Kecamatan Singkawang Timur. Sementara kebakaran di Kabupaten Ketapang, Kayong Utara, dan Sintang juga dilaporkan meski dengan luasan lahan yang lebih kecil dan sebagian sudah berhasil dipadamkan.

Data lain yang lebih luas juga menunjukkan total karhutla yang terjadi sepanjang 2025 dan awal 2026 di Kalbar mencapai puluhan ribu hektare, dengan kabupaten Sambas, Ketapang, Mempawah, Sanggau, dan Kubu Raya menjadi wilayah terdampak terbesar. Data ini menggambarkan bahwa tren kebakaran di Kalbar tidak hanya terjadi sporadis melainkan menahun.


Faktor Pemicu dan Kondisi Lingkungan

Penyebab kebakaran yang menyebar di berbagai wilayah Kalbar dipengaruhi oleh beberapa kondisi alam dan manusia. Cuaca kering dan minimnya curah hujan, disertai suhu udara yang tinggi dan kelembaban rendah, menjadi kondisi yang mempermudah api cepat menyebar ke area luas. Hal ini diperkuat oleh imbauan Ketua DPRD Kalbar yang menyatakan bahwa anomali cuaca pada awal 2026 meningkatkan risiko karhutla, terlebih di wilayah lahan gambut seperti Kubu Raya dan kawasan sekitar Pontianak.

Selain itu, dugaan bahwa beberapa titik api di sejumlah lokasi merupakan hasil tindakan manusia juga turut menjadi sorotan. Petugas BPBD di beberapa daerah menemukan botol bensin bekas dan daun pisang kering yang diduga digunakan untuk membakar lahan, yang kemudian diserahkan kepada pihak kepolisian untuk ditindaklanjuti. Meski belum ada kepastian hukum, temuan ini menunjukkan kemungkinan unsur disengaja dalam beberapa kejadian karhutla.


Upaya Penanggulangan dan Pemadaman

Tim gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, serta relawan masyarakat terus melakukan upaya pemadaman di berbagai titik api. Meskipun beberapa lokasi telah mampu dikendalikan, sejumlah titik api masih aktif dan terus memproduksi asap yang berdampak buruk pada lingkungan dan kualitas udara.

Pemadaman tidak selalu berjalan mulus karena sejumlah tantangan di lapangan, termasuk keterbatasan sumber air di beberapa area serta medan yang sulit dijangkau, terutama di wilayah perkebunan dan lahan gambut yang memiliki struktur tanah rentan terbakar.


Dampak Kualitas Udara dan Kesehatan Masyarakat

Akibat kebakaran yang meluas ini, kondisi kualitas udara di sejumlah wilayah Kalbar — khususnya di Kubu Raya dan Pontianak — semakin memburuk. Indeks kualitas udara di beberapa daerah berada dalam kategori kuning atau tidak sehat, sehingga warga dianjurkan menggunakan masker dan membatasi aktivitas luar ruang demi kesehatan mereka, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.

Pemerintah daerah melalui BPBD Kalbar secara konsisten mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar dan segera melaporkan jika menemukan titik api agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan tidak meluas.


Respons dan Tindakan Aparat

Aparat keamanan juga menunjukan sikap tegas dalam penanggulangan karhutla. Di Kabupaten Kubu Raya, pihak kepolisian memasang garis polisi di lahan terbakar yang diperkirakan sekitar 8–9 hektare di Desa Punggur Kecil. Hal ini bertujuan untuk menjaga status quo tempat kejadian perkara dan mempermudah proses penyelidikan lebih lanjut terhadap penyebab kebakaran. Petugas menegaskan bahwa tindakan pembakaran lahan dengan sengaja akan diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.


Imbauan kepada Masyarakat

Seiring ancaman karhutla yang meningkat, BPBD Kalbar kembali mengingatkan pentingnya peran aktif masyarakat dalam mencegah kebakaran. Selain tidak membuka lahan dengan cara dibakar, masyarakat juga diminta untuk melaporkan titik panas atau api sekecil apapun agar tim pemadam dapat segera bertindak.

Dengan kondisi cuaca yang diprediksi tetap kering dan risiko karhutla yang masih sangat tinggi, kolaborasi antara pemerintah, aparat penegak hukum, dan masyarakat dipandang sebagai langkah penting dalam mencegah kebakaran lebih luas serta melindungi kualitas lingkungan dan kesehatan publik di Kalimantan Barat.


Also Read
Latest News
  • Ratusan Hektare Lahan Terbakar di Kalbar, Kualitas Udara Memburuk dan Warga Meningkatkan Kewaspadaan
  • Ratusan Hektare Lahan Terbakar di Kalbar, Kualitas Udara Memburuk dan Warga Meningkatkan Kewaspadaan
  • Ratusan Hektare Lahan Terbakar di Kalbar, Kualitas Udara Memburuk dan Warga Meningkatkan Kewaspadaan
  • Ratusan Hektare Lahan Terbakar di Kalbar, Kualitas Udara Memburuk dan Warga Meningkatkan Kewaspadaan
  • Ratusan Hektare Lahan Terbakar di Kalbar, Kualitas Udara Memburuk dan Warga Meningkatkan Kewaspadaan
  • Ratusan Hektare Lahan Terbakar di Kalbar, Kualitas Udara Memburuk dan Warga Meningkatkan Kewaspadaan
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad