Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Cegah Makanan Basi dalam Program MBG, Gubernur Kalbar Usulkan Dapur Sekolah sebagai Solusi Permanen

 

PONTIANAK — Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat terus berupaya menyempurnakan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah pusat. Di tengah antusiasme pelaksanaan program ini, muncul sejumlah kendala teknis yang mengganggu efektivitasnya, terutama terkait kualitas makanan yang disajikan kepada siswa. Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, secara terbuka mengusulkan pendirian dapur sekolah sebagai solusi jangka panjang untuk memastikan makanan MBG tetap segar, bergizi, dan layak konsumsi.

Usulan tersebut disampaikan menyusul laporan dari berbagai daerah di Kalbar mengenai makanan MBG yang basi atau tidak sesuai standar gizi. Dalam beberapa kasus, makanan yang dikirim dari dapur penyedia ke sekolah mengalami keterlambatan distribusi, sehingga tidak lagi layak dikonsumsi saat tiba di tangan siswa. Kondisi ini memicu kekhawatiran orang tua dan tenaga pendidik, serta menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas program MBG di lapangan.

Gubernur Norsan mengaku telah menerima banyak keluhan dari masyarakat dan langsung melakukan inspeksi ke sejumlah dapur penyedia MBG. Ia menyatakan bahwa dirinya tidak segan untuk menegur pihak penyedia jika ditemukan ketidaksesuaian dalam proses persiapan makanan.

“Saya sudah turun langsung ke lapangan. Saya datang ke dapur-dapur penyedia MBG, saya lihat sendiri bagaimana prosesnya. Kalau ada yang tidak sesuai, saya tegur. Ini bukan main-main, karena menyangkut kesehatan anak-anak kita,” ujar Norsan dalam pernyataan resminya.

Salah satu masalah utama yang diidentifikasi adalah keterbatasan anggaran yang diterima oleh pihak dapur untuk menyiapkan makanan. Dari total anggaran Rp15 ribu per porsi yang dialokasikan pemerintah pusat, hanya sekitar Rp8 ribu yang benar-benar digunakan untuk memasak. Sisanya digunakan untuk biaya distribusi, sewa dapur, dan operasional lainnya. Menurut Norsan, angka tersebut tidak cukup untuk menghasilkan makanan bergizi sesuai standar yang ditetapkan oleh ahli gizi.

“Kalau hanya Rp8 ribu yang sampai ke dapur, bagaimana bisa menghasilkan makanan yang benar-benar bergizi? Ini harus kita evaluasi,” tegasnya.

Ia juga menyoroti biaya sewa dapur yang dibebankan sebesar Rp2 ribu per porsi. Menurutnya, pengeluaran tersebut bisa ditekan jika sekolah memiliki dapur sendiri. Dengan dapur yang berada di lingkungan sekolah, proses memasak bisa dilakukan lebih efisien, distribusi makanan lebih cepat, dan kualitas makanan lebih terjaga.

“Kalau dapur berada di sekolah, anak-anak tidak perlu menunggu lama. Makanan bisa langsung disajikan setelah dimasak. Ini akan mengurangi risiko makanan basi dan meningkatkan efisiensi,” jelas Norsan.

Usulan pendirian dapur sekolah mendapat respons positif dari berbagai kalangan, termasuk dinas pendidikan, tenaga kesehatan, dan masyarakat. Banyak pihak menilai bahwa dapur sekolah bukan hanya solusi teknis, tetapi juga bentuk pemberdayaan institusi pendidikan dalam menjaga kesehatan siswa. Selain itu, dapur sekolah bisa menjadi sarana edukasi tentang gizi, kebersihan, dan pola makan sehat.

Namun, tantangan lain yang dihadapi adalah keterbatasan tenaga ahli gizi di Kalimantan Barat. Gubernur Norsan mengakui bahwa belum semua daerah memiliki pendamping gizi yang dapat memastikan bahwa menu MBG sesuai dengan kebutuhan nutrisi anak-anak. Ia berharap agar pemerintah pusat segera mengirimkan tenaga ahli gizi ke daerah-daerah yang belum memiliki pendamping.

