![]() |
| Ilustrasi AI |
Bandara Nusantara IKN sedang menjadi sorotan utama dalam pembangunan Ibu Kota Negara baru Indonesia. Sebagai gerbang udara utama untuk wilayah yang akan menjadi pusat pemerintahan, bandara ini tengah mempersiapkan diri untuk operasional komersial penuh pada tahun 2026. Namun, di balik kemegahan terminal dan fasilitasnya, ada aspek teknis krusial yang sering terabaikan: kekuatan landasan pacu atau runway. Peralihan regulasi internasional dari Pavement Classification Number (PCN) ke Pavement Classification Rating (PCR) menjadi kunci dalam memastikan bandara ini siap menyambut pesawat berbadan lebar seperti Boeing 777 atau Airbus A350. Artikel ini akan membedah secara mendalam kesiapan Bandara Nusantara IKN, berdasarkan data resmi dan pernyataan dari pejabat terkait, untuk memberikan gambaran lengkap bagi pembaca yang mencari informasi akurat tentang perkembangan IKN.
Peralihan Standar Global: Dari PCN ke PCR
Dunia penerbangan sipil internasional terus berkembang, dan
salah satu perubahan signifikan datang dari International Civil Aviation
Organization (ICAO). Mulai November 2024, ICAO secara resmi menggantikan sistem
PCN dengan PCR, yang dianggap lebih presisi dalam menilai kekuatan perkerasan
landasan pacu. Perubahan ini bukan sekadar pergantian nama, melainkan upaya
untuk meningkatkan standar keselamatan global. Bandara Nusantara IKN telah
mengadopsi standar ini sejak lama, menunjukkan komitmen Indonesia dalam
mengikuti regulasi internasional.
Plt Kepala Bandara Internasional Nusantara, Imam Alwan,
menjelaskan pentingnya adaptasi ini. “Perlu dipahami bahwa sekarang regulasi
ICAO sudah berubah. Semula PCN, sekarang istilahnya menjadi PCR. Untuk Bandara
Internasional Nusantara sendiri, data kekuatan landasan telah kami rilis secara
resmi untuk memastikan transparansi dan standar keselamatan global,” ujarnya
dalam wawancara pada 9 Januari 2026. Pernyataan ini menegaskan bahwa bandara di
IKN tidak hanya siap secara fisik, tapi juga secara administratif untuk
menyambut penerbangan komersial.
Adopsi PCR memungkinkan bandara ini untuk menangani pesawat
dengan muatan berat tanpa risiko kerusakan struktural. Ini menjadi fondasi bagi
maskapai internasional untuk mempertimbangkan rute baru ke IKN, membuka
konektivitas global yang selama ini terpusat di pulau Jawa. Bagi para ahli
penerbangan, peralihan ini adalah langkah maju yang memastikan keberlanjutan
operasional jangka panjang.
Data Kekuatan Landasan: Angka yang Berbicara
Salah satu bukti kesiapan Bandara Nusantara IKN adalah data
PCR yang dirilis pada 12 Juni 2025, bersamaan dengan sertifikat bandara. Untuk
runway dan taxiway, nilai PCR tercatat 790 F/C/X/T. Sementara itu, apron—area
parkir pesawat—memiliki nilai lebih tinggi, yaitu 1180 R/C/X/T. Angka-angka ini
mungkin terdengar rumit bagi orang awam, tapi mari kita uraikan secara
sederhana.
Nilai 790 pada runway menandakan kapasitas beban tinggi,
cukup untuk pesawat sekelas Boeing 777 atau Airbus A350 dengan muatan penuh.
Kode F menunjukkan perkerasan fleksibel (seperti aspal), C untuk sub-grade
tanah dasar dengan kekuatan sedang, X untuk tekanan ban maksimum yang sangat
tinggi, dan T sebagai metode penilaian teknis. Di sisi lain, apron dengan nilai
1180 dan kode R menandakan perkerasan kaku berbahan beton, yang lebih tahan
lama untuk aktivitas bongkar muat.
Data ini bukan hanya formalitas. Ia menjadi jaminan bagi
pilot dan insinyur bahwa landasan pacu Bandara Nusantara IKN mampu menahan
tekanan operasional harian. Dengan kode bandara WALK, informasi ini telah
dipublikasikan secara transparan, memudahkan maskapai untuk merencanakan
penerbangan jarak jauh. Ini juga menjadikan bandara ini sebagai yang paling
siap di Kalimantan untuk rute long-range, sebuah prestasi mengingat lokasinya
di wilayah yang relatif baru dikembangkan.
