Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Mendorong Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kaltim: Infrastruktur Jalan dan Solusi Blank Spot Jadi Fokus

 

Ilustrasi AI

Dinas Pariwisata (Dispar) Kalimantan Timur (Kaltim) tengah menggencarkan strategi untuk memperkuat sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (ekraf) sebagai salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi daerah. Langkah ini menjadi semakin krusial menjelang beroperasinya Ibu Kota Nusantara (IKN) pada 2028, yang diprediksi akan meningkatkan arus migrasi dan kebutuhan akan layanan pariwisata. Dalam upaya ini, Dispar Kaltim fokus pada dua aspek utama: perbaikan infrastruktur jalan menuju destinasi wisata dan penanganan masalah blank spot internet di wilayah-wilayah strategis. Dengan pendekatan ini, Kaltim tidak hanya berupaya menarik wisatawan, tetapi juga memastikan bahwa sektor ekraf dapat berkembang secara berkelanjutan, memberikan manfaat ekonomi yang signifikan bagi masyarakat lokal.

Kepala Dispar Kaltim, Ririn Sari Dewi, menegaskan bahwa sektor ekraf memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak ekonomi daerah. Bidang-bidang seperti kuliner, wastra (kain tradisional), game, aplikasi digital, dan musik dianggap sebagai sektor unggulan yang dapat meningkatkan daya tarik pariwisata Kaltim. "Ekonomi kreatif memiliki peran penting dalam mendukung pariwisata. Kuliner lokal, kerajinan tradisional, hingga inovasi teknologi seperti aplikasi dan game dapat menjadi daya tarik baru yang memperkaya pengalaman wisatawan," ujar Ririn dalam wawancara pada Kamis, 26 September 2025. Ia menambahkan bahwa sektor ini tidak hanya berpotensi meningkatkan pendapatan daerah, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru, terutama bagi generasi muda yang memiliki kreativitas tinggi.

Selain ekraf, agenda Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) juga menjadi fokus Dispar Kaltim. Dengan status Kaltim sebagai penyangga IKN, provinsi ini memiliki peluang besar untuk menjadi tuan rumah berbagai acara berskala nasional dan internasional. "Kami terbuka untuk investasi dan siap menyelenggarakan berbagai event, baik dari pemerintah, swasta, maupun organisasi nonpemerintah. Kondisi Kaltim yang aman dan posisinya sebagai penyangga IKN menjadi keunggulan kompetitif," jelas Ririn. Ia memperkirakan bahwa acara MICE dapat meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan secara signifikan, sekaligus mendorong pertumbuhan sektor jasa seperti perhotelan, transportasi, dan kuliner.

Namun, untuk mewujudkan potensi tersebut, Kaltim masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam hal infrastruktur. Salah satu kendala utama adalah akses jalan menuju destinasi wisata yang belum sepenuhnya memadai. Ririn mengakui bahwa beberapa wilayah, seperti Kutai Barat dan Mahakam Ulu, masih membutuhkan perbaikan infrastruktur jalan agar lebih mudah diakses oleh wisatawan. "Kami terus berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, untuk memprioritaskan perbaikan akses jalan. Musrenbang menjadi wadah untuk menentukan mana yang menjadi prioritas, baik yang didanai APBN maupun APBD," ungkapnya. Ia menekankan bahwa perbaikan infrastruktur ini tidak hanya akan memudahkan akses wisatawan, tetapi juga mendukung distribusi barang dan jasa, yang pada akhirnya memperkuat ekonomi lokal.

Selain perbaikan jalan, Dispar Kaltim juga menyoroti potensi pengembangan jalur tol Samarinda-Bontang sebagai bagian dari upaya meningkatkan konektivitas. Jalur ini diharapkan dapat mempersingkat waktu tempuh dan meningkatkan aksesibilitas ke destinasi wisata di wilayah pesisir Kaltim. Lebih lanjut, Ririn mengungkapkan bahwa pihaknya tengah menjajaki kerja sama dengan maskapai penerbangan internasional, seperti Brunei Airlines, untuk membuka rute baru ke Tanjung Redeb, Berau. "Berau memiliki destinasi unggulan seperti Derawan dan Maratua. Dengan membuka rute penerbangan langsung, kita bisa menarik lebih banyak wisatawan, termasuk dari pasar internasional," katanya. Langkah ini menunjukkan visi jangka panjang Dispar untuk menjadikan Kaltim sebagai destinasi wisata global.

