
Datuk Phoong Jin Zhe. Foto: ydrogenapac.com
IKN-Di tengah hiruk-pikuk pembangunan yang tak henti di
Kalimantan Timur, sebuah kunjungan sederhana pada 28 November 2024 menjadi
titik pivotal bagi masa depan Borneo. Datuk Phoong Jin Zhe, Menteri Pembangunan
Industri dan Kewirausahaan Sabah, melangkah ke tanah Ibu Kota Nusantara (IKN)
sebagai menteri pertama dari Sabah yang diundang secara resmi oleh Konsulat
Jenderal Indonesia di Kota Kinabalu. Bersama rombongan pengusaha Sabah China
Chamber of Commerce (SCCC), ia menyaksikan penandatanganan Memorandum of
Understanding (MoU) antara SCCC dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin)
Kalimantan Timur. Bukan sekadar protokol diplomatik, momen ini menyiratkan visi
besar: Borneo, pulau ketiga terbesar di dunia, akan bangkit sebagai koridor
perdagangan utama Asia Tenggara Timur, dengan IKN sebagai jantungnya.
Dua hari kemudian, pada 30 November 2024, Phoong menyatakan
keyakinannya di Kota Kinabalu: "Pemindahan ibu kota Indonesia ke Nusantara
tidak hanya membawa kemajuan bagi Kalimantan Timur, tapi seluruh
Borneo—termasuk Sabah, Sarawak, dan Brunei." Kunjungan itu, yang mencakup
briefing mendalam tentang progres IKN, menyoroti potensi sinergi antarwilayah.
MoU tersebut fokus pada penguatan kerjasama bilateral, mulai dari perdagangan
hingga pengembangan properti, sejalan dengan undangan dari Konsulat Indonesia
yang dipimpin oleh Konsul Rafail. Datuk Frankie Liew, presiden SCCC, ikut
memimpin delegasi, menekankan bahwa "seeing is believing"—melihat
langsung pembangunan IKN meyakinkan pelaku usaha Sabah akan peluang nyata.
Mengapa momen ini begitu krusial? Borneo, yang dibagi oleh
tiga negara dengan populasi gabungan 24 juta jiwa, selama ini terfragmentasi
oleh batas administratif dan infrastruktur terbatas. IKN, dengan konsep smart
sustainable forest city, dirancang sebagai kota hijau inklusif yang menargetkan
30% lahan untuk hutan. Dampaknya berkelanjutan hingga 2025: proyek ini
diproyeksikan menarik investasi asing langsung (FDI) hingga US$32 miliar pada
tahap awal, menciptakan efek riak ke Sabah melalui kedekatan geografis—hanya
800 km dari Tawau. Visi Borneo Economic Community (BEC), yang diformalkan
melalui Borneo Business Roundtable, semakin terakselerasi, menjadikan pulau ini
sebagai green economic hub ASEAN.
Analisis mendalam mengungkap tiga implikasi strategis yang
saling terkait. Pertama, ledakan investasi lintas batas. MoU SCCC-Kadin
Kaltim membuka pintu bagi kolaborasi di sektor manufaktur dan logistik. Sabah,
dengan pelabuhan Tawau dan Sepanggar, bisa menjadi transshipment hub bagi
barang menuju IKN. Proyeksi: peningkatan perdagangan bilateral Sabah-Kalimantan
hingga 20% pada 2026, didorong oleh ekspor hasil pertanian Sabah seperti sawit
dan nanas ke pasar Nusantara. "Ini peluang emas bagi pengusaha Sabah untuk
berinvestasi di properti dan infrastruktur IKN," kata Phoong, yang juga
menyoroti dukungan federal Malaysia untuk proyek ini.
Kedua, infrastruktur konektivitas sebagai katalisator.
Salah satu highlight kunjungan adalah pembahasan pembangunan jalan raya
Serudong-Tawau hingga perbatasan Indonesia. Sabah sedang membangun ruas ini,
dengan alokasi RM600 juta untuk Kalabakan-Serudong, termasuk kompleks ICQS
(Immigration, Customs, Quarantine, Security). Jalur ini, bagian dari Pan-Borneo
Highway (AH150), akan menghubungkan Tawau ke Simanggaris di Kalimantan Utara,
mempersingkat waktu tempuh ke IKN menjadi empat jam darat. Pada Oktober 2025,
Anggaran Nasional Malaysia mengonfirmasi proyek Kalabakan-Simanggaris, yang
akan meningkatkan mobilitas barang dan orang. Bagi masyarakat perbatasan
seperti suku Murut dan Lundayeh, ini berarti akses lebih baik ke layanan
kesehatan dan pasar, sekaligus mendorong perdagangan kecil lintas batas.
Ketiga, gelombang pariwisata dan sinergi regional.
IKN, dengan target operasional penuh pada 2029, akan menarik jutaan wisatawan
berkat konsep kota hutan dan akses mudah ke Taman Nasional Kayan Mentarang.
Sabah bisa memanfaatkan ini melalui paket wisata terintegrasi: dari Kinabalu ke
hutan Borneo via Tawau-Serudong. Dampaknya meluas ke Sarawak dan
Brunei—integrasi melalui BIMP-EAGA (Brunei-Indonesia-Malaysia-Philippines East
ASEAN Growth Area) berpotensi tingkatkan kunjungan wisata 15% tahunan.
"Borneo bukan lagi pulau terpencil; ia akan jadi pusat gravitasi ASEAN
timur," tegas Phoong, merujuk pada potensi BEC yang mencakup Brunei,
Kalimantan, Labuan, Sabah, dan Sarawak.
Tantangan tetap ada, tentu. Koordinasi lintas negara sering
terhambat birokrasi, seperti penundaan ICQS Serudong yang kini hampir selesai
fase pertama. Isu lingkungan juga krusial: pembangunan jalan harus seimbang
dengan pelestarian hutan Borneo, paru-paru dunia. Selain itu, kesenjangan
digital di perbatasan perlu diatasi agar UMKM lokal tak tertinggal. Namun,
momentum positif mendominasi. Kunjungan Phoong menjadi blueprint: kolaborasi
seperti MoU ini bisa direplikasi, misalnya dengan Sarawak melalui Borneo
Economic Forum.
Pada 2025, saat IKN mulai berdenyut sebagai ibu kota masa
depan, Borneo tak lagi sekadar sumber daya alam. Ia berevolusi menjadi koridor
dinamis—tempat investasi mengalir, wisatawan berbondong, dan budaya Dayak
bersatu. Phoong menutup pernyataannya dengan optimisme: "Keberhasilan
Nusantara berarti keberhasilan Sabah, dan Borneo secara keseluruhan." Bagi
ASEAN, ini sinyal: masa depan timur ada di pulau hijau ini. Pertanyaannya kini:
seberapa cepat kita mewujudkannya?






