Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

BMKG Diminta Akses Data Sungai Hulu dari Malaysia: Solusi Mitigasi Banjir di Kaltara yang Sering Terhambat Kurangnya Koordinasi Lintas Batas

 

Ilustrasi AI

Jakarta – Banjir bandang yang melanda wilayah Krayan, Kalimantan Utara (Kaltara), akhir-akhir ini menjadi pukulan telak bagi masyarakat perbatasan. Jembatan Sungai Bude yang hanyut, anak-anak SMA Negeri 1 Krayan terpaksa meniti jembatan darurat sebagai satu-satunya akses antar-kecamatan, serta puluhan rumah terendam menjadi saksi betapa rentannya daerah ini terhadap bencana hidrologi. Di balik itu, ada akar masalah struktural: hulunya sungai-sungai pemicu banjir berada di wilayah Malaysia, tapi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kaltara tak punya akses data real-time dari sana.

Anggota Komisi V DPR RI, Danang Wicaksana, tak tinggal diam. Dalam rapat kerja Komisi V DPR bersama BMKG dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) pada Selasa (11/11/2025), Danang meminta BMKG segera perkuat sistem informasi dan koordinasi lintas negara. “Kemarin kami dari Kaltara, komisi ada kunjungan reses ke sana. Ternyata disampaikan di daerah mainland-nya Kaltara, itu di daerah Krayan, di sana itu kebanjiran karena sungai yang berhulu di daerah Malaysia,” ungkap Danang, menyoroti keterbatasan akses data cuaca dan hidrologi dari negara tetangga.

Banjir di Krayan, yang terjadi pada akhir Oktober 2025, merendam lebih dari 200 rumah dan mengganggu akses pendidikan serta ekonomi warga Dayak di perbatasan. Sungai Krayan, yang membelah wilayah Indonesia-Malaysia, sering membengkak akibat curah hujan ekstrem di hulu Sabah. Tanpa data dari stasiun hidrologi Malaysia, BMKG Kaltara hanya bisa mengandalkan prakiraan umum, bukan prediksi akurat. “Yang artinya rekan-rekan BMKG di Kaltara menyampaikan tidak bisa mengakses dari negara tetangga, karena hulunya ada di Malaysia waktu itu sungainya,” tegas Danang, menekankan risiko keterlambatan peringatan dini yang bisa menyelamatkan nyawa dan harta.

Menurut data BMKG, curah hujan di Kaltara mencapai 150 mm/hari saat banjir itu, tapi puncaknya dipicu limpahan dari Sungai Limbang dan Sungai Krayan di Sabah. Sementara itu, Jabatan Pengairan dan Saliran (JPS) Malaysia punya sistem Public Infobanjir yang memantau real-time lebih 200 stasiun hidrologi, termasuk aras air sungai di Sabah. Namun, akses lintas batas masih terbatas, meski kedua negara punya MoU kerjasama meteorologi sejak 2015.

Danang mengusulkan solusi konkret: BMKG harus segera menjalin komunikasi langsung dengan lembaga meteorologi Malaysia, seperti Malaysian Meteorological Department (MetMalaysia), melalui Kementerian Luar Negeri RI. “Mungkin nanti bisa BMKG melalui, entah itu Kementerian Luar Negeri atau apa, nanti bisa menyampaikan ke sana. Atau mungkin karena sama-sama badan klimatologi, bisa halo-halo ke badan sebelah untuk bisa sharing data,” katanya. Ia membayangkan platform berbagi data seperti yang sudah ada di ASEAN, di mana info banjir lintas batas bisa diakses via API aman.

Pentingnya akses data hulu tak terbantahkan. Dengan data aras air dari stasiun Malaysia, BMKG bisa ramal banjir 6-12 jam lebih awal, beri waktu evakuasi dan penguatan infrastruktur. Di Krayan, misalnya, jembatan darurat yang kini jadi satu-satunya akses bisa dipersiapkan lebih baik. “Karena bahasanya teman-teman BMKG Kaltara, data yang di negara Malaysia belum bisa diakses, sehingga belum bisa mitigasi untuk memberitahukan di sisi hilirnya yang masuk wilayah Indonesia,” pungkas Danang.