“Ahli gizi sangat penting dalam program ini. Mereka yang tahu bagaimana menyusun menu yang seimbang dan sesuai kebutuhan anak-anak. Tanpa mereka, kita hanya menebak-nebak,” ujarnya.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat berkomitmen untuk terus memperbaiki pelaksanaan MBG. Evaluasi menyeluruh terhadap sistem distribusi, kualitas makanan, dan efektivitas anggaran akan dilakukan secara berkala. Norsan juga mendorong agar pemerintah pusat memberikan fleksibilitas kepada daerah dalam mengelola anggaran MBG, termasuk kemungkinan pengalihan dana langsung ke sekolah.

“Kalau sekolah diberi kewenangan dan anggaran, mereka bisa lebih cepat dan efisien. Kita bisa pastikan makanan yang disajikan benar-benar bergizi dan layak konsumsi,” katanya.

Di sisi lain, masyarakat dan orang tua siswa menyambut baik usulan pendirian dapur sekolah. Mereka berharap agar program MBG tidak hanya menjadi formalitas, tetapi benar-benar memberikan manfaat nyata bagi anak-anak. Beberapa orang tua mengaku khawatir dengan kualitas makanan yang diterima anak-anak mereka, terutama setelah mendengar laporan tentang makanan basi.

“Kalau bisa masak di sekolah, kami lebih tenang. Guru bisa ikut mengawasi, dan anak-anak bisa makan tepat waktu,” ujar salah satu wali murid di Pontianak.

Pakar pendidikan dan gizi juga menilai bahwa dapur sekolah dapat menjadi sarana edukasi yang efektif. Selain menyediakan makanan sehat, dapur sekolah bisa digunakan untuk mengajarkan siswa tentang pentingnya gizi, kebersihan, dan pola makan sehat. Dengan demikian, program MBG tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga mendidik.

Langkah Gubernur Kalbar ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga kualitas layanan publik, khususnya di sektor pendidikan dan kesehatan. Di tengah tantangan pelaksanaan program nasional, pendekatan berbasis lokal seperti dapur sekolah dinilai lebih adaptif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Ke depan, Pemprov Kalbar berencana untuk mengajukan proposal resmi kepada pemerintah pusat terkait pendirian dapur sekolah sebagai bagian dari reformasi pelaksanaan MBG. Jika disetujui, Kalimantan Barat bisa menjadi provinsi percontohan dalam pengelolaan MBG yang lebih efisien, transparan, dan berdampak langsung bagi peserta didik.

Dengan berbagai langkah perbaikan yang diusulkan, diharapkan program Makan Bergizi Gratis benar-benar menjadi instrumen peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan anak-anak Indonesia, bukan sekadar angka dalam laporan anggaran. Pemerintah daerah, sekolah, dan masyarakat harus bersinergi untuk memastikan bahwa setiap anak mendapatkan haknya atas makanan sehat dan pendidikan yang bermutu.

 

Also Read
Tag:
Latest News
  • Cegah Makanan Basi dalam Program MBG, Gubernur Kalbar Usulkan Dapur Sekolah sebagai Solusi Permanen
  • Cegah Makanan Basi dalam Program MBG, Gubernur Kalbar Usulkan Dapur Sekolah sebagai Solusi Permanen
  • Cegah Makanan Basi dalam Program MBG, Gubernur Kalbar Usulkan Dapur Sekolah sebagai Solusi Permanen
  • Cegah Makanan Basi dalam Program MBG, Gubernur Kalbar Usulkan Dapur Sekolah sebagai Solusi Permanen
  • Cegah Makanan Basi dalam Program MBG, Gubernur Kalbar Usulkan Dapur Sekolah sebagai Solusi Permanen
  • Cegah Makanan Basi dalam Program MBG, Gubernur Kalbar Usulkan Dapur Sekolah sebagai Solusi Permanen
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad