![]() |
| Ilustrasi AI |
PONTIANAK – Pemerintah pusat serius menggeliatkan roda ekonomi Kalimantan Barat (Kalbar) melalui penguatan klaster komoditas unggulan. Menteri Koperasi dan UKM (UMKM), Maman Abdurrahman, menekankan pentingnya membangun klaster untuk kratom, ikan arwana, dan produk olahan nila sebagai motor penggerak pertumbuhan daerah. Langkah ini diambil di tengah pemulihan ekonomi pasca-pandemi COVID-19, dengan fokus pada penyelesaian hambatan pembiayaan dan teknologi bagi pelaku UMKM lokal.
Pertemuan koordinasi ini digelar di Pontianak pada akhir
pekan ini, melibatkan pejabat pusat, pemerintah provinsi, dan perwakilan Kadin.
Acara tersebut menjadi momentum untuk membahas strategi jangka pendek dan
panjang guna meningkatkan daya saing UMKM Kalbar. "Kita menggandeng Kadin
Kalbar untuk memetakan permasalahan dan mempercepat penyelesaian hambatan yang
dialami UMKM, terutama pada sektor-sektor unggulan yang berpotensi besar
menggerakkan ekonomi daerah," tegas Maman Abdurrahman, seperti dikutip
dari pernyataan resminya dalam pertemuan.
Komoditas unggulan seperti kratom, yang dikenal dengan nilai
ekspornya ke pasar internasional, ikan arwana sebagai primadona akuakultur, dan
olahan nila yang kaya akan inovasi pangan, dipilih karena efek penggandaannya
terhadap perekonomian masyarakat. Ketiga sektor ini tidak hanya menyerap tenaga
kerja lokal, tapi juga mendorong rantai pasok dari hulu ke hilir. Menurut data
Kementerian Koperasi dan UKM, sektor UMKM menyumbang lebih dari 60% terhadap
PDB nasional, dan Kalbar sebagai provinsi agraris berpotensi besar jika klaster
ini dikelola optimal. "Komoditas-komoditas unggulan ini terbukti punya
dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi Kalbar. Karena itu, kita petakan
kendala mereka, baik dari sisi pembiayaan hingga kebutuhan teknologi, untuk
segera kita bantu selesaikan," lanjut Maman.
Salah satu isu krusial yang dibahas adalah akses pembiayaan
melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). Maman menegaskan bahwa plafon KUR hingga
Rp100 juta harus bebas agunan, dengan jaminan ditanggung lembaga seperti
Jamkrindo, Askrindo, dan Jamkrinda daerah. Ia bahkan mengungkapkan rencana
inspeksi mendadak ke bank penyalur yang masih mempersulit proses dengan
menuntut jaminan. "Itu jelas dilarang. Kita tertibkan agar aturan ini
dijalankan," katanya tegas, sambil mengingatkan pelaku UMKM untuk tetap disiplin
dalam pembayaran agar program ini berkelanjutan. Langkah ini diharapkan membuka
lebar pintu bagi ribuan UMKM di Kalbar, yang selama ini terhambat birokrasi dan
kurangnya modal kerja.
Gubernur Kalbar, Ria Norsan, turut menyambut baik inisiatif
ini. Dalam sambutannya, ia mengakui peran vital UMKM dalam membangkitkan
ekonomi daerah pasca-pandemi. "Sejak COVID-19, perekonomian kita sempat
turun. Namun berkat UMKM, kondisi kembali normal bahkan membaik seperti
sekarang," ujar Ria. Ia menambahkan bahwa pemerintah provinsi berkomitmen
memperkuat pembinaan, menyediakan fasilitas usaha, dan membuka akses pemasaran
yang lebih luas. "Kami tentu berharap UMKM Kalbar dapat terus berkembang
dan memperkokoh posisinya sebagai motor penggerak perekonomian daerah,"
tambahnya, menekankan sinergi antara pusat dan daerah.
Pembentukan klaster komoditas unggulan ini sejalan dengan
program nasional pemerintah Jokowi-Prabowo yang menargetkan peningkatan
kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional hingga 20% pada 2026. Di Kalbar,
kratom misalnya, telah menjadi andalan ekspor ke Eropa dan Asia, dengan potensi
nilai tambah melalui pengolahan daun menjadi produk farmasi alami. Sementara
ikan arwana, yang habitat aslinya di sungai-sungai Kalbar, mendominasi pasar
akuarium global senilai miliaran rupiah. Produk olahan nila, dari abon hingga
keripik, semakin diminati karena inovasi rasa lokal yang sehat dan halal.
Namun, tantangan utama tetap pada rantai pasok yang terfragmentasi dan akses
teknologi pengolahan modern.
Kolaborasi dengan Kadin Kalbar akan dimulai dengan pemetaan
mendalam terhadap 500 UMKM potensial di wilayah Pontianak, Kubu Raya, dan
Sanggau. Tim gabungan akan mengidentifikasi kendala spesifik, seperti kurangnya
sertifikasi halal untuk ekspor arwana atau mesin pengering untuk olahan nila.
"Ini bukan sekadar bantuan, tapi ekosistem lengkap untuk UMKM naik
kelas," kata seorang perwakilan Kadin Kalbar yang hadir. Pemerintah
provinsi juga berjanji alokasikan anggaran daerah untuk inkubator bisnis di
ketiga klaster tersebut, termasuk pelatihan digital marketing agar produk lokal
bisa bersaing di e-commerce seperti Shopee dan Tokopedia.
Dari perspektif ekonomi makro, inisiatif ini mendukung visi
Kalbar sebagai lumbung pangan dan sumber daya alam nasional. Dengan luas lahan
pertanian mencapai 2,5 juta hektare, provinsi ini punya potensi produksi nila
hingga 100.000 ton per tahun, menurut data Dinas Perikanan Kalbar. Kratom,
meski kontroversial di beberapa negara, diakui secara legal di Indonesia
sebagai komoditas herbal dengan ekspor mencapai Rp500 miliar pada 2024.
Penguatan klaster diharapkan ciptakan efek multiplier, seperti lapangan kerja
baru bagi 10.000 petani dan nelayan, serta peningkatan pendapatan rumah tangga
hingga 30%.
Namun, keberhasilan ini tak lepas dari tantangan. Perubahan
iklim yang memengaruhi musim tanam nila dan regulasi ekspor arwana yang ketat
memerlukan adaptasi cepat. Maman menekankan pentingnya UMKM tetap bertanggung
jawab, terutama dalam pengelolaan KUR agar tidak jadi beban negara.
"Disiplin pembayaran adalah kunci agar bantuan ini bisa berlanjut ke
generasi berikutnya," pesannya.
Ke depan, rencana aksi mencakup peluncuran pilot project
klaster di Pontianak pada triwulan pertama 2026, diikuti ekspansi ke daerah
lain. Ini juga membuka peluang kemitraan dengan investor asing, seperti dari
Malaysia untuk teknologi budidaya arwana. Bagi masyarakat Kalbar, inisiatif ini
adalah angin segar, membuktikan bahwa UMKM bukan hanya bertahan, tapi bisa jadi
pilar kemakmuran daerah.
Secara keseluruhan, dorongan Menteri UMKM untuk klaster
komoditas unggulan di Kalbar menjanjikan transformasi ekonomi yang inklusif.
Dengan akses KUR yang lebih adil dan dukungan terintegrasi, kratom, arwana, dan
olahan nila bisa jadi cerita sukses baru dari tanah Borneo. Saat UMKM bangkit,
Kalbar pun ikut bersinar di peta ekonomi Indonesia.





.webp)