Usulan ini sejalan dengan rekomendasi DPR sebelumnya. Pada September 2025, Anggota DPR Jamaludin Malik mendorong integrasi data BMKG, BPBD, dan KLHK untuk peringatan dini banjir nasional. Di tingkat regional, ASEAN Agreement on Disaster Management and Emergency Response (AADMER) bisa jadi payung, di mana Indonesia dan Malaysia sudah kolaborasi soal tsunami dan kebakaran hutan. BMKG sendiri punya InAWARE (Indonesia Tsunami Early Warning System) yang bisa diekspansi ke banjir lintas batas.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, merespons positif di rapat itu. “Kami siap koordinasi dengan Kemlu dan mitra Malaysia. Data sharing ini krusial untuk perbatasan seperti Kaltara dan Kalbar,” katanya. Rencana aksi: workshop bilateral akhir 2025 di Tarakan, fokus integrasi data Public Infobanjir Malaysia dengan sistem INA-RISK BMKG.

Warga Kaltara punya cerita pilu. “Anak-anak sekolah telat berbulan-bulan gara-gara banjir. Kalau ada info dini dari hulu, kami bisa siap-siap,” ujar Oktafianus Ramli, guru SMA 1 Krayan, yang mendokumentasikan anak-anak meniti jembatan darurat. Ekonomi lokal, seperti pertanian padi dan perdagangan lintas batas, juga lumpuh. Banjir 2025 ini rugikan Rp50 miliar, menurut Pemkab Nunukan.

Di Malaysia, sistem mitigasi banjir sudah maju. Public Infobanjir sediakan ramalan 7 hari, amaran 2 hari, dan ketepatan aras air ±0.5m, berbasis data MetMalaysia. Jika terintegrasi, Kaltara bisa adopsi model AI seperti di Kelantan, yang analisis data hujan dan aliran sungai untuk prediksi banjir kilat.

Usulan Danang jadi momentum. Dengan 1.200 sungai lintas batas di Indonesia-Malaysia, kolaborasi ini tak hanya selamatkan Kaltara, tapi juga Kalbar dan Sulut. BMKG diminta tak tunggu banjir lagi: mulai sharing data sekarang, agar Krayan tak lagi jadi korban sungai tetangga.

Di tengah perubahan iklim yang bikin hujan ekstrem naik 20 persen per dekade, akses data hulu adalah kunci. Dari jembatan darurat ke sistem dini modern, Kaltara berharap BMKG dan Malaysia tak lagi bicara, tapi bertindak. Mitigasi banjir lintas batas: bukan mimpi, tapi keharusan untuk perbatasan damai dan aman.

 

Also Read
Latest News
  • BMKG Diminta Akses Data Sungai Hulu dari Malaysia: Solusi Mitigasi Banjir di Kaltara yang Sering Terhambat Kurangnya Koordinasi Lintas Batas
  • BMKG Diminta Akses Data Sungai Hulu dari Malaysia: Solusi Mitigasi Banjir di Kaltara yang Sering Terhambat Kurangnya Koordinasi Lintas Batas
  • BMKG Diminta Akses Data Sungai Hulu dari Malaysia: Solusi Mitigasi Banjir di Kaltara yang Sering Terhambat Kurangnya Koordinasi Lintas Batas
  • BMKG Diminta Akses Data Sungai Hulu dari Malaysia: Solusi Mitigasi Banjir di Kaltara yang Sering Terhambat Kurangnya Koordinasi Lintas Batas
  • BMKG Diminta Akses Data Sungai Hulu dari Malaysia: Solusi Mitigasi Banjir di Kaltara yang Sering Terhambat Kurangnya Koordinasi Lintas Batas
  • BMKG Diminta Akses Data Sungai Hulu dari Malaysia: Solusi Mitigasi Banjir di Kaltara yang Sering Terhambat Kurangnya Koordinasi Lintas Batas
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad