Samarinda — Kalimantan Timur kembali menegaskan posisinya
sebagai salah satu lumbung ekspor perikanan nasional. Hingga Juli 2025, sektor
kelautan dan perikanan provinsi ini mencatatkan nilai ekspor sebesar Rp256
miliar. Dari angka tersebut, udang windu tampil sebagai komoditas unggulan,
menyumbang Rp164,4 miliar atau sekitar 64 persen dari total ekspor perikanan
daerah.
Dominasi udang windu bukanlah fenomena baru. Komoditas
bernilai tinggi ini telah lama menjadi primadona ekspor Kaltim, berkat
kualitasnya yang memenuhi standar internasional dan nilai jualnya yang
kompetitif di pasar global. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kaltim,
Irhan Hukmaidy, menyatakan bahwa orientasi sektor perikanan saat ini diarahkan
pada pangsa ekspor, dengan udang windu sebagai penyumbang terbesar. “Kualitas
dan nilai jual udang windu berbasis standar dolar Amerika Serikat, menjadikannya
komoditas strategis dalam mendongkrak devisa daerah,” ujarnya.
Jika menilik data tahun sebelumnya, pada 2024 total ekspor
produk perikanan Kaltim mencapai Rp423 miliar dengan volume 2.785 ton. Dari
jumlah tersebut, udang windu berkontribusi sebesar Rp267,1 miliar atau lebih
dari 63 persen. Konsistensi kontribusi ini menunjukkan bahwa udang windu bukan
hanya komoditas musiman, melainkan tulang punggung ekspor perikanan Kaltim yang
stabil dan berkelanjutan.
Selain udang windu, terdapat empat komoditas utama lain yang
turut memperkuat ekspor perikanan Kaltim. Udang pink menyumbang Rp49,3 miliar,
udang putih Rp13,7 miliar, ikan bawal putih segar Rp10,6 miliar, dan ikan
kerapu segar Rp7,9 miliar. Meski kontribusinya lebih kecil dibandingkan udang
windu, keberadaan komoditas ini menunjukkan diversifikasi produk yang penting
dalam menjaga daya saing sektor perikanan Kaltim di pasar internasional.
Irhan menegaskan bahwa sektor perikanan Kaltim siap menjadi
garda terdepan dalam penyediaan protein hewani, baik untuk kebutuhan lokal
maupun ekspor. “Potensi perikanan Indonesia sangat besar, baik melalui
perikanan tangkap maupun budidaya. Indonesia memiliki kurang lebih 7.800 jenis
ikan. Selain itu, rumput laut juga berpotensi besar sebagai sumber pangan masa
depan,” jelasnya.
DKP Kaltim juga tengah menjajaki peluang ekspor produk baru,
seperti kerang dara atau todai, yang cukup populer di kalangan masyarakat
lokal. Komoditas lain seperti kepiting bakau, lobster, siput laut, hingga belut
juga mulai dilirik sebagai bagian dari strategi diversifikasi ekspor. Langkah
ini menunjukkan bahwa Kaltim tidak hanya bergantung pada satu komoditas, tetapi
terus mengembangkan portofolio produk perikanan yang beragam dan bernilai
tinggi.
Pasar ekspor produk perikanan Kaltim pun semakin meluas.
Hingga kini, ekspor telah menembus berbagai negara di Asia, Amerika, dan Eropa.
Beberapa di antaranya adalah Vietnam, Amerika Serikat, Inggris, Korea Selatan,
Jepang, Tiongkok, Hong Kong, Filipina, Malaysia, Taiwan, dan Singapura.
Penetrasi pasar yang luas ini menjadi bukti bahwa produk perikanan Kaltim
memiliki daya saing tinggi dan mampu memenuhi standar kualitas internasional.
Namun, di balik pencapaian ini, terdapat tantangan yang
harus dihadapi. Salah satunya adalah menjaga kualitas produk secara konsisten,
terutama dalam proses pascapanen dan pengemasan. Pemerintah daerah bersama
pelaku usaha perikanan terus berupaya meningkatkan kapasitas produksi,
memperkuat sistem logistik, dan memperluas akses pasar. Dukungan terhadap
pelatihan teknis, sertifikasi mutu, dan penguatan kelembagaan nelayan menjadi
bagian dari strategi jangka panjang.
Selain itu, keberlanjutan lingkungan juga menjadi perhatian
penting. Eksploitasi sumber daya laut harus dilakukan secara bijak agar tidak
merusak ekosistem. Oleh karena itu, DKP Kaltim mendorong praktik perikanan yang
berkelanjutan, termasuk budidaya ramah lingkungan dan pengawasan ketat terhadap
aktivitas penangkapan. Dengan menjaga keseimbangan antara produksi dan
konservasi, sektor perikanan Kaltim dapat terus tumbuh tanpa mengorbankan masa
depan sumber daya laut.
Dalam konteks ekonomi daerah, kontribusi sektor perikanan
terhadap pendapatan asli daerah (PAD) semakin signifikan. Selain menjadi sumber
devisa, sektor ini juga membuka lapangan kerja bagi ribuan masyarakat pesisir.
Dari nelayan, pembudidaya, pengolah, hingga eksportir, seluruh rantai nilai
perikanan memberikan dampak ekonomi yang luas dan inklusif.
Pemerintah Provinsi Kaltim melihat sektor perikanan sebagai
salah satu pilar pembangunan ekonomi nonmigas. Di tengah upaya diversifikasi
ekonomi, perikanan menjadi sektor yang menjanjikan karena potensi alam yang
melimpah dan permintaan pasar yang terus meningkat. Dengan dukungan kebijakan
yang tepat, investasi yang berkelanjutan, dan sinergi antara pemerintah, pelaku
usaha, dan masyarakat, sektor ini diyakini mampu menjadi motor pertumbuhan
ekonomi daerah.
Ke depan, DKP Kaltim berencana memperkuat sistem informasi
ekspor, memperluas kerja sama internasional, dan mendorong inovasi produk
berbasis teknologi. Digitalisasi dalam rantai pasok, pemanfaatan big data untuk
analisis pasar, serta promosi produk melalui platform global menjadi bagian
dari strategi modernisasi sektor perikanan.
Udang windu, sebagai ikon ekspor perikanan Kaltim, bukan
hanya komoditas ekonomi, tetapi juga simbol keberhasilan daerah dalam mengelola
potensi laut secara produktif dan berkelanjutan. Dengan terus menjaga kualitas,
memperluas pasar, dan mengembangkan produk baru, Kaltim berada di jalur yang
tepat untuk menjadikan sektor perikanan sebagai kekuatan utama dalam
pembangunan ekonomi dan ketahanan pangan nasional.