Spesifikasi Teknis: Ultimate untuk Masa Depan
Bandara Nusantara IKN dirancang dengan spesifikasi ultimate,
khususnya di sisi udara. Runway memiliki dimensi 3.000 meter panjang dan 45
meter lebar, cukup untuk mengakomodasi pesawat terbesar seperti Airbus A380.
Kapasitas terminal mencapai 420 penumpang per jam, atau setara dengan 1,6 juta
penumpang per tahun. Sementara itu, bandara mampu menangani 19 pergerakan
pesawat per jam, angka yang impresif untuk sebuah bandara baru.
Meski sisi udara sudah ultimate, penyempurnaan terus
dilakukan di sisi darat. Ini termasuk hunian pegawai, lanskap, kantor
karantina, dan imigrasi, sejalan dengan target IKN menjadi kota politik pada
2028. Saat ini, bandara dikelola oleh Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU)
Kementerian Perhubungan, bukan oleh BUMN seperti Angkasa Pura. Statusnya masih
khusus, melayani charter flight, pesawat pemerintah, dan TNI AU. “Statusnya
masih khusus seraya menunggu peraturan perundang-undangan untuk berubah menjadi
komersial penuh pada tahun 2026,” kata Imam Alwan.
Perencanaan ini menunjukkan visi jangka panjang. Bandara
tidak hanya untuk transportasi harian, tapi juga untuk mendukung event besar
seperti pertemuan internasional di IKN. Dengan spesifikasi ini, potensi ekonomi
Kalimantan Timur akan terdongkrak, menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan
mobilitas regional.
Status Saat Ini dan Rencana Transisi
Hingga awal 2026, Bandara Nusantara IKN masih beroperasi
dalam mode khusus. Namun, transisi ke komersial penuh sudah di depan mata. Imam
Alwan optimis dengan kemajuan ini, meski ada tantangan seperti adaptasi
regulasi dan penyelesaian fasilitas pendukung. Tantangan utama adalah
memastikan semua elemen, dari keselamatan hingga logistik, selaras dengan
standar ICAO.
Salah satu peluang menarik adalah potensi bandara ini
menjadi embarkasi haji pada 2026. “Alhamdulillah, kita sudah siap fasilitas
sudah siap tinggal dukungan pemerintah. Kalau misalnya dipindahkan ke sini kita
sudah siap secara fasilitas, tapi itu kan kebijakan,” tambah Imam. Ini bisa
menjadi langkah strategis, mengingat jumlah jemaah haji dari Kalimantan yang
signifikan, dan akan mengurangi beban bandara lain seperti di Balikpapan.
Transisi ini juga mempertimbangkan konsep multiple airport
di Kalimantan Timur. Mirip dengan sistem di Jakarta (Halim Perdanakusuma dan
Soekarno-Hatta) atau Jawa Tengah (Adi Soemarmo, NYIA, dan Ahmad Yani), Bandara
Nusantara IKN diharapkan saling mendukung dengan bandara sekitar seperti SAMS
Sepinggan Balikpapan. Ini bukan kompetisi, melainkan kolaborasi untuk
pertumbuhan ekonomi. Bandara baru ini tidak akan langsung menggerus penumpang
bandara lain, tapi justru memperkaya opsi transportasi.
Kehadiran Bandara Nusantara IKN akan mengubah peta penerbangan di Indonesia Timur. Sebagai bandara paling siap untuk penerbangan jarak jauh di Kalimantan, ia membuka pintu untuk koneksi internasional langsung, seperti ke Singapura, Kuala Lumpur, atau bahkan Eropa. Ini selaras dengan visi IKN sebagai pusat pemerintahan yang modern dan terhubung.
Namun, ada tantangan yang perlu diatasi. Penyempurnaan sisi
darat memerlukan koordinasi lintas instansi, termasuk pemerintah daerah dan
pusat. Selain itu, adaptasi terhadap perubahan iklim dan keberlanjutan
lingkungan harus menjadi prioritas, mengingat lokasi IKN di tengah hutan
Borneo. Data PCR yang tinggi sudah menjadi modal kuat, tapi pemeliharaan rutin
akan menentukan umur panjang infrastruktur ini.
Secara keseluruhan, kesiapan Bandara Nusantara IKN untuk
penerbangan komersial di 2026 adalah bukti kemajuan Indonesia dalam
infrastruktur udara. Dengan standar global seperti PCR, spesifikasi ultimate,
dan rencana transisi yang matang, bandara ini siap menjadi ikon baru. Bagi
masyarakat, ini berarti akses lebih mudah ke IKN, mendorong investasi dan
pariwisata. Tetap pantau perkembangannya, karena IKN bukan hanya mimpi, tapi
realitas yang sedang dibangun.





.webp)

