Balikpapan - Dinas Perpustakaan dan Arsip atau Dispustakar Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, secara resmi menggelar pameran arsip sejarah yang menampilkan berbagai jejak perjalanan kota dari masa ke masa. Langkah strategis ini dihadirkan sebagai upaya nyata untuk mendekatkan literasi sejarah kepada masyarakat luas, terutama generasi muda yang kerap melupakan akar identitas daerah mereka sendiri. Di tengah pesatnya pembangunan fisik dan modernisasi yang melanda kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara ini, kehadiran pameran arsip memberikan ruang kontemplasi bagi publik agar tetap mengenal sejarah terbentuknya kota. Kepala Dispustakar Balikpapan, Neny Dwi Winahyu, menjelaskan bahwa seluruh dokumen visual maupun teks yang dipamerkan di kantor mereka merupakan arsip sekunder yang sangat informatif. Sementara itu, dokumen primer atau naskah asli yang memiliki nilai autentik tinggi tetap disimpan secara aman di Arsip Nasional Republik Indonesia demi kelestarian jangka panjang. Apa yang ditampilkan saat ini baru mencakup sebagian kecil dari koleksi yang tersedia, mengingat pihak penyelenggara telah menyiapkan mekanisme rotasi materi pameran secara berkala guna menjaga daya tarik pengunjung. Melalui pola pembaruan koleksi yang ditargetkan berlangsung setiap satu hingga dua bulan sekali, warga yang datang berkunjung di kemudian hari akan selalu menemukan narasi sejarah dengan periode yang berbeda. Kebijakan ini dinilai sangat efektif untuk menumbuhkan minat kunjungan berulang dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga para peneliti independen. Selain memaksimalkan koleksi nasional dari ANRI, pihak Dispustakar juga tidak menutup mata terhadap potensi sejarah yang tersimpan di luar negeri, termasuk di negara Belanda yang memiliki rekam jejak panjang masa kolonial di Nusantara. Proses penelusuran arsip lintas negara tersebut tentu tidak dilakukan sembarangan, melainkan melalui koordinasi yang ketat dengan ANRI serta melibatkan pemerintah pusat mengingat kompleksitas kerja sama internasional. Upaya kolaboratif ini menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam merajut kembali serpihan sejarah yang mungkin selama ini tercecer atau luput dari perhatian publik. Tidak hanya menggandeng lembaga tinggi negara, Dispustakar Balikpapan juga merangkul para sejarawan lokal serta komunitas budaya yang selama ini konsisten merawat ingatan kolektif masyarakat. Salah satu figur yang dilibatkan adalah pegiat sejarah lokal yang aktif mengelola Rumah Dahor, sebuah pusat dokumentasi sekaligus ruang kegiatan budaya yang berfokus pada pelestarian sejarah kolonial di Balikpapan. Rumah Dahor sendiri selama ini telah lama dikenal sebagai ruang publik yang interaktif dalam mengumpulkan, merawat, dan membagikan berbagai arsip kuno, foto tempo dulu, serta cerita tutur lokal kepada masyarakat umum. Keterlibatan para pegiat akar rumput ini memastikan bahwa narasi sejarah yang disampaikan tidak hanya kaku secara akademis, tetapi juga memiliki kedekatan emosional dengan keseharian warga. Antusiasme masyarakat terhadap pameran arsip perdana ini ternyata cukup tinggi, terbukti dari kehadiran beberapa rombongan pelajar yang datang sehari setelah pintu pameran dibuka untuk umum. Kehadiran para siswa sekolah ini menandakan bahwa materi sejarah lokal memiliki daya tarik tersendiri apabila dikemas dan disajikan dengan cara yang edukatif serta mudah diakses. Pameran arsip sejarah ini terbuka secara gratis bagi seluruh lapisan masyarakat, mulai dari pelajar tingkat dasar hingga menengah, akademisi, serta komunitas pegiat sejarah. Ruang pameran dapat dikunjungi setiap hari kerja dari Senin hingga Jumat, mengikuti jam operasional kantor Dispustakar Balikpapan. Keberadaan pameran ini sangat sejalan dengan visi besar Balikpapan sebagai kota penyangga utama IKN, di mana pertumbuhan ekonomi dan modernisasi infrastruktur harus berjalan seiring dengan pelestarian warisan budaya. Merawat arsip pada dasarnya adalah upaya merawat ingatan bersama, sebuah proses penting agar kisah-kisah perjuangan, peluh, dan air mata para pendahulu tetap hidup dalam sanubari generasi penerus. Dengan mengenali dari mana kota ini berasal, masyarakat diharapkan memiliki rasa memiliki yang lebih kuat untuk menjaga dan membangun Balikpapan ke arah yang jauh lebih baik di masa depan. Pemerintah Kota Balikpapan berharap inisiatif literasi arsip ini tidak berhenti pada kegiatan pameran temporer semata, melainkan dapat berkembang menjadi pusat studi sejarah visual yang permanen dan membanggakan bagi seluruh warga Kalimantan Timur.
Menelusuri Jejak Masa Lalu Lewat Pameran Arsip Sejarah di Kota Minyak
- Smaller
- Default
- Bigger