Tantangan lain yang tidak kalah penting adalah masalah blank spot internet di sejumlah destinasi wisata. Ketersediaan akses internet menjadi krusial di era digital, terutama untuk mendukung promosi wisata melalui media sosial dan platform online. Ririn menyoroti bahwa wilayah seperti Kutai Barat dan Mahakam Ulu masih memiliki banyak area tanpa sinyal internet, yang menghambat upaya promosi digital dan pengalaman wisatawan. Untuk mengatasi masalah ini, Dispar Kaltim telah berkoordinasi dengan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) untuk memperluas program internet gratis. "Di Bontang, misalnya, blank spot sudah berkurang karena adanya program internet gratis. Kami berharap model ini bisa diterapkan di wilayah lain," ujar Ririn. Ia menambahkan bahwa akses internet yang memadai tidak hanya mendukung wisatawan, tetapi juga memungkinkan pelaku ekraf untuk memasarkan produk mereka secara lebih luas.

Dalam menghadapi migrasi penduduk yang diperkirakan akan meningkat menjelang beroperasinya IKN, Dispar Kaltim juga berfokus pada pengembangan kapasitas sumber daya manusia (SDM). Pelatihan dan pemberdayaan pelaku ekraf, seperti pengrajin, pelaku kuliner, dan pengembang aplikasi, menjadi bagian dari strategi untuk memastikan bahwa sektor ini siap menghadapi permintaan yang semakin besar. "Kami ingin memastikan bahwa masyarakat lokal, terutama generasi muda, memiliki keterampilan yang relevan untuk bersaing di pasar yang semakin kompetitif," kata Ririn. Program ini juga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada sektor ekstraktif seperti pertambangan dan mendorong diversifikasi ekonomi.

Keberhasilan strategi ini tidak lepas dari kolaborasi lintas sektoral. Dispar Kaltim terus bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah kabupaten/kota, pelaku usaha, dan komunitas lokal, untuk menciptakan ekosistem pariwisata yang inklusif. Selain itu, transparansi dalam perencanaan dan pelaksanaan program menjadi kunci untuk mendapatkan dukungan masyarakat. Dengan mengedepankan komunikasi yang terbuka, Dispar berupaya memastikan bahwa setiap langkah yang diambil selaras dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat Kaltim.

Ke depan, Dispar Kaltim juga berencana untuk memperkuat promosi destinasi wisata melalui platform digital dan kerja sama dengan influencer serta media internasional. Dengan memanfaatkan potensi media sosial, Kaltim dapat menjangkau audiens yang lebih luas, termasuk wisatawan dari luar negeri. Selain itu, pengembangan destinasi wisata berbasis sejarah dan alam, seperti yang dilakukan di Muara Kaman, juga menjadi bagian dari strategi untuk memperkaya portofolio pariwisata Kaltim.

Pada akhirnya, upaya Dispar Kaltim untuk memperkuat pariwisata dan ekraf menunjukkan komitmen untuk menjadikan provinsi ini sebagai destinasi wisata yang kompetitif dan berkelanjutan. Dengan fokus pada perbaikan infrastruktur, penanganan blank spot, dan pengembangan SDM, Kaltim tidak hanya mempersiapkan diri untuk menyambut IKN, tetapi juga untuk menjadi pusat pariwisata dan ekraf yang mampu bersaing di kancah global. Langkah-langkah ini, jika dijalankan dengan konsisten, berpotensi menjadikan Kaltim sebagai model sukses pengembangan pariwisata berbasis potensi lokal dan inovasi modern.

 

Also Read
Latest News
  • Mendorong Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kaltim: Infrastruktur Jalan dan Solusi Blank Spot Jadi Fokus
  • Mendorong Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kaltim: Infrastruktur Jalan dan Solusi Blank Spot Jadi Fokus
  • Mendorong Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kaltim: Infrastruktur Jalan dan Solusi Blank Spot Jadi Fokus
  • Mendorong Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kaltim: Infrastruktur Jalan dan Solusi Blank Spot Jadi Fokus
  • Mendorong Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kaltim: Infrastruktur Jalan dan Solusi Blank Spot Jadi Fokus
  • Mendorong Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kaltim: Infrastruktur Jalan dan Solusi Blank Spot Jadi Fokus
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad