SAMARINDA — Di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan
(karhutla) yang terus menghantui Kalimantan Timur, Gubernur Rudy Mas'ud
menegaskan bahwa pendekatan berbasis data akurat menjadi kunci utama dalam
strategi pencegahan. Dengan status siaga karhutla yang masih melekat, Kaltim
kini terus memantau 66 titik panas yang tersebar di sejumlah wilayah rawan.
Berbicara dalam Apel Siaga dan Jambore Karhutla yang digelar di Samarinda pada Rabu (6/8/2025), Rudy mengajak seluruh elemen, dari pemerintah pusat hingga masyarakat, untuk bahu-membahu menghadapi potensi bencana ekologis yang tidak hanya mengancam kelestarian alam, tetapi juga masa depan generasi mendatang.
“Pendekatan berbasis data ini bukan sekadar jargon. Ini adalah langkah konkrit untuk menjaga Kaltim tetap aman. Data akurat akan memandu kita dalam menentukan prioritas langkah pencegahan, penanganan, dan mitigasi,” ujar Rudy di hadapan ratusan personel gabungan dan relawan yang mengikuti apel tersebut.
Rudy menegaskan, komitmen menjaga lingkungan bukan semata urusan jangka pendek. Ia menyebutkan bahwa setiap upaya pencegahan karhutla adalah investasi jangka panjang untuk menyelamatkan kehidupan anak cucu kelak. “Ketika kita bicara soal karhutla, kita tidak hanya membahas kepulan asap atau lahan yang terbakar. Kita bicara tentang hak hidup generasi masa depan atas lingkungan yang sehat dan lestari,” tegasnya.
Ia juga memberikan apresiasi kepada pemerintah pusat, khususnya Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, yang menurutnya telah menunjukkan keseriusan menangani isu karhutla. Kunjungan kerja Menteri dan Wakil Menteri Kehutanan ke berbagai provinsi rawan karhutla, termasuk Sumatera dan Kalimantan, disebut Rudy sebagai bentuk perhatian nyata yang harus diikuti dengan tindakan kolaboratif di lapangan.
“Kunjungan ini bukan sekadar seremonial. Ini adalah wujud nyata bahwa pemerintah pusat dan daerah memiliki misi yang sama: menyelamatkan bumi kita dari bencana yang bisa dicegah,” katanya.
Kesiapan Alat dan Personel Jadi Andalan di Lapangan
Dalam apel tersebut, Rudy turut meninjau kesiapan personel dan peralatan yang dimiliki tim gabungan penanggulangan karhutla di Kaltim. Ia menyebut, meskipun ancaman karhutla masih berada di level siaga, kesiapsiagaan tidak boleh mengendur.
Berbagai perangkat modern diperlihatkan dalam apel tersebut, mulai dari pompa apung, pompa jinjing, pompa panggul, hingga kendaraan taktis dengan kapasitas angkut air sebesar 1.000 liter yang dirancang mampu menembus medan sulit. Selain itu, armada truk tangki berkapasitas hingga 10.000 liter juga disiagakan untuk mendukung upaya pemadaman di lokasi-lokasi kritis.
“Alat-alat ini adalah tulang punggung kita di lapangan. Namun, di balik peralatan canggih, kesiapan mental dan semangat personel di lapangan yang menjadi penentu keberhasilan,” ujar Rudy.
Ia mengingatkan bahwa prediksi musim kemarau panjang yang diperkirakan akan berlangsung hingga September mendatang menjadi tantangan tersendiri bagi Kaltim. Oleh sebab itu, Rudy menginstruksikan agar semua pihak terus meningkatkan kewaspadaan dan tidak terlena meski saat ini status siaga belum berubah menjadi darurat.
Kekeringan di Mahakam Ulu Jadi Alarm Ancaman Baru
Di samping karhutla, Rudy juga menyoroti tantangan lain yang tengah dihadapi Pemprov Kaltim, yakni bencana kekeringan yang melanda Kabupaten Mahakam Ulu. Kondisi ini semakin memprihatinkan setelah aliran Sungai Mahakam yang selama ini menjadi jalur utama akses logistik terputus akibat air surut drastis.
“Hari ini, di Mahakam Ulu terjadi kekeringan parah. Sungai Mahakam, yang selama ini menjadi urat nadi transportasi, kering dan nyaris tidak bisa dilayari. Kami sedikit keteteran untuk segera mengirimkan bantuan darurat, terutama beras dan kebutuhan pokok lainnya,” ungkap Rudy.
Sebagai langkah jangka panjang, Rudy menyatakan bahwa Pemprov Kaltim bersama pemerintah kabupaten tengah mempercepat pembangunan akses jalan darat yang menghubungkan Mahakam Ulu dengan Kabupaten Kutai Barat. Jalan darat tersebut diharapkan mampu menjadi solusi permanen bagi permasalahan isolasi yang selama ini menjadi kendala utama dalam penanganan bencana di wilayah tersebut.
“Kami tidak bisa terus-menerus bergantung pada sungai. Jalan darat harus segera dituntaskan agar Mahakam Ulu tidak lagi terjebak dalam siklus keterisolasian setiap musim kemarau tiba,” tegas Rudy.
Kolaborasi Adalah Kunci
Wakil Menteri Kehutanan, Sulaiman Umar Siddiq, yang turut hadir dalam apel siaga tersebut, menegaskan kembali komitmen pemerintah pusat untuk terus berkolaborasi dengan pemerintah daerah dalam menghadapi ancaman karhutla. Menurutnya, penanganan karhutla bukanlah tugas satu lembaga saja, melainkan tanggung jawab bersama yang memerlukan sinergi dari berbagai pihak.
“Kolaborasi ini adalah kunci, sesuai dengan arahan dan perhatian khusus dari Bapak Presiden Prabowo Subianto yang sangat menaruh perhatian terhadap isu lingkungan, termasuk karhutla,” ujar Sulaiman.
Ia juga menyebut bahwa pemerintah pusat terus mengembangkan sistem monitoring berbasis teknologi untuk memastikan data titik panas dapat dipantau secara real-time dan respons cepat dapat dilakukan di lapangan.
“Data adalah kekuatan kita. Dengan data yang akurat, kita bisa bergerak lebih cepat dan tepat sasaran,” ujarnya.
Pentingnya Peran Masyarakat
Baik Rudy maupun Sulaiman menegaskan bahwa sebesar apapun upaya pemerintah, pencegahan karhutla tidak akan berhasil tanpa keterlibatan masyarakat. Rudy mengajak masyarakat Kaltim untuk menjadi garda terdepan dalam menjaga lingkungan, termasuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, serta segera melaporkan jika melihat potensi kebakaran di sekitar mereka.
“Ini tanggung jawab kita bersama. Karhutla tidak memandang siapa, dampaknya akan dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Maka mari kita jaga hutan kita, jaga bumi kita,” seru Rudy di akhir pidatonya.







