Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Industri Pengolahan Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kaltim Hingga 4,69 Persen

 

Ilustrasi AI

SAMARINDA – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kalimantan Timur mencatat perekonomian daerah masih mampu tumbuh stabil meski di tengah tekanan perlambatan sektor primer. Pada triwulan II 2025, pertumbuhan ekonomi Kaltim tercatat sebesar 4,69 persen secara tahunan (year-on-year), dengan nilai produk domestik regional bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp 221,77 triliun. Sementara itu, PDRB atas dasar harga konstan berada di angka Rp 147,96 triliun.

Kepala BI Kaltim, Budi Widihartanto, menjelaskan bahwa capaian ini menunjukkan daya tahan ekonomi Kaltim tetap terjaga berkat dukungan kuat sektor sekunder. “Meski pertumbuhan ekonomi Kaltim lebih rendah ketimbang rata-rata regional Kalimantan, namun Kaltim masih memegang pangsa PDRB terbesar se-Kalimantan, didorong oleh sektor sekunder di tengah pelemahan sektor primer,” ujarnya, Jumat (15/8/2025).


Industri Pengolahan Jadi Penopang Pertumbuhan

Budi menyebut sektor industri pengolahan menjadi motor penggerak utama. Produksi pupuk, crude palm oil (CPO), serta bahan kimia berkontribusi besar terhadap kenaikan PDRB. Selain itu, sektor pertanian juga menunjukkan kinerja positif dengan meningkatnya hasil panen hortikultura dan tandan buah segar (TBS), yang terbantu oleh kondisi curah hujan yang optimal sepanjang triwulan II.

“Lapangan usaha industri pengolahan dan pertanian mampu memberikan daya dorong tambahan sehingga ekonomi Kaltim tidak terjebak dalam perlambatan yang lebih dalam,” kata Budi.


Ekspor Masih Jadi Motor Utama

Dari sisi perdagangan luar negeri, ekspor tetap memegang peranan besar dengan kontribusi sekitar 40 persen terhadap PDRB. Batu bara masih mendominasi dengan porsi lebih dari 60 persen dari total ekspor. Adapun pasar terbesar adalah China, disusul India, yang menjadi tujuan utama komoditas unggulan tersebut.

Posisi ini membuat Kalimantan Timur berada di peringkat kelima nasional untuk ekspor nonmigas, serta peringkat ketiga untuk ekspor migas. Dengan pangsa ekspor yang signifikan, Kaltim masih memiliki peran vital dalam neraca perdagangan Indonesia secara keseluruhan.


Pertumbuhan Masih Lebih Baik dari Triwulan Sebelumnya

Walaupun pertumbuhan triwulan II 2025 tercatat lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional maupun regional Kalimantan, Budi menegaskan bahwa capaian ini tetap positif. “Pertumbuhan Kaltim lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh lapangan usaha industri pengolahan, lapangan usaha pertanian, serta ekspor,” jelasnya.

Ia menambahkan, perkembangan ekonomi Kaltim dalam setahun terakhir masih menunjukkan daya saing yang solid. Bahkan, pada periode 2023–2024, pertumbuhan Kaltim sempat melampaui capaian nasional maupun rata-rata regional Kalimantan, berkat masifnya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang mendorong aktivitas ekonomi di berbagai sektor.


Pembangunan IKN Jadi Faktor Pendorong

BI mencatat bahwa geliat pembangunan IKN telah menjadi salah satu katalis penting yang menjaga momentum pertumbuhan Kaltim. Kehadiran proyek strategis nasional itu mendorong investasi, membuka lapangan pekerjaan, serta meningkatkan aktivitas di sektor jasa, konstruksi, dan perdagangan.

“Pembangunan IKN masih menjadi salah satu faktor penopang daya tahan ekonomi Kaltim. Aktivitas konstruksi, jasa transportasi, hingga sektor perumahan ikut bergairah dengan adanya proyek ini,” ungkap Budi.

Meski mencatat pertumbuhan positif, BI Kaltim menilai masih ada sejumlah tantangan yang perlu diwaspadai. Salah satunya adalah ketergantungan tinggi pada komoditas primer, terutama batu bara, yang rentan terhadap fluktuasi harga global. Selain itu, perlu adanya diversifikasi ekonomi agar pertumbuhan lebih berkelanjutan.

Menurut Budi, penguatan sektor pengolahan, pengembangan pertanian berkelanjutan, serta peningkatan kapasitas industri lokal menjadi kunci untuk memperkokoh fondasi ekonomi Kaltim. Dengan begitu, Kaltim tidak hanya bergantung pada ekspor batu bara, tetapi juga mampu meningkatkan nilai tambah dari komoditas yang dihasilkan.

Secara keseluruhan, BI optimistis perekonomian Kalimantan Timur masih berada di jalur positif hingga akhir 2025. Kombinasi dari industri pengolahan, pertanian, serta ekspor diharapkan terus menopang kinerja PDRB. Sementara itu, proyek pembangunan IKN diyakini akan memberikan efek berganda (multiplier effect) yang semakin kuat pada sektor jasa, perdagangan, dan investasi.

“Dengan peran strategis Kaltim sebagai lumbung energi sekaligus daerah penopang IKN, kami melihat prospek ekonomi tetap cerah sepanjang 2025,” tutup Budi.

 

Also Read
Latest News
  • Industri Pengolahan Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kaltim Hingga 4,69 Persen
  • Industri Pengolahan Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kaltim Hingga 4,69 Persen
  • Industri Pengolahan Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kaltim Hingga 4,69 Persen
  • Industri Pengolahan Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kaltim Hingga 4,69 Persen
  • Industri Pengolahan Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kaltim Hingga 4,69 Persen
  • Industri Pengolahan Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kaltim Hingga 4,69 Persen
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad