Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Penguatan Sistem Pengairan IKN: Solusi Cegah Krisis Air di Ibu Kota Baru

 

Ilustrasi AI

IKN - Peneliti dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laras Toersilawati, mendorong pemerintah untuk memperkuat infrastruktur pengairan di Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai langkah strategis mencegah potensi kelangkaan air. Usulan ini disampaikan dalam diskusi daring bertajuk Media Lounge Discussion di Jakarta, Kamis (2/10/2025), dengan menekankan pentingnya pendekatan berkelanjutan dalam pengelolaan sumber daya air.

Salah satu solusi yang diusulkan Laras adalah penerapan konsep Sponge City atau kota spons, yang berfokus pada pengelolaan air hujan secara alami. "Konsep ini memungkinkan air hujan diserap ke dalam tanah, disimpan, dan dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan masyarakat," jelasnya. Untuk mewujudkan hal ini, ia menyarankan pembangunan infrastruktur seperti bendungan, sistem perpipaan modern, dan embung sebagai penampung air. Langkah ini dianggap krusial mengingat IKN sedang dikembangkan sebagai pusat pemerintahan baru dengan kebutuhan air yang terus meningkat.

Selain infrastruktur, Laras juga mengusulkan pembangunan hutan kota dan program konservasi lahan melalui reboisasi. Upaya ini menjadi penting mengingat sebagian wilayah IKN sebelumnya merupakan lahan hutan industri eukaliptus yang kini dialihfungsikan menjadi kawasan terbangun. "Reboisasi dengan menanam pohon pengganti dapat membantu menjaga keseimbangan ekosistem dan mendukung siklus air," tambahnya. Tak kalah penting, ia menekankan perlunya edukasi masyarakat tentang penghematan air dan pencegahan pencemaran sumber air. "Sosialisasi ini harus menjadi bagian integral dari pembangunan IKN agar kesadaran kolektif terbentuk," ujar Laras.

Urgensi pengelolaan air di IKN didasarkan pada hasil kajian yang dilakukan Laras pada periode Januari-Desember 2022. Studi tersebut memanfaatkan citra satelit Sentinel-2A yang dianalisis melalui Google Earth Engine (GEE) untuk mengevaluasi ketersediaan air di wilayah IKN dan sekitarnya. Hasilnya menunjukkan bahwa proporsi air permukaan (High Water/HW) hanya sebesar 0,51 persen, air vegetasi (Vegetation Water/VW) 20,41 persen, dan non-air (Non-Water/NW) mendominasi dengan 79,08 persen. Data ini mengindikasikan keterbatasan sumber air alami di kawasan tersebut, yang dapat menjadi tantangan signifikan bagi pembangunan berkelanjutan.

Dalam analisisnya, Laras menggunakan tiga indeks spektral, yaitu Indeks Air Permukaan Tanah (LSWI), Indeks Perbedaan Vegetasi Ternormalisasi (NDVI), dan Indeks Perbedaan Air Ternormalisasi (NDWI). Ketiga indeks ini diintegrasikan ke dalam model Jaringan Saraf Tiruan (Artificial Neural Network/ANN), sebuah sistem pemrosesan informasi yang menyerupai cara kerja jaringan saraf biologis manusia. "Model ANN ini dirancang untuk mengenali pola dan menganalisis data dengan akurasi tinggi, bahkan tanpa memerlukan distribusi data yang normal seperti metode statistik konvensional," paparnya. Proses pengembangan model melibatkan penentuan arsitektur jaringan, penyusunan data sampel, pelatihan model, serta pengujian data untuk memastikan keandalan prediksi.

Laras memperingatkan bahwa ketidakcukupan ketersediaan air di IKN dapat memicu sejumlah dampak serius, baik dari sisi lingkungan maupun sosial. Perubahan iklim, misalnya, dapat mengurangi jumlah hari hujan dan curah hujan secara keseluruhan, yang berdampak pada pasokan air bersih. Selain itu, kualitas air juga berisiko menurun akibat peningkatan keasaman atau pencemaran oleh zat seperti besi. Dari sisi sosial, migrasi penduduk ke IKN diperkirakan akan meningkatkan permintaan air bersih secara signifikan. "Pendatang baru, baik pekerja maupun masyarakat umum, akan memperbesar kebutuhan air, sehingga sistem pengairan yang tangguh menjadi keharusan," ungkapnya.

