Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Menjaring Tutur: Pameran yang Menyulam Tradisi Lisan Kalimantan Barat ke Ruang Publik

 

PONTIANAK — Di tengah arus modernisasi dan digitalisasi yang kian deras, tradisi lisan sebagai warisan budaya tak benda sering kali terpinggirkan dari ruang publik. Menjawab tantangan tersebut, pameran bertajuk “Menjaring Tutur” hadir sebagai upaya kolektif untuk mengangkat kembali kekayaan narasi lisan masyarakat Kalimantan Barat. Diselenggarakan oleh komunitas budaya lokal dan didukung oleh sejumlah lembaga seni, pameran ini berlangsung di Pontianak sejak pertengahan September 2025 dan berhasil menarik perhatian lintas generasi.

“Menjaring Tutur” bukan sekadar pameran seni. Ia adalah ruang interaktif yang menggabungkan arsip suara, dokumentasi visual, artefak naratif, dan instalasi kontemporer untuk menyampaikan kembali cerita-cerita rakyat, mantra, pantun, dan kisah adat yang selama ini hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Kalbar. Kurator pameran, yang terdiri dari seniman, peneliti budaya, dan pegiat komunitas, merancang pengalaman pengunjung agar tidak hanya melihat, tetapi juga mendengar dan merasakan atmosfer tutur yang autentik.

Salah satu bagian paling menarik dari pameran ini adalah ruang audio yang merekam suara para tetua adat dari berbagai suku di Kalimantan Barat, seperti Dayak, Melayu, dan Tionghoa. Di ruang ini, pengunjung dapat mendengarkan kisah-kisah yang dituturkan dalam bahasa asli, lengkap dengan intonasi khas dan latar bunyi alam yang memperkuat suasana. Beberapa rekaman bahkan dilengkapi dengan terjemahan dan penjelasan kontekstual agar dapat diakses oleh generasi muda yang tidak lagi fasih berbahasa daerah.

“Tradisi lisan adalah fondasi identitas kita. Ia bukan hanya cerita, tetapi juga nilai, etika, dan cara pandang terhadap dunia,” ujar salah satu kurator, yang juga merupakan peneliti budaya Dayak. Menurutnya, pameran ini bertujuan untuk menjembatani generasi tua dan muda, serta mengajak masyarakat urban untuk kembali mengenali akar budaya mereka.

Selain ruang audio, pameran ini juga menampilkan instalasi visual berupa kain tenun yang disulam dengan kutipan-kutipan dari cerita rakyat. Kain-kain tersebut digantung di langit-langit ruangan, menciptakan suasana seperti berada di tengah hutan narasi. Di sudut lain, terdapat arsip digital yang memuat dokumentasi teks dan foto dari berbagai kegiatan pelestarian budaya lisan yang telah dilakukan oleh komunitas lokal selama satu dekade terakhir.

Pameran “Menjaring Tutur” juga menyajikan sesi pertunjukan langsung, di mana para pendongeng tradisional diundang untuk membawakan kisah-kisah mereka di hadapan pengunjung. Pertunjukan ini menjadi momen yang paling dinanti, karena menghadirkan interaksi langsung antara penutur dan pendengar, sesuatu yang menjadi inti dari tradisi lisan itu sendiri. Dalam beberapa sesi, anak-anak sekolah dasar diundang untuk ikut serta, baik sebagai pendengar maupun sebagai penutur pemula.

“Anak-anak adalah penjaga masa depan tradisi. Jika mereka tidak mengenal cerita-cerita ini, maka kita akan kehilangan lebih dari sekadar narasi — kita kehilangan jati diri,” kata seorang guru yang membawa murid-muridnya ke pameran.

Pameran ini juga menjadi ruang refleksi tentang bagaimana tradisi lisan dapat bertahan di era digital. Beberapa bagian dari pameran menampilkan proyek-proyek dokumentasi berbasis teknologi, seperti aplikasi cerita rakyat, kanal YouTube komunitas, dan podcast berbahasa daerah. Inisiatif-inisiatif ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus bertentangan dengan kemajuan teknologi, melainkan dapat saling menguatkan.

