Ad
Scroll untuk melanjutkan membaca
Ad

Desakan Evaluasi IKN Menguat, DPR Peringatkan Potensi Beban Ekonomi untuk Rakyat

 

Ilustrasi AI

Gelombang kritik terhadap rencana pemindahan ibu kota negara dari Jakarta ke Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, kembali mencuat setelah Anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono (BHS), secara tegas menyuarakan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap proyek ambisius tersebut. Dalam pandangannya, keputusan strategis yang menyangkut masa depan pusat pemerintahan ini tak boleh diambil secara gegabah tanpa mengkaji dampak luas yang mungkin menimpa masyarakat, khususnya dalam aspek biaya hidup, aksesibilitas transportasi, dan kesiapan infrastruktur pendukung.

BHS memulai pernyataannya dengan membandingkan Jakarta sebagai ibu kota yang saat ini berfungsi optimal bukan hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi juga sebagai simpul pertemuan ekonomi, bisnis, dan sosial dengan pergerakan manusia yang mencapai puluhan juta jiwa setiap harinya. Menurutnya, Jakarta telah membangun jaringan transportasi publik yang memadai mulai dari TransJakarta, KRL, MRT, LRT, taksi online, hingga akses pejalan kaki yang relatif mudah. Fasilitas ini memungkinkan warga dan pendatang untuk berpindah dari satu titik ke titik lain dengan efisien dan terjangkau.

Namun, ia menegaskan bahwa kondisi tersebut akan jauh berbeda jika pusat pemerintahan dipindahkan ke IKN. Dengan letak geografis yang berada di Kalimantan Timur, akses menuju pusat pemerintahan baru hampir pasti mengandalkan moda transportasi udara atau laut, bukan sekadar jalur darat atau komuter jarak dekat. Hal ini akan menciptakan lonjakan biaya perjalanan bagi masyarakat maupun pelaku bisnis yang membutuhkan interaksi langsung dengan pemerintah atau lembaga strategis di IKN.

BHS mengilustrasikan, jika ada sekitar 2 juta orang yang harus bepergian ke IKN dengan biaya transportasi udara sebesar Rp1,5 juta per orang untuk sekali jalan, maka total pengeluaran masyarakat bisa mencapai Rp3 triliun per hari hanya untuk transportasi. Dan angka fantastis ini belum memasukkan kebutuhan akomodasi penginapan, konsumsi, serta biaya lain yang pasti menyertai perjalanan tersebut. Dalam hitungan tahun, beban finansial yang ditanggung masyarakat bisa melesat hingga triliunan rupiah—sebuah angka yang menurutnya terlalu besar untuk dipikul rakyat hanya demi memfasilitasi akses ke pusat pemerintahan.

Selain soal biaya, ia juga mengungkap kelemahan mendasar pada kesiapan infrastruktur transportasi di Kalimantan Timur. Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan di Balikpapan saat ini hanya memiliki kapasitas parkir 30 pesawat. Sementara itu, Bandara IKN yang direncanakan dibangun justru diproyeksikan hanya mampu menampung sekitar 600 penumpang per hari, kapasitas yang dianggap jauh dari cukup untuk melayani jutaan masyarakat dari seluruh penjuru negeri.

Persoalan akan semakin rumit bagi wilayah-wilayah yang jauh dari Kalimantan Timur seperti Sumatera, Sulawesi, Bali, dan Nusa Tenggara Timur. Menurut BHS, pemerintah harus menjawab pertanyaan mendasar: transportasi apa yang akan digunakan, di mana para penumpang akan ditampung, dan apakah infrastruktur yang ada saat ini benar-benar mampu mengakomodasi lonjakan arus manusia yang akan terjadi?

BHS menekankan bahwa rakyat Indonesia tidak boleh dipersulit atau bahkan dikorbankan demi ambisi pembangunan ibu kota baru. Kebijakan yang menyangkut IKN, kata dia, harus berbasis pada kepentingan rakyat secara luas, bukan hanya sekadar proyek simbolik yang terlihat megah di atas kertas. “Pemerintah diharapkan segera melakukan evaluasi dan kajian yang cermat, lalu mengambil langkah terbaik agar rakyat tidak menjadi korban kebijakan pemindahan IKN yang justru bisa menyulitkan dan menyengsarakan mereka,” ujarnya menutup pernyataan.

Pernyataan BHS ini seolah menjadi pengingat bahwa di balik megahnya rencana pembangunan IKN sebagai kota masa depan, ada tantangan nyata yang menyangkut kesejahteraan rakyat, efisiensi ekonomi, dan keberlanjutan infrastruktur. Perdebatan ini diperkirakan akan terus menghangat, terlebih menjelang fase-fase penting pembangunan IKN yang membutuhkan dukungan anggaran, sumber daya, dan legitimasi publik yang kuat. Jika evaluasi menyeluruh benar-benar dilakukan, hasilnya bisa menjadi penentu apakah proyek ini akan tetap berjalan sesuai rencana atau mengalami penyesuaian besar demi menghindari dampak negatif yang lebih luas.

Also Read
Tag:
Latest News
  • Desakan Evaluasi IKN Menguat, DPR Peringatkan Potensi Beban Ekonomi untuk Rakyat
  • Desakan Evaluasi IKN Menguat, DPR Peringatkan Potensi Beban Ekonomi untuk Rakyat
  • Desakan Evaluasi IKN Menguat, DPR Peringatkan Potensi Beban Ekonomi untuk Rakyat
  • Desakan Evaluasi IKN Menguat, DPR Peringatkan Potensi Beban Ekonomi untuk Rakyat
  • Desakan Evaluasi IKN Menguat, DPR Peringatkan Potensi Beban Ekonomi untuk Rakyat
  • Desakan Evaluasi IKN Menguat, DPR Peringatkan Potensi Beban Ekonomi untuk Rakyat
Post a Comment
Ad
Ad
Tutup Iklan
Ad