Pembangunan IKN sendiri merupakan proyek ambisius yang tidak hanya bertujuan menciptakan pusat administrasi baru, tetapi juga kota pintar yang ramah lingkungan. Namun, tantangan seperti kelangkaan air dapat menghambat visi tersebut jika tidak ditangani secara proaktif. Konsep Sponge City yang diusulkan Laras telah terbukti berhasil di beberapa negara, seperti Tiongkok, di mana kota-kota dirancang untuk menyerap dan menyimpan air hujan guna mengurangi risiko banjir sekaligus memenuhi kebutuhan air. Pendekatan ini melibatkan penggunaan permukaan permeabel, waduk bawah tanah, dan sistem drainase cerdas yang terintegrasi dengan lingkungan.

Selain itu, pembangunan hutan kota di IKN dapat berperan ganda sebagai penyerap karbon dan pengatur siklus air. Pohon-pohon yang ditanam tidak hanya membantu menjaga kelembapan tanah, tetapi juga mengurangi efek panas perkotaan (urban heat island), yang sering menjadi masalah di kawasan terbangun. Laras menegaskan bahwa kombinasi infrastruktur modern dan konservasi alam adalah kunci untuk menjadikan IKN sebagai kota yang berkelanjutan.

Pemerintah, melalui Otorita IKN, telah menunjukkan komitmen untuk mendukung pembangunan berkelanjutan, termasuk dalam pengelolaan sumber daya air. Namun, Laras menekankan bahwa keberhasilan tidak hanya bergantung pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada keterlibatan masyarakat. "Edukasi tentang pentingnya menjaga sumber air harus dimulai sejak dini, baik untuk pekerja konstruksi, penduduk lokal, maupun pendatang baru," katanya.

Tantangan lain yang perlu diperhatikan adalah potensi dampak lingkungan dari pembangunan skala besar di IKN. Alih fungsi lahan dari hutan industri menjadi kawasan perkotaan dapat mengganggu keseimbangan ekosistem lokal, termasuk siklus air. Oleh karena itu, reboisasi dan konservasi lahan harus menjadi prioritas untuk meminimalkan dampak negatif. Selain itu, sistem pengairan yang cerdas juga dapat membantu mengurangi risiko banjir selama musim hujan, yang sering menjadi masalah di wilayah tropis seperti Kalimantan Timur.

Dengan memperhatikan rekomendasi ini, IKN memiliki peluang untuk menjadi model kota masa depan yang tidak hanya modern, tetapi juga tangguh terhadap tantangan lingkungan. Penguatan sistem pengairan, penerapan teknologi canggih seperti ANN untuk prediksi kebutuhan air, dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga sumber daya air akan menjadi fondasi penting bagi keberhasilan IKN. Laras berharap pemerintah segera mengimplementasikan langkah-langkah ini untuk memastikan IKN dapat memenuhi kebutuhan air bagi penduduknya, baik saat ini maupun di masa depan.

 

Also Read
Tag:
Latest News
  • Penguatan Sistem Pengairan IKN: Solusi Cegah Krisis Air di Ibu Kota Baru
  • Penguatan Sistem Pengairan IKN: Solusi Cegah Krisis Air di Ibu Kota Baru
  • Penguatan Sistem Pengairan IKN: Solusi Cegah Krisis Air di Ibu Kota Baru
  • Penguatan Sistem Pengairan IKN: Solusi Cegah Krisis Air di Ibu Kota Baru
  • Penguatan Sistem Pengairan IKN: Solusi Cegah Krisis Air di Ibu Kota Baru
  • Penguatan Sistem Pengairan IKN: Solusi Cegah Krisis Air di Ibu Kota Baru
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad