![]() |
| Ilustrasi AI |
IKN – Momentum
investasi asing masuk ke Ibu Kota Nusantara (IKN) kembali menunjukkan
sinyal positif setelah Ayedh Dejem Group, sebuah perusahaan konstruksi
dan pengembangan properti asal Uni Emirat Arab (UEA), resmi
menandatangani kesepakatan untuk mengembangkan kawasan terpadu (mixed-use) di
kawasan inti pemerintahan ibu kota baru Indonesia. Kesepakatan ini ditegaskan
oleh Otorita IKN melalui pernyataan resmi pada Senin, 26 Januari 2026.
Perjanjian pengembangan ini mencakup alokasi lahan
strategis seluas 9,7 hektare di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP)
IKN 1A, yang berada di lokasi prestisius dan mudah dijangkau, tepat di
samping Plaza Bhinneka Tunggal Ika, salah satu ikon kawasan ibu kota baru.
Arahan Investasi dan Rencana Pengembangan
Menurut keterangan Deputi Bidang Pendanaan dan Investasi
Otorita IKN, Sudiro Roi Santoso, kesepakatan tersebut adalah hasil
negosiasi jangka panjang yang akhirnya mencapai tahap finalisasi alokasi lahan.
Ia menjelaskan bahwa proyek ini akan dimulai dengan tahapan perencanaan
rinci, kemudian dilanjutkan proses perizinan, dan pelelangan kontraktor.
Proses awal ini ditargetkan selesai dalam waktu satu setengah tahun ke depan,
sehingga pembangunan fisik bisa dimulai pertengahan tahun 2027.
Nilai investasi yang dibawa Ayedh Dejem Group diperkirakan
mencapai ± Rp4 triliun (sekitar USD ~260 juta), mencerminkan skala
proyek yang tidak kecil dan memberi dampak signifikan terhadap perekonomian
lokal dan nasional.
Fasilitas yang Akan Dibangun
Kawasan terpadu yang akan dikembangkan oleh Ayedh Dejem
Group dirancang sebagai integrasi area perkantoran, area komersial, pusat
perbelanjaan (shopping mall), serta fasilitas sosial seperti masjid.
Rencana ini menempatkan proyek sebagai salah satu titik sentral kehidupan
ekonomi, sosial, dan budaya di IKN.
Tidak hanya berfungsi sebagai area komersial, kompleks ini
juga diproyeksikan menjadi salah satu area penting dalam mendukung aktivitas
publik dan pemerintahan di ibu kota baru. Dengan desain mixed-use, kawasan
tersebut diharapkan bisa menjadi magnet baru bagi pelaku usaha lokal maupun
internasional, sekaligus meningkatkan nilai estetika dan utilitas kota secara
keseluruhan.
Reaksi dari Pihak Investor
Dalam keterangan yang dikutip media internasional, Chairman
Ayedh Dejem Group, Syeikh Ayedh Dejem, menyatakan keyakinan dan optimisme
terhadap prospek investasi di IKN. Ia melihat Indonesia sebagai salah satu
pasar yang sangat potensial, baik dari sisi populasi maupun pertumbuhan ekonomi
jangka panjang. Menurutnya, kedekatan geostrategis negara dan perkembangan
ekonomi domestik menjadikan IKN sebagai tujuan investasi yang menarik bagi
perusahaan-perusahaan global.
Syeikh Ayedh Dejem mengatakan bahwa keberhasilan proyek ini
bergantung pada komitmen kedua belah pihak — baik investor maupun pemerintah
Indonesia — untuk menyelesaikan seluruh tahapan secara profesional dan terukur.
Ia berharap kerja sama ini membuka pintu bagi peluang investasi serupa dari
pelaku usaha internasional lainnya di masa depan, terutama yang berasal dari
kawasan Timur Tengah dan Asia.
Dampak Ekonomi dan Pekerjaan
Masuknya investasi senilai triliunan rupiah dari Uni Emirat
Arab ke IKN diproyeksikan memberikan dampak ekonomi yang luas. Selain membuka lapangan
pekerjaan baru, proyek ini diperkirakan akan merangsang kegiatan usaha
lokal di berbagai sektor, seperti konstruksi, jasa, ritel, serta layanan
pendukung lainnya.
Ekonom dan pengamat pembangunan perkotaan menyebut bahwa
kehadiran kawasan mixed-use yang berkualitas di ibu kota negara akan memperkuat
struktur ekonomi lokal sekaligus memperkaya ekosistem investasi global di
Indonesia. Hal ini relevan dengan strategi Otorita IKN yang berupaya
menjadikan Nusantara sebagai kota modern ramah investasi dan berdaya saing
tinggi dalam peta global.
Lokasi dan Keunggulan Kawasan
Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN 1A dipilih bukan
tanpa alasan. Wilayah ini merupakan lokasi yang strategis karena berada di
titik pusat aktivitas pemerintahan, dekat dengan fasilitas umum dan
transportasi, serta didesain sebagai pusat bisnis dan pemerintahan sekaligus.
Letaknya yang berdekatan dengan Plaza Bhinneka Tunggal Ika akan memperkuat
konektivitas sosial dan ekonomi di kawasan tersebut.
Para perencana kota dan investor menilai bahwa lokasi ini
memiliki potensi tinggi menjadi ikon baru dalam peta pembangunan urban
global karena perpaduan fungsi pemerintahan, bisnis, budaya, dan
perdagangan. Hal ini tidak hanya mendukung pertumbuhan ekonomi lokal, tetapi
juga mampu menarik investasi asing dalam jumlah besar di masa depan.
Meskipun prospek investasi ini terlihat menjanjikan, para analis juga mengingatkan pentingnya pengelolaan proyek yang matang, termasuk aspek perizinan, kesiapan infrastruktur pendukung, dan kesinambungan kerja sama antara pemerintah dan investor. Tantangan lain seperti fluktuasi ekonomi global dan dinamika pasar konstruksi internasional juga perlu diperhitungkan agar proyek berjalan lancar sesuai target waktu dan kualitas yang diharapkan.
Lebih dari sekadar simbol investasi asing, masuknya Ayedh
Dejem Group ke IKN dapat dibaca sebagai indikator bahwa ibu kota baru Indonesia
menawarkan peluang besar yang mampu menarik investor global, terutama dari
kawasan Timur Tengah yang selama ini dikenal aktif dalam sektor properti dan
pembangunan infrastruktur internasional.







