Kalimantan Barat Luncurkan Konverter Kit ABG: Inovasi Energi Lokal Menuju Efisiensi dan Kemandirian
Di tengah tantangan global terkait krisis energi dan
tuntutan transisi menuju sumber daya yang lebih ramah lingkungan, Kalimantan
Barat mengambil langkah progresif dengan meluncurkan teknologi konverter kit
Amin Bensin dan Gas (ABG). Inovasi ini bukan sekadar alat mekanis, melainkan
simbol kebangkitan teknologi lokal yang menjawab kebutuhan masyarakat akan
efisiensi bahan bakar, kemandirian energi, dan keberlanjutan lingkungan.
Peluncuran resmi konverter kit ABG berlangsung di tepian
Sungai Kapuas, ikon geografis dan ekonomi Kalimantan Barat. Acara tersebut
dihadiri oleh Wakil Gubernur Kalbar, Krisantus Kurniawan, yang secara langsung
menguji performa speedboat berbahan bakar gas hasil konversi. Dalam uji coba
tersebut, Krisantus menyatakan bahwa performa mesin tidak mengalami penurunan
meski menggunakan LPG, bahkan menunjukkan efisiensi yang signifikan
dibandingkan penggunaan bensin atau pertalite.
“Saya sudah coba sendiri. Tidak ada bedanya dari segi
tenaga, tapi hematnya luar biasa. Teknologi ini harus segera dipatenkan agar
tidak diklaim pihak lain. Ini karya anak Kalbar yang layak mendapat pengakuan
nasional bahkan internasional,” ujar Krisantus dengan antusias.
Konverter kit ABG dirancang untuk mengubah mesin bensin
empat tak menjadi mesin berbahan bakar gas dengan sistem yang sederhana, aman,
dan mudah dipasang. Teknologi ini dapat diterapkan pada berbagai jenis mesin,
mulai dari speedboat nelayan, kendaraan angkutan ringan, hingga mesin pertanian
dan peralatan industri kecil. Dengan satu tabung LPG non-subsidi berukuran lima
kilogram, nelayan dapat menempuh jarak yang setara dengan penggunaan 19–20
liter pertalite, menghasilkan penghematan biaya operasional hingga 55 persen.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kalbar, Frans Zeno,
menjelaskan bahwa konverter kit ABG merupakan hasil pengembangan selama lebih
dari satu dekade. Kini, teknologi tersebut telah mencapai generasi kesembilan,
dengan sistem keamanan yang telah diuji secara ketat. “Kami telah melakukan uji
coba di berbagai wilayah pesisir dan pedalaman. Hasilnya konsisten: efisien,
aman, dan sangat membantu masyarakat dalam mengurangi beban biaya bahan bakar,”
ungkap Frans.
Di kampung-kampung nelayan seperti di pesisir Sambas,
Ketapang, dan Kayong Utara, mesin berbahan bakar gas mulai menggantikan mesin
lama yang boros dan mahal. Para nelayan menyambut baik teknologi ini karena
memungkinkan mereka tetap melaut meski harga BBM naik. Bahkan, beberapa mesin
tua yang sebelumnya tidak digunakan karena biaya operasional tinggi kini
dihidupkan kembali berkat konverter kit ABG.
Guru Besar Institut Teknologi Bandung, Prof. Dr. Dradjad
Irianto, turut memberikan apresiasi terhadap inovasi ini. Menurutnya, konverter
kit ABG merupakan solusi nyata dalam mendukung target net zero emission
Indonesia pada tahun 2060. “Teknologi ini bukan hanya efisien, tetapi juga
mendukung pengurangan emisi karbon. Ini sejalan dengan komitmen global dalam
Paris Agreement 2015 dan sangat relevan untuk diterapkan di daerah-daerah yang
memiliki ketergantungan tinggi terhadap transportasi air,” jelasnya.
Sang inovator di balik teknologi ini, Amin, adalah sosok
yang telah mendedikasikan lebih dari 10 tahun hidupnya untuk mengembangkan
sistem konversi bahan bakar yang praktis dan terjangkau. Ia menyebut program
ini sebagai “Tuntung”—sebuah filosofi lokal yang berarti semua pihak mendapat
keuntungan. “Masyarakat hemat, pemerintah mengurangi beban subsidi, Pertamina
tetap mendapat keuntungan dari penjualan LPG, dan sektor swasta bisa ikut
berperan dalam distribusi dan produksi,” terang Amin.
Amin juga menekankan bahwa Kalimantan Barat dipilih sebagai
lokasi peluncuran karena karakteristik geografisnya yang unik. Dengan ribuan
kilometer sungai dan danau, serta masyarakat yang sangat bergantung pada
transportasi air, Kalbar menjadi laboratorium ideal untuk penerapan teknologi
konversi bahan bakar. “Kami ingin menjadikan Kalbar sebagai pusat produksi dan
pengembangan teknologi energi alternatif berbasis gas,” tambahnya.
Selain sektor perikanan, teknologi ini juga mulai diterapkan
dalam bidang pertanian. Di daerah pedalaman seperti Kapuas Hulu dan Melawi,
petani menggunakan mesin berbahan bakar gas untuk mengolah lahan, memompa air,
dan menggiling hasil panen. Efisiensi yang ditawarkan membuka peluang baru bagi
petani untuk meningkatkan produktivitas tanpa harus terbebani oleh biaya bahan
bakar yang tinggi.
Pemerintah Provinsi Kalbar berencana untuk memperluas
sosialisasi dan pelatihan penggunaan konverter kit ABG ke seluruh kabupaten dan
kota. Program ini akan melibatkan dinas teknis, akademisi, dan komunitas lokal
untuk memastikan bahwa teknologi ini dapat diakses dan dimanfaatkan secara
luas. “Kami tidak ingin teknologi ini hanya berhenti di level prototipe. Harus
ada ekosistem yang mendukung, mulai dari produksi, distribusi, pelatihan,
hingga layanan purna jual,” ujar Krisantus.
Dalam jangka panjang, pemerintah juga membuka peluang kerja
sama dengan sektor swasta dan investor nasional untuk mendirikan pabrik
perakitan konverter kit di Kalbar. Hal ini diharapkan dapat menciptakan
lapangan kerja baru, meningkatkan kapasitas produksi, dan mempercepat adopsi
teknologi di seluruh Indonesia.
Peluncuran konverter kit ABG menjadi bukti bahwa inovasi
lokal dapat menjawab tantangan global. Di tengah tekanan harga energi dan
tuntutan keberlanjutan, Kalimantan Barat menunjukkan bahwa solusi tidak harus
datang dari luar negeri. Dengan semangat gotong royong, keberanian untuk
mencoba, dan dukungan kebijakan yang tepat, teknologi seperti ABG dapat menjadi
tonggak penting dalam transformasi energi nasional.
Lebih dari sekadar alat, konverter kit ABG adalah cerminan
dari semangat kemandirian, keberlanjutan, dan kecintaan terhadap tanah air. Di
tangan masyarakat Kalbar, teknologi ini bukan hanya menggerakkan mesin, tetapi
juga harapan akan masa depan yang lebih hemat, bersih, dan berdaya. Dari tepian
Sungai Kapuas, suara mesin berbahan bakar gas kini bergema sebagai simbol
perubahan—bahwa energi masa depan bisa dimulai dari desa, dari sungai, dan dari
tangan anak bangsa sendiri.