Dalam diskusi publik yang digelar sebagai bagian dari rangkaian acara, sejumlah akademisi dan pegiat budaya membahas tantangan pelestarian tradisi lisan di tengah perubahan sosial. Mereka menyoroti minimnya dukungan kebijakan, kurangnya dokumentasi formal, dan rendahnya minat generasi muda terhadap narasi lokal. Namun, mereka juga menyampaikan optimisme bahwa gerakan akar rumput seperti “Menjaring Tutur” dapat menjadi katalis perubahan.

“Pameran ini bukan hanya soal nostalgia. Ini adalah strategi budaya. Kita sedang membangun ekosistem baru di mana tradisi lisan bisa hidup berdampingan dengan budaya digital,” ujar seorang antropolog dari Universitas Tanjungpura.

Pemerintah daerah turut memberikan dukungan terhadap pameran ini, dengan harapan agar kegiatan serupa dapat diperluas ke kabupaten dan desa-desa. Kepala Dinas Kebudayaan Kalimantan Barat menyatakan bahwa pihaknya tengah merancang program kolaboratif antara sekolah, komunitas adat, dan lembaga seni untuk mendokumentasikan dan mengajarkan tradisi lisan secara sistematis.

“Kami ingin menjadikan tradisi lisan sebagai bagian dari kurikulum lokal. Anak-anak harus tahu cerita dari tanah mereka sendiri sebelum mengenal dongeng dari luar,” katanya.

Antusiasme masyarakat terhadap pameran ini terlihat dari jumlah pengunjung yang terus meningkat setiap harinya. Banyak pengunjung yang datang lebih dari sekali, membawa keluarga, atau mengajak teman untuk ikut merasakan pengalaman budaya yang jarang ditemukan di ruang publik modern. Beberapa pengunjung bahkan menyumbangkan cerita keluarga mereka untuk didokumentasikan oleh tim kurator.

“Ini pertama kalinya saya mendengar cerita nenek saya diputar di ruang pameran. Rasanya haru dan bangga,” ujar seorang pengunjung yang berasal dari Kabupaten Kapuas Hulu.

Pameran “Menjaring Tutur” dijadwalkan berlangsung selama satu bulan, dengan kemungkinan diperpanjang atau dibawa ke daerah lain di Kalimantan Barat. Tim penyelenggara berharap agar momentum ini dapat menjadi titik tolak bagi gerakan pelestarian tradisi lisan yang lebih luas dan berkelanjutan.

Dengan pendekatan kuratorial yang inklusif dan interaktif, “Menjaring Tutur” membuktikan bahwa tradisi lisan bukanlah artefak masa lalu, melainkan kekayaan hidup yang terus berkembang. Di tengah hiruk-pikuk modernitas, suara-suara dari masa silam kembali bergema — tidak untuk dikenang semata, tetapi untuk dijadikan pijakan masa depan.

 

Also Read
Tag:
Latest News
  • Menjaring Tutur: Pameran yang Menyulam Tradisi Lisan Kalimantan Barat ke Ruang Publik
  • Menjaring Tutur: Pameran yang Menyulam Tradisi Lisan Kalimantan Barat ke Ruang Publik
  • Menjaring Tutur: Pameran yang Menyulam Tradisi Lisan Kalimantan Barat ke Ruang Publik
  • Menjaring Tutur: Pameran yang Menyulam Tradisi Lisan Kalimantan Barat ke Ruang Publik
  • Menjaring Tutur: Pameran yang Menyulam Tradisi Lisan Kalimantan Barat ke Ruang Publik
  • Menjaring Tutur: Pameran yang Menyulam Tradisi Lisan Kalimantan Barat ke Ruang Publik
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad